Take a fresh look at your lifestyle.

Ambiguitas Konsep Ibadah Dalam Lembaga Pendidikan Negera-Negera Arab dan Islam

0 36

Lembaga pendidikan yang ada di negera-negera Islam tidak mengimplementasikan hubungan ibadah dengan ketiga aspeknya. Juga tidak adanya studi ilmiah yang akurat sekitar ambiguitas tersebut. Hanya saja tinjuan terhadap muatan pendidikan dan lembaga pendidikan yang ada di negera-negera Arab dan Islam dengan jelas menunjukkan bahwa ia menderita ambiguitas. Hal ini mengenai konsep hubungan yang pengaruhnya nampak pada aktivitas dan buah aktivitasnya.

Aspek-aspek ambiguitas tersebut juga sejajar dengan dikhotomi pendidikan di negeri-negeri Arab dan Islam. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa dampak masalah yang ada direfleksikan dalam dua bidang berikut:

Lembaga Pendidikan Islam Tradisional

Pertama, dalam lembaga pendidikan Islam tradisional yang direfleksikan dalam bentuk sekolah, sekolah tinggi dan universitas agama dan ramifikasinya dalam pusat-pusat ibadah dan nasihat. Ini memusatkan pada aspek agama terhadap ibadah bukan aspek sosial dan alam. Prosesnya berpusat pada wilayah aspek agama terhadap ibadah sejak masa Mamalik yang kepemimpinanya dianggap tirani militer. Lembaga pendidikannya –sejak saat itu- berubah dari penyelesaian masalah kehidupan menjadi pengulangan pengetahuan para leluhur yang telah meninggal. Upacara peringatan hari lahir orang-orang shaleh yang telah meninggal dan berbagai macam upacara keagamaan.

Akibat dari semua itu adalah “fiqh” yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan sejak saat itu hampir-hampir terbatas pada masalah-masalah yang berkaitan dengan aspek agama terhadap ibadah. Pada saat lembaga-lembaga itu menghasilkan ratusan jilid fiqh yang menyelesaikan masalah bersuci; wudhu; hukum shalat; puasa dan berbekam. Maka kualitas fiqh yang berkaitan dengan aspek sosial terhadap ibadah, dan yang menyelesaikan masalah-masalah sosial seperti musyawarah; hubungan hakim dan terhukum; sistem politik dan masyarakat; administrasi; kebebasan; tanggungjawab sosial; hukum sosial kemasyarakatan; hubungan antar negara dan lain-lain hanya menghasilkan sedikit buku yang dibentuk dengan teknik-teknik yang tujuannya menjustifikasi hukum positif yang ada pada waktu itu.

Lembaga Pendidikan Tradisional Sejajar Dengan Lembaga Lain Yang Bersifat Sosial

Lembaga-lembaga pendidikan tradisional tersebut sejajar dengan lembaga-lembaga lain yang bersifat sosial seperti perkumpulan sosial dan tarikat-tarikat sufi yang semuanya menjadikan aspek sosial terhadap ibadah sebagai catatan pinggir dan aplikasi catatan pinggir ini pada bagian yang cenderung kepada masa lalu yang stagnan daripada kecenderungan ke masa sekarang.

Asosiasi-asosiasi Islam yang baru-baru ini didirikan dalam bentuk partai dan organisasi modern juga sama-sama memusatkan kepada slogan dan generalisasi baik secara politis ataupun intelektual dan dipoles dengan rasionalisasi yang sebatas memberitahukan masalah-masalah yang ada saat ini bukan menandinginya dengan parameter praktis dalam bentuk aplikasi pendidikan dan praktek sosial.

