Take a fresh look at your lifestyle.

Apa yang Anda Pikirkan Jika Anak Anda Disleksia ?

0 31

Shock,panic, cemas, khawatir bahkan bingung ketika mengetahui bahwa anak anda diponis mengidap disleksia ? Tenang saja, disleksia bukan merupakan momok yang menakutkan. Pahami sejenak tentang disleksia dan ambil tindakan yang tidak dapat merugikan.

Disleksia merupakan jenis gangguan belajar pada anak. Para ahli tidak mengetahui persis apa penyebab disleksia, selain perbedaan cara kerja otak dalam mengolah informasi. Meskipun begitu, beberapa studi terbaru menunjukkan keterkaitan antara kondisi gangguan belajar ini dengan peran genetika. Ketika ada salah seorang diantara ayah ibu, atau kakek-nenek, kemungkinan anaknya akan mengidap disleksia, karena ada faktor genetik. Dan kondisi disleksia ini adalah kondisi seumur hidup yang akan nyebabkan frustasi pada anak jika mendapat tekanan.

Biasanya anak disleksia memiliki IQ antara 90-110 dan kecerdasan di atas rata-rata anak-anak normal. Selain itu mereka memiliki kesulitan belajar seperti membaca, mengeja, menulis, dan menghitung. Anak disleksia juga memiliki masalah pengolahan informasi yang mereka lihat saat mereka membaca. Kemudian mereka akan memiliki masalah menghubungkan suara yang dihasilkan oleh satu huruf. Misalnya, tertukar untuk membedakan “b” dan “d”, kebingungan mengurutkan huruf untuk membentuk kata, atau memahami suara yang membentuk sebuah kata.

Disleksia bukan merupakan kurangnya kecerdasan anak, atau tanda kemalasan. Umumnyapengidap disleksia ini mampu menangkap langsung informasi yang disampaikan, atau bisa memahami sekaligus paragraph dalam sebuah bacaan. Pengidap disleksia hanya butuh waktu dan cara pemahaman yang berbeda, seperti mendengarkan buku audio dari pada membaca paragraf.

Wakil Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia, Vitriani Sumiartis mengakatakan bahwa ada tiga metode pembelajaran yang bisa digunakan dalam pendekatan anak disleksia.

Metode Penangan :

  1. Metode Multisensori menggunakan kemampuan visual (kemampuan penglihatan), auditori (kemampuan pendengaran), kinestetik (kesadaran pada gerak), serta taktil (perabaan) pada anak.
  2. Metode Fonik atau Bunyi memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf B dibunyikan eb, huruf C dibunyikan dengan ec. “Karena anak disleksia akan berpikir, jika kata becak, maka terdiri dari b-c-a-k, kurang huruf e,”
  3. Metode Linguistik, adalah mengajarkan anak mengenal kata secara utuh. Cara ini menekankan pada kata-kata yang bermiripan. Penekanan ini diharapkan dapat membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan bunyinya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar