Allah Sebagai Pemilik Mutlak

0 133

Fungsi  Kekayaan  

Di dalam al-Qur’an, kata al-mâl (المال) yang disebut 87 kali, terdapat dalam 79 ayat dalam 38 surat. Dari jumlah pengulangan tersebut,  kata al-mâl,  25 kali disebut dalam bentuk tunggal dan 62 kali dalam bentuk jamak. Secara konteks, kata tersebut dapat diklasifikasikan menjadi beberapa konteks;

Dinisbahkan kepada anak yatim

Dalam konteks ini, al-Qur’an melarang manusia  menguasai kekayaan anak yatim, jika penguasaannya hanya menambah kesengsaraan bagi si yatim. Kalau penguasaan tersebut harus dilakukan oleh seseorang, harus disemangati tolong menolong atas kelemahan pemiliknya (si yatim).

Dinisbahkan kepada Allah sebagai pemilik mutlak

Penyandaran kata al-mâl kepada Allah dalam konteks ini, untuk memberi penyadaran kepada orang kaya bahwa kekayaan dan apa saja yang berada di bawah kekuasaannya, adalah milik Allah yang harus diberikan sebagiannya kepada kelompok yang menghajatkan.

Sebagai objek kebajikan (البر)

Hubungan manusia dengan kekayaan bukan sekadar hubungan mutual (ketergantungan), khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik biologik, tetapi juga secara fungsional. Artinya, ikatan manusia dengan kekayaan bukan sekadar ketergantungan terhadap sesuatu, tetapi manusia mempunyai tanggung jawab keberlangsungan fungsi harta (al-Baqarah/2: 177). Konteks ini menjelaskan bahwa   kebajikan (البر) yang dapat mengantarkan kedekatan manusia kepada Allah, bukan sekadar menghadapkan wajah dalam ibadah yang tanpa makna. Tetapi kebajikan yang seharusnya adalah segala yang mengantar kepada kebahagiaan seperti keimanan kepada Allah dan hari kemudian  kepada Malaikat, Kitab suci, dan para Nabi.

Sesuatu yang dibanggakan

Kekayaan merukan sesuatu yang dibanggakan oleh manusia dalam kehidupan.  Karena kekayaan bersentuhan dengan kehidupan. Al-Qur’an memandang orang yang membanggakan harta sebagai orang yang sombong dan tidak terhormat (al-Kahfi/18: 34). Ketika Nabi Sulaiman didatangi utusan Ratu Balqis yang memamerkan bawaannya, dia menantang bahwa kekayaan yang mereka bawa itu tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya (al-Naml/27: 36). Kebanggaan manusia terhadap harta, disejajarkan dengan kebanggaannya terhadap anak dan keturunan. Karena hal tersebut yang diupayakan manusia akan berakhir pada keturunan untuk melangsungkan regenerasi. Ketika  manusia gagal mendapatkan kekayaan, ia tega  membatalkan keturunannya dengan membunuh anaknya (al-Isrâ’: 31).

Sebagai penyangga kehidupan

Isyarat al-Qur’an tentang kekayaan (المال),  kadang-kadang  mengaitkan kata tersebut dengan qatl/قتل  (pembunuhan) dan kadang-kadang dengan jihâd (جهاد). Konteks pertama dapat dibaca dalam Q.S. al-Nisâ’/4: 29.  Dalam konteks ini,  perkawinan baik secara serimoni maupun ideologi membutuhkan harta. Dalam serimoni, hal ini digunakan untuk biaya perkawinan dan mahar,  dalam ideologi kekayaan akan dijadikan penyangga kehidupan sebagai tanggung jawab terwujudnya keluarga bahagia (al-Baqarah/2: 195).

Sebagai penyangga stabilitas sosial

Harta memiliki peran penting untuk  menjaga stabilitas sosial,. Dalam konteks ini, kata al-mâl sering dikontekskan dengan kata jihâd, sabîlillâh, dan anfus (al-Taubah/9: 41). Al-Qur’an memerintahkan muslim berjuang di jalan Allah.  Dari redaksional ayat di atas, Allah seolah-olah memaksa muslim melakukan sesuatu yang memberatkan dan tidak menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu, al-Qur’an menegaskan bahwa perjuangan tersebut pada hakikatnya bukan untuk Allah dan Rasul-Nya,tetapi untuk kemaslahatan bagi yang diperintah. Kata jihâd yang dikaitkan dengan kata anfus  di samping kata amwâl, menunjuk upaya perjuangan untuk melindungi hak dan kemerdekaan manusia secara totalitas. Baik dari aspek nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga, pikiran, bahkan waktu dan tempat. Karena itu, mujâhid adalah  orang yang mempertahankan hak dengan mencurahkan seluruh kemampuannya dan bersedia berkorban apa yang ada pada dirinya untuk mempertahankan hak-hak tersebut.

Sebagai ujian (fitnah)

Al-Qur’an menyebut dua hal yang dikategorian sebgaia fitnah. Pertama adalah harta (amwâl), dan kedua adalah anak (aulâd) (al-Anfâl/8: 28).  Salah satu seruan Tuhan kepada mukmin adalah untuk menunaikan amnat terhadap kekayaan dan anak (al-Anfâl/8: 27). Kepemilikan Harta dan anak bisa jadi mengakibatkan seseorang enggan memenuhi seruan Tuhan karena takut miskin. Padahal kehidupan yang serukan adalah kehidupan yang mulia. Al-Qur’an mengobati sifat thama’, kikir dan rakus manusia dengan mengingatkan bahwa kekayaan di samping berfungsi sebagai penyangga dan kelangsungan hidup, juga sebagai ujian dan cobaan bagi pemiliknya. Oleh karenanya manusia jangan sampai lemah dalam menghadapi ujian, dan jangan sampai mengabaikan tanggung jawabnya terhadap pemanfaatan kekayaan sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu, ayat di atas diawali dengan redaksi “ketahuilah” untuk menekankan kepada mitra bicara betapa penting apa yang akan disampaikan oleh ayat tersebut agar tidak diremehkan dan diabaikan.

Tanggung jawab terhadap kekayaan bukan sekedar menjalankan fungsi sosial harta bagi orang lain yang membutuhkan, tetapi juga agar kekayaan dipelihara dan dikembangkan dengan usaha yang benar. Ujian terhadap harta menyangkut pada proses bagaimana mendapatkan dan bagaimana membelanjakannya. Ujian terhadap kekayaan bukan sekadar kekurangan, tetapi juga dalam kedaan kecukupan dan kelebihan.

Komentar
Memuat...