Tenang, Jangan Takut dan Jangan Khawatir Hanya Allah yang Memberi Perlindungan

0 85

Tenang, jangan takut dan jangan khawatir, Tuhan pasti bersama kita. Itulah ungkapan Nabi Muhammad saat berada dalam posisi yang sangat terpojok. Ia tidak dapat lari baik ke depan, ke atas atau ke bawah. Ia bersama Abu Bakar berada dalam sebuah gua di puncak sebuah bukit bebatuan yang sangat tinggi.

Mereka berdua tidak mungkin ke luar karena di luar banyak sekali musuh yang mengejarnya. Musuh yang dipimpin Khalid bin Walid, direncanakan kaum kafir Quraisy untuk dibunuh. Abu Bakar as-Shidiq yang menemaninya saat melaksanakan hijrah, tak kuasa meneteskan air mata yang menyaksikan bagaimana ganasnya kaum Arab jahiliyah terhadap perjalanan kerasulan Muhammad. Berbagai fitnah yang dijalankan kaum jahiliyah kepadanya, hanya dibalas Nabi dengan ungkapan: Dan hanya Allah-lah yang memberi perlindungan atas segala apapun yang terjadi.

Mengapa Nabi yakin bahwa hanya Allah yang menjadi pelindung dan penolongnya. Ia tidak terjebak menempatkan berbagai atribut kemanusiaan sebagai pelindung dirinya, bahkan tidak juga menggunakan para Malaikat dan Jin yang selalu memberi tawaran perlindungan kepada dirinya.  Hal itu terjadi karena ia hanya menyembah satu Allah. Ia tidak menyembah banyak Allah baik dalam Dzatiyah, Sifatiyah dan af’aliyahNya. Tuhan yang Esa selalu menjadi tetesan darah dalam setiap nadi-nadi yang dimilikinya.

Penyebutan Tuhan yang ahad, oleh Rasul Muhammad bukan saja dibentuk dan diimplementasikan dalam bentuk ritualisme. Allah yang Maha Tunggal itu juga ditempatkan dalam spektrum kesemestaan hidup. Ia mencurahkan seluruh rasa cinta tulusnya hanya kepada Tuhannya yang ahad. Itulah mengapa ia ditempatkan sebagai kekasih Allah dan menjadi pemimpin seganap Nabi dan bahkan menjadi kata kunci penciptaan jagad raya melalui nur-nya sebagaimana digagas al Jilli dalam teori mirar-nya.

Muhammad Menjadi Cermin Tunggal dalam Konteks Ke-Islaman

Karena itu, Muhammad-lah yang menjadi cermin tunggal dalam konteks ke-Islaman. Ia telah menunjukkan secara eksistensial bentuk rasa cinta kemanusiaan kepada seluruh hamba-hamba yang diciptakan Tuhan. Ia mewakili bentuk real bagaiamana al Qur’an dihidupkan dan bagaimana dirinya mengkreasi hidup atas nama cinta.

Cintanya itu, lurus dan murni untuk menunjukkan betapa Tuhan Yang Tunggal itu Maha Besar. Pantaslah kalau kemudian Nabi Muhamad selalu berkata dengan nalar wahyunya, hanya kepad-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan. Mengapa demikian? Sebab secara nalar theologis, adakah yang layak kita sembah dan layak kita mintai pertolongan, yang jawabannya sejelas seperti jelasnya jawaban yang akan diberi Tuhan yang tunggal. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.