Antara Partai Politik dan Dunia Koruptik

0 9

KORUPSI yang saat ini melanda bangsa Indonesia, persis seperti kanker ganas. Menyebar tanpa dapat diduga dan dalam stadium tertentu, hampir sulit untuk disembuhkan, kecuali datang keajaiban Tuhan. Indonesia, tampaknya sedang berada dalam sakit kangker akut yang hanya dapat sembuh jika keajaiban Tuhan muncul tanpa diduga.

Korupsi yang dulu hanya dilekatkan kepada mereka yang bergulat dalam dunia birokrasi, kini menyebar sampai ke poros yang secara logika tidak mungkin dimasukinya. Sarang-sarang korupsi, kini mulai terbuka dan jendela utamanya, justru berasal dari pilar demokrasi dan sumbu pengubah negara, yakni Partai Politik. Partai Politik dan Dunia Koruptik, menjadi nalar yang sulit dihindari.

Korupsi Partai Politik

Bergulat dalam partai politik, dari dulu dan tampaknya dipertahankan sampai sekarang, selalu mengandung dua ruang pilihan, disanjung dan digantung. Dua ruang pilihan itu, tampaknya hari-hari ini sedang mengitari mereka yang bergiat dalam Partai Politik. Batas antara disanjung dan digantung begitu tipis dan singkat. Jauh lebih tipis dan jauh lebih singkat dibandingkan dengan lapisan kulit bawang dan jilatan kilat di siang bolong.
Perubahan senyum kemenangan dengan senyum getir penuh ketakutan begitu cepat terjadi.

Tangis dan tawa datang silih berganti dan media begitu asyik mengambil berbagai warta untuk membaginya ke dalam slot-slot paling bergengsi. Tujuannya pasti tunggal, yakni keuntungan ekonomi. Masyarakat sendiri banyak yang menikmati beritanya, walau sekali-kali gerusan dada dilakukan atas rasa sumpeg dan hampiran keputusasaan menerpa jiwa pemirsa. Muncul juga aroma dan kesan membosankan, karena setiap kasus yang muncul selalu ditutupi oleh kasus lain yang akhirnya tidak ada ujung pangkal penyelesaiannya.

Fenomena yang menimpa beberapa tokoh muda, yang belakangan ini banyak disebut terlibat dalam beberapa proyek berbau suap. Dalam banyak hal bukan hanya telah menyentakkan publik aktivis sosial. Tetapi, juga menyentakkan mereka yang selama ini menjadi pengagum berat mereka. Meskipun, secara hukum tampaknya belum dalam waktu singkat memperoleh keputusan apapun. Tetapi, belitan persoalan yang menyertai kelompok muda ini, secara sosial agak sulit untuk dilepaskan.

Negara Sedang Sakit?

Publik secara umum menyadari. Bahwa, persoalan yang menimpa tokoh-tokoh muda ini, sebenarnya terjadi di beberapa pimpinan Partai Politik lain yang usianya tidak lagi muda. Tetapi, lilitan persoalan yang menimpa sosok-sosok muda dan dikenal sebelumnya sebagai tokoh-tokoh santun dan dianggap memiliki idealisme tinggi yang jujur dan relatif bersih, sedikit banyak telah menyiratkan bahwa bangsa ini memang sedang sakit. Sakit yang bukan hanya sulit disembuhkan para ahli ruwat tingkat desa, tetapi bahkan sangat menyulitkan mereka yang cukup ahli hasil besutan para ahli Perguruan Tinggi luar negeri bergengsi sekalipun.

Beberapa kalangan muda yang di kalangan tertentu sering ditahbiskan sebagai lokomotif kalangan progresif. Dan sejumlah harapan besar atas perbaikan bangsa ke depan. Dikenal dengan kesantunan politik dan diakui kedermawanan sosial sejak dia masih mahasiswa, kritis dan sensitif melihat persoalan bangsa serta tenang dalam memberikan argumentasi. Kini diposisikan persis seperti burung Camar yang sarap-sarap lidah suara merdunya mulai pada bengkok. Mereka yang dikenal tajam mengomentari senior-seniornya yang terlibat dugaan korupsi di tahun 1998, beberapa saat setelah proses reformasi terjadi, kini seolah terulang menghunjam dirinya.

Partai Politik Oposisi yang Kesulitan Mencari Argumentasi

Meski harus juga diakui bahwa komentar miring yang menyudutkan dirinya dari Partai Politik lain. Apa yang disebut dengan partai politik oposisi juga kelihatan kesulitan mencari argumentasi untuk menyerang dirinya. Apalagi partai politik yang selama ini menyatakan dirinya sebagai Partai pendukung atau partai koalisi pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono. Kebanyakan pimpinan Partai Politik diam seolah memahami apa yang terjadi dan sedang menimpa dirinya. Atau, mereka diam karena sama-sama memahami bahwa menjadi ketua umum Partai Politik, termasuk dalam fase politik yang costnya jauh lebih mahal dibandingkan cost untuk menjadi anggota kabinet pemerintahan sekalipun.

Komentar miring atas apa yang menimpa dirinya, justru banyak bermunculan dari mereka yang selama ini berada dalam gerbongnya. Dan dalam kasus tertentu bahkan mungkin pendukung setianya. Karena itu, cukup beralasan juga jika ada yang menyebut bahwa apa yang terjadi pada beberapa tokoh muda hari ini, tidak lebih dari pertikaian politik internal partai yang belum dapat diselesaikan secara tuntas.

Jika analisa ini dianggap menjadi refresentasi yang sesungguhnya, maka alangkah malangnya nasib yang menimpa beberapa tokoh muda ini. Sebab, ia bukan hanya sekedar kehilangan kesempatan untuk ikut serta memperbaiki fenomena kebangsaan, sekedar memperbaiki citranya sendiri –yang belasan tahun ia pertahankan– tidak mungkin dapat diselesaikan dalam durasi waktu yang singkat.

Fenomena di atas telah menyiratkan bahwa Indonesia yang sedang memasuki Orde Paling Baru (istilah Iwan Fals) ini, jelas semakin kehilangan akarnya untuk melakukan perubahan. Pergulatan kebangsaan yang sebelumnya berusaha untuk melahirkan tatanan baru dalam bangunan bangsa ke depan, kini beralih ke pertikaian antar partai politik dan pergulatan para politisi dalam lingkup partai. Jika hipotesis ini yang terjadi, maka, bumi pertiwi ini, bukan hanya sekedar kehilangan kesempatan untuk dapat berkompetisi dengan dunia luar, tetapi bahkan kehilangan kesempatan untuk bermimpi merajut masa depan yang lebih baik.


Penulis : Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...