Allent dan Mell Saling Menyatakan Cinta | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 17

0 111

Saling Menyatakan Cinta: Tuch kan Lent, betapa ibuku sangat bangga saat melihat kita berjalan bersama. HP-nya langsung dimatikan. Ia tidak ingin mengganggu apa yang sedang kita rasakan. HP Mell kemudian bergetar dan dilihatnya ada SMS. Heem … Ibuku, aku sayang sama dia Lent. Aku tahu rasa semacam itu, justru saat aku bertemu kamu di Jepang. Aku hanya diuntungkan, suamiku akhirnya meninggal, tanpa pernah aku lukai.

Kamu harus tahu Lent, tiga hari sejak aku bertemu kamu di forum seminar Internasional di Tokyo Jepang, saling menyapa di bandara Osaka dan terbang bersama ke angkasa, hampir telah melumatkan seluruh cinta aku kepada suamiku. Aku yakin, jika dia tidak meninggal, nasibku akan sama seperti ibuku. Aku harus selalu memilih antara jujur atas rasa yang kumiliki dengan konsekwensi aku harus mengkhianati suamiku, atau, aku harus tetap setia kepada suamiku dan berkhianat terhadap hatiku.  Betapa sengsaranya aku. Sementara vonis sosial, pasti akan menempel kepadaku dengan citra yang sangat buruk.

Allent, tadi kamu bertanya, mengapa aku menangis? Karena, sejujurnya ketika kamu bercerita, kamu harus tahu, bahwa aku juga sama. Sebenarnya aku lama menyaksikan dan menghayati bagaimana ibuku memendam suatu assa dan rasa yang luar biasa dalam dan dia mampu menahannya dalam waktu yang demikian panjang.

Aku sama seperti ibuku, lahir sebagai wanita. Aku tahu bahwa betapa ibuku demikian dalam memendam suatu rasa yang kayaknya sangat sulit untuk dia lukiskan. Sulit untuk dia ungkapkan, apalagi untuk dicurhati kepada anggota keluarganya. Jujur ya …. Dulu, di hatiku, betapa aku marah kepada ibuku. Aku merasa bahwa ibuku telah mengkhianati cinta papahku yang demikian dalam mencintainya. Kemarahan bathinku, sangat tampak, ketika tanpa disengaja, aku menjumpai suatu tulisan yang demikian misterius, disimpan ibuku dalam tasnya yang misterius juga.

Lent, aku yakin tulisan itu, tidak ditunjukkan untuk suaminya atau bapakku. Mengapa? Karena Bapakku bukan penulis syair lagu. Bapakku adalah pekerja keras yang sangat tekun. Karena itu, aku yakin sekali lagi, bahwa tulisan itu, bukan untuk dirinya. Karena betapa aku menganggap tulisan itu sebagai sesuatu yang sangat penting, substansinya aku masih ingat sampai saat ini. Inilah tulisannya.

“Sayang … dengarkan apa yang ingin aku katakan kepadamu. Aku baru selesai membaca syair-syair dan puisi yang kau susun, yang tampaknya, dibuat saat kau sangat merindukan aku. Heeemh …

Pertama, syair dalam tulisanmu sangat indah, karena itu, aku mengagumi tulisanmu. Kedua, bahasanya sangat runtut. Karena itu, aku kagum terhadapnya.

Ketiga, isinya sangat menyentuh hatiku karena itu aku kagum juga. Keempat, ungkapannya sangat tenang dan tampak itu mengandung makna berasal dari perasaan terdalam kamu sendiri. Karena itu aku kagum ungkapannya dan kedalaman perasaannya.

Kelima, aku kagum atas syair-syair kamu karena ditulis oleh seorang yang kadung telah kuanggap segalanya bagiku. Karena itu, sekali lagi, aku kagum terhadap segala hal tentang kamu.

Dan yang paling aku kagumi, dari semua kekagumanku itu adalah bahwa fakta, syair-syair penuh rindu ini ditulis oleh seorang yang selalu mengatakan I love you padaku. Jika kamu lupa tidak mengatakannya, aku pasti balik lagi sebetapapun rumitnya, hanya karena ingin mengatakan I Love You/ Inilah kekagumanku pada tingkat yang sangat tinggi”.

Allent kamu harus tahu tulisan selanjutnya? Hai Allent … mengapa? Ko kamu diam? Ooooh iya Mell, teruskanlah kau bercerita. Aku sedang mengimaginasi tulisan yang sama dalam laci papahku. Isinya aku yakin sangat sama.Aku tahu, papahku beberapa kali menciptakan lirik lagu. Ia memang sangat mahir membuat narasi yang berisi gelora cinta. Lent tulisan berikutnya begini.

Alberta sayang …. apa yang membuat aku tidak dapat tidur dengan lelap dalam setiap malam yang aku lewati sebelum jam 12 malam. Sebab aku teringat tulisanmu yang mengatakan: “Ooooh My Love, jujur aku tak mungkin tidur sebelum datang ke Mihrab Cinta ini. Harus kuakui, aku kadang kedatangan tamu yang lama, sehingga mengganggu kebiasaanku untuk mendatangi mihrabku ini dalam waktu yang tidak terlampau malam. Beberapa tokoh masyarakat dan beberapa rekan bisnis kadang berkumpul di rumahku dalam waktu yang demikian panjang.

Jika suatu malam, mereka baru pulang pukul 11.40 malam, dan karenanya telah membuat aku sulit berjalan menemui mihrab cinta dalam waktu yang tidak terlalu malam itu, kupastikan aku akan tetap datang ke Mihrab Cinta itu, meski tubuhku demikian lemah dan letih. Mengapa aku harus melakukannya? Aku hanya ingin memastikan, bahwa betapa aku demikian tulus memandang kamu sebagai sosok yang bukan hanya sekedar telah memberi segenap isnpirasi, tetapi, membawa aku sering terbang ke alam tak berperi.

Berbagai photomu yang kusimpan dalam Mihrab Cinta itu, memang selalu terasa indah dan sangat sulit aku lupakan. Malam ini, dan malam-malam sebelumnya, dan tampaknya untuk malam seterusnya, aku akan mengabadikan Mihrab ini dengan baik. Aku akan mendatanginya selalu sebagai bukti bahwa betapa aku sangat mencintai kamu.

Kau membuat aku terpesona dan terbawa ke dalam aroma keindahan tak berperi. Mengapa? Mungkin karena kamu dikirim oleh wujud yang Indah juga, yakni Tuhan. Saat rasa ini menggumpal, aku ingin Tuhan bersamaku dan menjadi bentuk ekspresi ketuhananku kepda-Nya, sebetapapun malam ini telah merayap dengan jauh dan membuat aku menjadi lemah.

Dengan datang ke tempat ini, aku merasa memperoleh energi baru dalam hidup, meski tidak menyimpan apapun didalam loker di Mihrab itu. Sambil melihat photomu yang terus bergantung dalam Mihrab ini, di malam ini dan malam-malam yang lainnya, aku hanya ingin mengatakan kepadamu melalui photomu itu,  Good Night my love. Thank for all.

Tulisanmu yang semacam itulah, yang menyebabkan aku tak mau tidur sebelum jaum 12 malam. Aku ingin mengatakan kepadamu Alberta, selamat malam juga. Tidurlah kau dengan tenang di malam ini, serta malam-malam yang lainnya, aku akan mendatangimu melalui segenap mimpi yang indah.

Coba bayangkan oleh kamu Allent. Betapa dalamnya cinta ibuku kepada sosok laki-laki yang dia sebut dengan nama Alberta. Mungkinkah Alberta itu, nama Papah kamu? Allent, jika benar Alberta ayahmu dan Santi ibuku, mungkin itulah mereka, mengapa begitu semangatnya ingin mempertemukan kita dalam peraduan keluarga yang menurut mereka sangat luar biasa.

Allent memotong kalimat? Itu tidak penting. Yang penting untuk kita saat ini, bukan memastikan cinta Santi kepada Alberta atau sebaliknya Alberta kepada Santi, yang penting saat ini adalah, bagaimana dengan kita dan nasib semua rasa yang kita pendam.

Allent kemudian demikian agresif dengan menggandeng bahu Mell dan membersikan beberapa kotoran yang menempel dalam celananya. Mell, sejujurnya, sejak aku berjumpa kamu, sesungguhnya dan sejujurnya, aaaaku …. ssssst Mell memotong, biar aku yang mengatakan: Watashi wa anata o aishite (aku mencintai kamu). Allent lantas menjawab dengan antusias. Mell, Tashika ni wa iimashita? Apakah yang kau katakan itu benar? Tanpa malu Allent memeluk Mellisa Claudhya dan mengecup keningnya dengan manja.

My God, akhirnya aku menemukan cintaku. Jerit Allent …. Melissa mengatakan, Lent semoga kau tulus mendapati aku sebagai sosok yang layak menjadi pendamping kamu. Tanpa malu-malu mereka berjalan menuruni satu dan tangga lain di Monas. Mereka dengan Mesranya melihat dan membaca berbagai fenomena Indonesia dalam gambar-gambar yang tersedia di Museum itu. Charly Siera –bersambung —

Edisi Sebelumnya:

  1. Misteri Sang Ksatria Cinta. Part 1
  2. Dalam Sebuah Mihrab 
  3. Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu 
  4. Membunuh Rindu 
  5. My Endless Love
  6. Bertemu di Forum Budaya
  7. Kematian Tak Mengakhiri Cinta 
  8. Cinta dalam Dua Keluarga
  9. Selalu Misteri
  10. Love in the Sky 
  11. Diam Seribu Bahasa 
  12. Sosok Mellisa Claudhya
  13. Duka Allent ditinggal Mati Istri 
  14. Atrium Mengawal Cinta
  15. Memadu Kasih di Atrium
  16. Cerita Cinta dua Generasi
Komentar
Memuat...