Aspek Alam Terhadap Ibadah Hampir Tidak Tersentuh

Adapun bidang aspek alam terhadap ibadah hampir-hampir tidak tersentuh sama sekali. Oleh karena itu tidak nampak filsafat Islam untuk ilmu alam dan sosial dan meninggalkan pintu terbuka untuk filsafat Yunani untuk mengarahkan ilmu-ilmu ini dan sehingga keluar dari alur Islaminya. Perhatian yang diberikan kepada aspek alam terhadap ibadah ini masih terbatas sekali. Dan keraguan masih kuat terkait masuknya bidang ini karena prasangka yang disebarkan oleh sebagian penulis dan pemikir yang menganggap pernyataan-pernyataan ilmu dan hasilnya sebagai bersifat nisbi dan berubah-ubah dan tidak berkenan menjadikan ilmu sebagi bukti atas validitas pernyataan-pernyataan agama.

Pengaruh Fragmentarisme Dan Stagnasi

Fragmentarisme dan stagnasi ini berpengaruh kepada pemahaman ibadah terhadap individu yang dicetak oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam resmi dan yang sejajar, dan berpengaruh kepada masyarakat modern di negera-negera Arab dan Islam yang membentuk –konsep-konsep- tersebut sebagai bagian dari penopang dan fondamennya.

Individu-individu yang lulus dari lembaga pendidikan tersebut atau terpengaruh dengan pemahamannya menyebabkan aspek cara, pakaian dan objek ibadah, waktu dan gerakan anggota badan menjajdi orbit agama bagi mereka dan menjadi pusat perhatian mereka. Individu-individu yang terpengaruh dengan lembaga yang paralel –seperti perkumpulan sosial dan tarikat sufi- didominasi oleh taklid para pendiri dan tokohnya. Mereka mensucikan para tokoh dan menerima pengajaran dan perkataan mereka tanpa memperhatikan perubahan zaman dan tempat.

Individu-individu yang mengikuti –kelompok politik modern- didominasi oleh intelektualisasi yang dangkal dan pengulangan istilah-istilah yang dirasionalisasi yang tidak menghasilkan ilmu khusus, tidak mendalami objek, tidak mengcover tahapan kelahiran, perkembangan dan bidang ilmu, dan generalisasi dan slogan ini tidak sesuai dengan parameter praktis dalam bidag praktek dan aplikasi.

Pengaruh Ambiguitas Konsep Ibadah

Adapun pengaruh ambiguitas konsep ibadah dalam –masyarakat- yang ada di negera-negera Arab dan Islam direfleksikan dalam yang berikut ini:

Pertama

Masyarakat bercerai berai dan munculnya beraneka macam pusat loyalitas mazhab, golongan dan kesukuan bukan loyalitas untuk satu umat.

Kedua

Kebutuhan akan metode dalam studi dan mekanisme yang sehat dalam aplikasi. Lembaga pendidikan –pada umumnya- mengajarkan remaja dan pengikut tentang idealisme yang dibutuhkan oleh anak-anak modern dan masa depan. Lembaga pendidikan mengisi mereka –secara teoretis- dengan bentuk idealisme dan pengorbanan. Kemudian melemparkan mereka ke masyarakat yang merubah mereka. Juga praktek yang mereka dapatkan dari teori. Menghadapkan mereka kepada pengingkaran dan penentangan. Akibatnya adalah ledakan yang direfleksikan dalam bentuk ekstrimisme dan kekerasan atau kelemahan dan kesesatan. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa correspondence principle (prinsip kesesuaian) yang telah kami tunjukkan sebelumnya –di sini bekerja dalam bentuk yang terbalik dan menimbulkan dampak konflik sosial.

Ketiga

Terjungkirnya makna istilah-istilah pokok yang berkaitan dengan aspek sosial ibadah. Misalnya, berubahnya makna asketisme dari asketisme orang kaya dan orang kuat berkaitan dengan harta dan kedudukan mereka untuk kebenaran dan keadilan menjadi asketisme orang miskin dan orang-orang kelas bawah terhadap bahan pokok yang urgen untuk kehidupan mereka dan dalam hal kemuliaan mereka.

