Antara Wisuda Tepat Waktu dan Wisuda Diwaktu yang Tepat

0 256

Ada perbedaan besar antara memahami pengetahuan dengan hanya sebatas mempelajari pengetahuan. Kita mungkin banyak berjumpa dengan orang orang yang mengetahui banyak buku, tapi tidak memahami isi dan makna dari buku tersebut. Lalu apa perbedaan dari keduanya ?

Jika kita bisa menjawab perbedaan dari keduanya, maka kita bisa membedakan antara sarjana “agent of change” dan “agent of social control”  yang disematkan terhadapnya dengan seseorang yang hanya belajar untuk mendapatkan gelar semata.

Ada sebagian sarjana yang memahami pelajarannya dan banyak yang hanya mengetahui pelajarannya, begitupun banyak orang yang memahami tentang perubahan, menjadi bagian dari kontol sosial, dan menjaga nilai keluhuran tapi tidak dipandang sebagai sarjana.

Perbedaan serupa kita jumpai pada abad ke 19 di Prancis, pada masa itu madzhab kesusasteraan lahir dari kedai-kedai kopi, bukan dari ruang kelas Universitas Sorbone. Mula mula mereka mengawalinya dari orang-orang yang memiliki kejeniusan, perasaan, antusiasme yang tinggi. Serta keberanian menciptakan sesuatu bernilai baik dalam musik, seni lukis, kesusasteraan dan puisi.

Kebiasaan inipun menyebar luas ke berbagai kelompok di kedai-kedai. Aerta perjumpaan intelektual dan spritual massa yang lalu lalang di sekitarnya (Syari’ati 1992:16). Lalu dari kejadian seperti ini Universitas mengangap bahwa itu sebuah perbuatan bid’ah ilmu pengetahuan.

Hal demikian pun kita jumpai sekarang, banyak mahasiswa yang mengetahui pelajarannya dan lulus tepat waktunya tapi tidak memahami hasil pelajarannya. Padahal banyak mahasiswa yang memahami pelajarannya. Tidak hanya dari dalam kelas-kelas perkuliahan melainkan dari kedai-kedai kopi,lingkaran diskusi, dan kongkow-kongkow organsasi. Lulus diwaktu yang tepat dan di anggap pelaku bid’ah perkuliahan.

Wisuda dan Kebahagiaan Orang Tua

Antara Wisuda Tepat Waktu dan Wisuda Diwaktu yang Tepat
Photo by @andi.permana

Kita tidak usah percaya sepenuhnya kalau jadi sarjana itu tujuan utama. Memang wisuda momentum kita membahagiakan orang tua, tapi tidak mesti kelewat uporia. Apalagi meyakini bahwa IP (indeks prestasi) tinggi itu segalanya. Sarjana itu beda dengan anak-anak lulus SD atau SMA. Kita tengok saja banyak orang besar yang tak ber IPK dan bergelar sarjana. Tapi mereka jadi motor perubahan dan ilmuan. Berkat kejeniusannya dan mereka itu para pelaku bid’ah tadi.

IP dan gelar itu hanya sebagian instrumen  perkuliah yang diraih dengan usaha sewajarnya saja. Jangan terlampau berburu, sama halnya juga jangan terlalu meremehkan. Ringkasnya, kuliah tak hanya di ruang kelas saja.Itu sebabnya biarkan petualangan membawamu ke sana kemari.

Kehidupan mahasiswa membawa kita mendapat pengalaman dari mana saja. Diantaranya adalah organisasi. Sebuah rumah mewah bagi jiwa muda yang berapi-api. Dilatih untuk cakap berrgumentasi dididik berani melawan kaum tirani, memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi dan penindas kaum tani. Kita dipimpin sekaligus dilatih memimpin, peduli dan melindungi.

Tak ada mata kuliah yang mendorong kita mempelajari itu semua. Di organisasi pintu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai itu. Maka saya bangga tersesat kedalamnya. Jangan kuatir karena disanalah kita akan tersesat di jalan yang benar. Walau kita tak dijanjikan tingginya IPK atau geser toga, tapi kamu memiliki pengalaman yang lebih berharga ketimbang jadi sarjana.

Selamat Wisuda kawan seperjuangan. Semoga kita memahami apa yang kita pelajari.! Bagi yang belum, jangan berkecil hati. Karena Einstein pun pelaku bid’ah dan kita diantaranya. Oleh : Fajar Rahmawan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.