Inspirasi Tanpa Batas

Apakah Menikah Harus Menunggu Mapan?

Gambaran untuk kalian yang bingung memilih antara harus menikah muda atau mempersiapkan semuanya terlebih dahulu.

0 27

Konten Sponsor

Banyak orang yang saat ini berjuang dan bekerja keras terlebih dahulu. Mengejar pendidikan yang tinggi, meniti karier, menabungkan penghasilannya untuk beli rumah, beli kendaraan, dan sebagian lagi untuk keperluan lain. Ada juga yang ingin mencukupi kebutuhan dan membahagiakan orang tuanya dulu supaya orang tuanya bangga. Baru setelah itu memutuskan untuk menikah.

Orang seperti itu biasanya orang yang memiliki target hidup. Dia ingin masa depannya tertata dan terencana dengan baik. Kita patut mengapresiasi orang yang merancang masa depan dan mempunyai tujuan seperti itu, karena itu merupakan tujuan mulia, yakni ingin agar kehidupan pasangan dan anaknya nanti terjamin dan tercukupi. Bahkan kita harus mencontohnya, supaya nanti kehidupan kita juga tertata dan terarah.

Ketika kita temui orang-orang seperti itu, yang usianya bisa dikatakan sudah cukup untuk menikah, dan saat ditanya alasannya kenapa harus menunggu semua target itu tercapai dulu, maka kita akan menemukan alasan yang beragam. Ada yang bilang, supaya nanti setelah nikah tidak perlu susah-susah banting tulang untuk mencukupi kebutuhan primer. Paling tidak, jika kebutuhan primer sudah tuntas, maka tinggal mencari kebutuhan sehari-hari saja. Mereka merasa tidak enak kalau setelah menikah masih numpang di rumah orang tua. Mereka merasa kurang mantap jika setelah menikah tidak memiliki kendaraan yang bagus. Mereka juga khawatir jika setelah menikah tidak mempunyai simpanan yang cukup. Akhirnya mereka mengejar target-taget itu dulu sebelum memutuskan untuk menikah.

Jujur, saya (penulis) merupakan golongan orang seperti itu, saya juga sangat menghargai upaya mereka, karena sebenarnya mereka menunda pernikahan itu bukan karena hal negatif, tetapi mereka menunda sejenak karena ingin membahagiakan keluarganya nanti. Mereka ingin ketika sudah berkeluarga, bisa hidup mandiri bersama pasangan dan anaknya dengan berkecukupan, dan tidak lagi merepotkan orang tua. Mereka juga ingin setelah menikah bisa menjalani rumah tangga yang nyaman. Paling tidak dari segi materi dan finansial sudah bisa dikatakan sebagai keluarga yang mapan.

Banyak pernikahan yang retak disebabkan oleh permasalahan ekonomi. Menururt survey yang dilansir oleh kompasiana membuktikan bahwa faktor perceraian tertinggi yang terjadi di Indonesia diakibatkan oleh permasalahan ekonomi. Faktor ekonomi merupakan penyebab terbanyak mencapai 70%, dan uniknya kebanyakan yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Baru setelah itu menyusul faktor lain seperti perselingkuhan, ketidakharmonisan, KDRT dan lain-lain.

Mereka yang mempersiapkan masa depan sejak muda, tidak ingin hal buruk di atas terjadi kepada keluarganya. Kita ketahui bersama, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan harus terpenuhi, dan keinginan manusia tidak berhenti sampai di situ. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka manusia akan memiliki keinginan lain untuk memenuhi kebutuhan tersier dan kebutuhan eksistensinya, seperti gaya hidup. Pada dasarnya, manusia itu memiliki sifat tidak puas, dan kebutuhannya akan selalu bertambah. Setelah kebutuhan 1 terpenuhi, maka manusia akan memiliki kebutuhan ke 2. Hal ini sesuai dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan, maka semakin tinggi juga pengeluaran dan semakin bertambah juga keinginan.

Namun banyak juga pernikahan yang memulai perjuangan dari bawah. Banyak sekali kisah pernikaha yang seru dan menarik. Dimana rumah tangga terbentuk saat keadaan ekonomi masing-masing pasangan belum bisa disebut mapan. Banyak keluarga muda yang memulai rumah tangganya dengan berjuang berdua. Menikmati rumah kontrakan yang sederhana, berkendaraan menggunakan motor biasa, dengan pendapatan dan perabot rumah yang seadanya.

Mereka berjuang dari bawah, mengumpulkan sedikit demi sedikit, dan menikmati hidup dari keadaan yang paling sulit. Banyak orang menyukai pernikahan seperti ini, dengan alasan mereka ingin berjuang bersama serta menikmati kesulitan dan keberlimpahan secara bersama. Jadi pasangan kita tidak hanya tinggal menikmati kemapanan kita saja, tetapi juga ikut berjuang bersama dalam proses meraih kemapanan tersebut.  Paling tidak, perjuangan itu bisa menjadi upaya untuk membuat kenangan yang menarik. Kenangan dalam berproses, itulah yang sering kali jadi penegikat yang kuat antara suami dan istri.

Mamang ini relatif. Ada yang bilang bahwa ujian kesetiaan bagi seorang istri adalah saat suaminya dalam keadaan kekurangan. Sedangkan ujian bagi seorang suami adalah saat dirinya dalam kelimpahan. Terkadang dalam kekurangan mereka bisa saling memahami, saling support dalam berjuang bersama, dan saling membantu dalam setiap keadaan. Namun setelah meraih keberhasilan finansial, godaan dalam keluarga pun ikut membesar. Nah, bagi mereka yang tidak kuat menghadapi ujian kekayaan, bisa tergelincir.

Memilih untuk mempersiapkan semuanya terlebih dahulu sebeum menikah, atau menjalani pernikahan dari nol, itu merupakan pilihan. Jika ingin menjalani pernikahan dengan keadaan mudah yang semuanya sudah tersedia, maka persiapakanlah semuanya sejak muda. Jika ingin merasakan susahnya berjuang sampai akhirnya bisa menikmati kelimpahan bersama dengan pasangan, maka pilihlah nikah muda. Tentu kedua kondisi itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pilihlah kondisi yang sekiranya mampu kita jalani dan tidak memberatkan.

Yang harus kita pahami bersama adalah, bahwa ujian dari Allah bukan hanya dalam bentuk kekurangan, kesusahan dan kemiskinan saja. Kekayaan dan keberlimpahan pun merupakan ujian dari Allah. Maka yang paling penting kita persiapkan adalah sikap metal, bahwa semua yang ada dalam diri kita adalah titipan dari Allah semata. Jangan sampai kita terbuai dengan kemapanan ekonomi. Parameter kemapanan itu relatif, dan mensyukuri setiap keadaan itu prinsip.

Semoga bermanfaat…. (VAU)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar