Allent Melamar Mellisa | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 20

0 107

Allent Melamar Mellisa: Dua minggu setelah pertemuan di Atrium Jakarta, Allent dan Mell akhirnya merencanakan pertunangan. Saat itu, hari menjelang sore, Alberta tiba-tiba mengajak Allent untuk datang ke Cirebon guna bertemu dengan keluarga Mell. Tentu saja, Allent dan ibunya, Hypatia sangat bangga dan bahagia atas ajakan Alberta untuk melamar seorang wanita yang dicintai anaknya itu. Kebahagiaan itu dirasa Hypatia, karena ia merasa sudah tua dan sakit jantungnya tak kunjung sembuh total.

Allent persiapkanlah mental kamu, kata Alberta. Aku dan ibumu akan sangat setuju, jika kamu dapat segera melamar perempuan yang menurut gerak-gerik kamu, patut disimpulkan bahwa kamu sangat mencintainya. Kamu sendiri kelihatan sangat yakin bahwa perempuan itu sangat mencintai kamu juga. Karena itu, tidak ada alasan untuk menunda perjumpaan kita dengan keluarganya. Tapi tolong ingat dua hal ya. Pertama, kamu kontak kakak kamu, Altair, yang saat ini sedang berada di Belgium. Barangkali dia sempat datang ke sini atau paling tidak kulonuwun biar dia sama-sama bahagia. Kelihatanya, kakak kamu akan sangat bangga jika kamu sempat memberitahunya. Kedua, kunjungilah makam istri kamu dan keluarganya. Meski istri kamu sudah meninggal dunia, katakan, di atas kuburan dan di hadapan keluarganya bahwa kamu akan melamar dan menikahi perempuan. Semoga perempuan yang akan kamu lamar itu, dapat hidup tabah dan mencintai kamu seperti dirinya.

Ya pastilah pah. Besok pagi aku akan menelepon kakak dan berharap dia memiliki waktu luang. Habis itu, aku akan ke makam dan datang ke keluarganya. Aku minta dizin sekaligus minta do’a atas kebaikan niat tulus ini. Khusus untuk kakak, akan dilakukan sangat pagi. Sambil kayaknya, papah dan mamah sudah lama tidak ketemu dengan kakak. Aku juga kangen sama anak-nya kakak. Kayak apa dia sekarang ya …. sudah hampir 7 bulan aku tidak ketemu dengan mereka. Tetapi, kemarin aku membaca di surelnya bahwa dia sedang berada di sebuah gunung. Kayaknya, ia kembali mengujicobakan hasil risetnya yang membuat dia menjadi seorang guru besar.

Hypatia memotong kalimat Allent dengan mengatakan: Jangan lupa adik kamu, Achile, juga dikontak. Ia juga pasti bahagia. Beberapa hari yang lalu, dia mengirim pesan ingin pulang dari Beijing dan ingin bertemu dengan kamu Lent. Ia menganggap penting kamu segera menikah, agar, dia memiliki kesempatan yang sama untuk meminang perempuan. Ia tampaknya, ingin menyaksikan kamu dulu.

Alberta terbelalak. Apa adik kamu juga sudah punya pacar Lent? Allent menjawab, tampaknya begitu pah. Katanya, pacarnya keturunan Iran. Betul mah begitu? Tanya Alberta kepada istriya. Hyaptia hanya tersenyum. Kayaknya begitu. Tapi biarlah, yang namanya anak-anak sekarang susah diatur. Katanya, dia juga mengatakan bahwa pacarnya itu memiliki profesi sebagai ahli dalam bidang kimia yang ramah lingkungan.

Ngomong-ngomong, kapan rencananya kita berangkat ke Cirebon Allent. Allent menjawab, tampaknya, keluarganya Mell memintanya hari Kamis saja pah. Okelah kalau begitu. Mamah setuju atas pikiran Allent untuk ke sana hari Kamis saja. Ya kalau anda berdua sudah setuju, saya mau ngomong apa. Setuju saja …. Yang penting lagi, kamu mau bawa apa ke sana? Sudah aku persiapkan pah. Jangan khawatir. Dalam dua minggu ini, hampir tiap hari aku ngontak Mell. Baguslah kalau begitu, jawab Allent Singkat.

Malam yang relatif larut, Alberta mengirimkan pesan kepada Santi. Alberta yakin pesannya baru akan dibaca besok pagi. Aku ingin Santi bahagia dengan pesannya ini. Dugaan Alberta benar. Pesan yang dikirimnya baru dibaca pagi hari Senin. Sebab Santi menjawab melalui surelnya pada pukul 08.00. Santi menjawab Alberta dengan mengatakan: Pagi hari senin, cuaca pagi begitu dingin. Tetapi, dalam bathinku, aku tak sedingin alam yang melingkupiku. Mihrab cintaku tetap hangat, karena Alberta kekasihku mengirimkan pesan dalam kalimat yang menyentuhku, kata Santi.

Inilah pesan Alberta kepadanya: “Santi … untuk hari kamis besok, aku datang dalam wujudku yang fisik. Aku tidak akan lagi memastikan bahwa aku hanya akan datang dalam mimpi kamu. Aku juga tidak lagi hanya akan mengatakan selamat malam dan sampai jumpa dalam dunia mimpi. Aku menjawab secara langsung bahwa do’amu yang mengatakan: Ya Allah … ingin sekali malam ini, aku mimpi meski hanya melihat wajahnya saja. Wajahku akan datang, dan ingin kembali memastikan bahwa saat kau mendapati aku, kapanpun itu waktunya, termasuk nanti hari kamis, aku, masih tetap sama seperti dulu, yang akan menyambutmu dengan hangat, dan akan mengatakan, bahwa aku masih tetap mencintai kamu. Kau tak lagi harus mengatakan selamat malam Alberta, yang namanya selalu ada dalam hati dan bathinku, karena namaku akan menempel dengan sendirinya dalam simbol anak atau cucu kamu. Santi, tunggulah … aku akan datang menjumpai kamu”.

Jelang hari Kamis, Alberta memanggil Allent ke ruangannya. Di ruangan yang sangat sepi itu, Alberta berkata: “Allent, kamu harus tahu bahwa cinta itu mengabdi. Mengabdi bukan pada objek yang kamu cintai, tetapi, justru pada rasa yang kamu miliki. Bersyukurlah kau mencintai wanita, di mana wanita itu juga mencintai kamu. Kamu dan aku sama. Laki-laki. Berbuat baiklah kepada kekasih kamu yang mencintai kamu dengan tulus, agar diapun dapat berbuat kebajikan yang tulus juga sama kamu. Fakta bahwa, terhadap rasa yang kamu miliki itu, kamu tidak mungkin memiliki kesanggupan untuk meninggalkannya, sekalipun sedetik. Dan kamupun akan rela menerimanya, apapun itu, dan sekalipun nanti rambutnya sudah memutih dan kulitnya sudah keriput. Dia akan selalu menjadi dia yang terbadikan dalam hati kamu sebagai sosok mungil sebagaimana kamu menemukannya dalam beberapa bulan ini.

Karena itu, kelak apa yang kamu raih, sebagiannya pasti kamu merasa memiliki kewajiban untuk memberikan hak atas apapun itu, untuk dia yang kamu cintai. Kamu pasti tidak akan rela dia sakit, dia gelisah, terusik harga dirinya, hidupnya dalam lumpur sulit dan terus berada dalam kebimbangan yang akut. Yakinkanlah dirimu. Pastikan bahwa apa yang akan kamu tetapkan adalah hal terbaik dan menuju titik keabadian diri sebagai manusia.

Allent, tentu yang kumaksud bukan berarti kamu harus menjadikan dia sebagai kamu atau kamu sebagai dia. Biarlah kamu menjadi diri kamu dan dia menjadi dirinya. Tetapi, alangkah bijaknya, jika kamu memiliki ruang besar, lanskap yang luas dan dimensi yang imaginer, bagaimana akhirnya orang yang kamu cintai itu, dapat tumbuh besar, memiliki keagungannya sendiri dan memiliki ruang untuk tetap menjaga marwahnya. Aku bangga sama kamu. Bertawakallah agar ada kebaikan didalamnya.

Entahlah … saat itu, air mata Alberta menetes. Allent diam dan kemudian Alberta berlalu dengan mengatakan, jangan lupa, nanti malam kamu bertahajud ya … Allent hanya mengatakan: Iya pah …. tetapi mengapa papah meneteskan air mata? Tanya Allent pelan. Alberta hanya berkata: Tidak apa-apa, aku hanya bangga sama kamu. Dalam bathin Allent ia berkata: Papah kau memang misteri.

Edisi Sebelumnya:

  1. Misteri Sang Ksatria Cinta. Part 1
  2. Dalam Sebuah Mihrab 
  3. Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu 
  4. Membunuh Rindu 
  5. My Endless Love
  6. Bertemu di Forum Budaya
  7. Kematian Tak Mengakhiri Cinta 
  8. Cinta dalam Dua Keluarga
  9. Selalu Misteri
  10. Love in the Sky 
  11. Diam Seribu Bahasa 
  12. Sosok Mellisa Claudhya
  13. Duka Allent ditinggal Mati Istri 
  14. Atrium Mengawal Cinta
  15. Memadu Kasih di Atrium
  16. Cerita Cinta dua Generasi
  17. Allent dan Mell Saling Menyatakan Cinta
  18. Lagu Kerinduan Abadi
  19. Mel dan Santi Menari Indah
Komentar
Memuat...