Home » Sastra Budaya » Puisi » “Anak Kampung” Tercabik Rindu Pudar dan Mengakar

Share This Post

Puisi

“Anak Kampung” Tercabik Rindu Pudar dan Mengakar

pernahkah merasa ingin diam dan sendiri, di tempat dimana biasa  ramai? lalu meridukan suasana sunyi dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. perasaan seperti itu biasa dirasakan bagi mereka yang berpetualang di bukan tempat kelahiran. Berbagai bentuk rindu yang hadir, lalu diutarakan dengan komunikasi dengan mereka yang ada di tempat kelahiran kita, tempat dimana kita dibesarkan. siapa yang kau hubungi? Ibu, ayah saudara atau teman? itu sangat menetukan dengan siapa kita bisa nyaman dulu kala kecil.

Jika kita bahas tentang rindu pada orang tua lalau kita ukur pada anak rantau tentu itu tidak dapat dibantahkan lagi. Perasaan rindunya datang dengan kuat, apalagi saat-saat dimana kita merasa sendiri, saat ada dalam kesulitan dan saat kita tak ada yang memperdulikan. inilah yang disebut puncak ikatan kebatinan keluarga. walaupun dikala bahagia datang jarang teringat mereka. Yang sedang mengenyam pendidikan pastinya rindu datang kala terhimpit keuangan, tanpa tau bagaimana orang tua berjuang disana. Ahhh ini sebuah ironi bagi kita semua para petualang di negri orang. Banyak pilihan mengutarakan rindu pada mereka orang tua kita yang berjuang untuk anakanya yang ada di perantauan.  salah satunya seperti yang di utarakan oleh mahasiswa jurusan  Sastra Uiversitas Negri Jakarta ini, tiap hari menuliskan puisi untuk kedua orang tuanya, bercerita dalam sastra menjadi keasikan tersediri baginya, Puisi ini ia dedikasikan untuk Ayah dan Ibunya; selamat membaca..

Rekomendasi untuk anda !!   Kumpulan Puisi Agama Kemanusiaan | Kumpulan Puisi Prof. Dr. H. Cecep Sumarna Part - 9

Anak Kampung

Takbir berkumandang dan aku tetap di perantauan
Yang ku rindukan tak kunjung tersampaikan
Ku ingin mengecap bau surga
Ku ingin mencium setiap jengkal kerikil dan tanah
Ku ingin sampaikan yang ku rasa
Ku ingin sampaikan yang tak bisa ku ucap
Ku ingin indra ini merasa bahagia

Tapi bukan jarak
Bukan juga gedung-gedung
Bukan juga tol
Bukan juga batu
Bukan juga pohon jati
Bukan juga sungai
Bukan juga hujan
Bukan juga angin
Bukan juga langit
Bukan juga bumi
Bukan juga musim
Bukan juga matahari
Bukan juga bulan
Bukan juga laut
Tapi hanya waktu
Pah.. Mah.. Aku rindu


Tentang Penulis : 

Intan Usawatun Hasanahintan-uswatun-hasanah2 Gadis kelarian Kuningan 4 April 1998 ini sedang melajutkan Study  di Universitas Negri Jakarta. Kecintaannya pada sastra membuat ia melajutkan  Kuliah dengan mengambil Jurusan Sastra.

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>