Ambiguitas Konsep Filsafat Pendidikan Barat dan Dunia Modern

0 24

Pada awal tahun 1970 organisasi pendidikan dunia (UNESCO) melakukan peninjauan yang menyeluruh terhadap sistem pendidikan di dunia modern. Hal itu dilakukan setelah merasakan bahwa sistem ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bertolak dari tujuan ini dibentuk dewan dunia yang kepemimpinannya diserahkan kepada Edgard Faure. Ia seorang mantan Majelis Kementrian Prancis dan mantan Menteri Pendidikan Nasional. Dewan ini beranggotakan: Philip Harera dari Chile; Abdurrazzaq Qadurah dari Suriah; Henry Lobes dari Kongo; Arthur F Petrovski dari Uni Soviet; Majid Ridha dari Iran; Frederick Champion World dari Amerika Serikat.

Dewan ini mengunjungi 23 negara, dan mengawasi studi yang diadakan oleh Unesco selama 25 tahun. Demikian juga terdapat 81 penelitian dari berbagai dunia yang para ahlinya persiapkan untuk memberikan kontribusi bagi tugas dewan tersebut. Tugas dewan tersebut berakhir pada tahun 1972 dan merampungkan ringkasan tugasnya dalam bentuk terbitan dalam berbagai bahasa yang digunakan Unesco yang kemudian membagikannya kepada negara-negara anggota sebagai petunjuk dalam membentuk sistem pendidikan baru yang didirkan atas dasar filsafat pendidikan baru. Dewan mengeluarkan resolusi yang disebut dengan Ta’allam li Takun (Learning To Be), dan di antara yang terdapat dalam resolusi ini adalah sebagai berikut:

“Sistem pendidikan yang berlaku di negara-negara maju selalu berbeda, atau setidaknya, dalam banyak kesempatan, memiliki watak yang ganda. Yakni, sistem yang terbelakang secara teknologis di satu sisi, dan di sisi lain mensucikan individunya sesuai dengan tingkatan sosial dan khususnya dalam pendidikan tinggi. Sistem inilah yang sebagian besar didatangkan ke berbagai negara, beserta kekhususan-kekhususannya. Bahkan sistem ini memiliki cacat lain, yakni tidak sesuai dengan lingkungan budaya, masyarakat dan manusia yang moderat”.

Bangkitnya Akar Filsafat Modern

Jika dewan dunia ini telah sampai pada kesimpulan studi realitas aplikasi sistem pendidikan yang berlaku di dunia –yakni sistem yang akar-akarnya berasal dari sistem pendidikan Barat sebagaimana dewan berkata –maka peninjauan evolusi sejarah terhadap filsafat pendidikan yang dilakukan sistem ini- mula-mula dari pertumbuhan hingga realitasnya sekarang- menyingkap kekacauan dan ambiguitas tentang konsepsi dan konsep yang batas-batasnya semakin bertambah dengan berjalannya waktu. Untuk menjelaskan hal tersebut kita katakan:

“Akar filsafat pendidikan modern kembali kepada awal kebangkitan Eropa pada abad 12 Masehi –yakni yang dikenal dengan istilah kebangkitan universitas Eropa- ketika lembaga-lembaga pendidikan ini mulai di bawah kontrol gereja dan lembaganya. Kemudian kontrol ini semakin meluas selama abad-abad berikutnya dan berkembang secara geografis –di Amerika dan lainnya- dengan menyebarnya ras Eropa. Oleh karena itu, metode, teknik dan manajemen pendidikan berjalan sesuai dengan pengaruh konsepsi geraja tentang manusia, alam dan kehidupan, yakni konsepsi bentuk –dari sisi akal- filsafat pendidikan yang mengarahkan kreativitas pendidikan pada waktu itu.”

Oleh: Dr. Majid Irsan Al Kailani

Bahan Bacaan

Edgar Faure, dkk, Ta’allam li Takun, alih bahasa Hanafi bin Isa (Aljazair: Unesco/Asy-Syirkah Al Wathaniyah li an-Nasyr wa At-Tauzi’, 1976)

Lawrence A Cremin, American Education: The Colonial Esperience, 1607-1783 (New york: Harper & Row Publisher, 1970)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.