Misalnya juga adalah kata sabar. Yang maknanya berubah dari sabar atas tuntutan jihad dan pengorbanan dan dampak kekerasan prinsip yang dinyatakan Qur`an dengan فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ “Dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan” menjadi kesabaran orang yang lemah, tidak berdaya dan cenderung tunduk.

Contoh lainnya adalah kata fakir yang maknanya berubah dari pujian terhadap derajat yang tinggi. Karena pengorbanan orang-orang kaya seperti Abu Bakar dan Utsman berubah menjadi kerelaan atas kemiskinan, kelaparan dan sedikitnya sumber-sumber penghidupan dan demikian seterusnya dalam istilah-istlah lain.

Keempat

Dampak sosial ini adalah bahwa runtuhnya aspek sosial dan hilangnya aspek alam terhadap ibadah menafikan efektivitas aspek agama dan merusak citranya. Ini menyebabkan keterbelakangan sosial, ilmu dan teknologi yang menimpa masyarakat Arab dan Islam. Dan menimbulkan fenomena keterputusan antara praktek agama dengan praktek sosial yang menyebar di masyarakat Islam modern. Sehingga menjadi faktor yang merusak citra Islam di hadapan non-Muslim.

Lembaga Pendidikan Modern Yang Didirikan Dengan Model Barat

Adapun bidang kedua adalah lembaga pendidikan modern yang didirikan dengan model Barat. Ketika ini masih mengikuti lembaga pendidikan di Barat dengan mempertahankan celah sosial, ilmiah dan sekuler yang menakutkan antara kedua jenis lembaga. Oleh karena itu akibat negatif dan dampak yang ditimbulkannya –hilangnya konsep ibadah- lebih banyak berkaitan dengan taraf individu dan sosial.

Individu dalam lembaga ini dipersiapkan –sebagaimana terjadi di dunia ketiga pada umumnya-. Yang utama adalah menjadi “konsumtif” terhadap segala sesuatu yang masuk ke pasar lokal dari industri luar. Dan tidak “produktif” kecuali sekedar yang dituntut oleh proses birokrasi, sekretariat dan makelar yang menghadapkan pekerjaan dalam “perwakilan” politik dan manajemen yang mengurusi jual beli produksi yang masuk dari luar dan menaruh bencana di hadapan perkembangan produksi yang ada di dalam negeri.

Alumnus lembaga ini juga menderita masalah keterasingan dari budaya masyarakat Arab dan Islam saat ini. Para alumnus ini menjadikan idealismenya berupa para model yang masuk dari negara-negara maju. Disertai dengan dampak berupa kedangkalan budaya dan tidak adanya kemampuan mencerna model yang masuk. Dan mempertahankan celah yang besar antara ia dengan model yang diikutinya dan objek yang masuk kepadanya.

Para alumnus tersebut tidak menikmati dengan kedalaman dan penguasaan dalam spesialisasi mereka. Akan tetapi membawa dalam pikiran mereka yang serupa dengan label pikiran dan klise dari muatan ilmu dan konsep kemajuan dan peradaban. Dan ini ketika direalisasikan dalam proses dan aplikasi kebanyakannya berwujud rencana proyek yang gagal; penelantaraan manajemen dan keorganisasian; keterasingan pemikiran dan kemrosotan masyarakat.

Pemikiran Dan Politik Yang Dominan Tidak Menetapkan Strategi Pendidikan Yang Komprehensif

Objektif kiranya kita menyatakan bahwa yang membuat dampak semakin lebar dalam lembaga pendidikan tradisional dan modern di negera-negera Arab dan Islam, adalah bahwa pemikiran dan politik yang dominan tidak menetapkan strategi pendidikan yang komprehensif untuk menyelesaikan krisis –krisis ambiguitas konsep ibadah- ini. Akan tetapi memaksa menghadapi efek samping dengan pemaksaan dan bentuk-bentuk penindasan. Oleh karena itu dampak-dampak ini bersifat berangkai dan berotasi yang kadang-kadang hilang lalu di kesempatan lain muncul. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar