Take a fresh look at your lifestyle.

Apakah Sejarah Merupakan Ilmu Pengetahuan atau Seni?

0 107

Sejarah Merupakan Ilmu Pengetahuan – Ilmu Pengetahuan menurut Kuntowijoyo mempunyai kesinambungan yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, pengetahuan merupakan ciri utama yang menjadi landasan suatu ilmu dalam mencari keterangan atau penjelasan lebih lanjut tentang suatu hal.

Pengetahuan yang menjadi ilmu itu juga harus mempunyai syarat-syarat yang mencakup subjek, objek dan hubungan antara subjek dengan objek.

Didalam sejarah, sesuatu bisa dikatakan sebagai subjek, jika seseorang mengetahui atau terlibat langsung dengan suatu peristiwa. Sedangkan objek A�merupakan peristiwa yang diketahui subjek. Hubungan antara subjek dan objek tersebut kemudian akan melahirkan sebuah pengetahuan sejarah.

Jika berbicara mengenai sejarah, pengetahuan yang menjadi landasan ilmu sejarah adalah peristiwa sejarah.

Dengan apa yang telah dijelaskan diatas. Maka kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah layak dikatakan sebagai suatu ilmu pengetahuan dengan beberapa syarat yang mencakupi.

Lalu bagaimana mengenai pendapat tentang sejarah juga sebagai seni ?

Sebagai sejarawan kita tidak semata mata menuangkan data dan fakta mengenai peristiwa masa lampau dengan begitu saja. Jika demikian, mungkin apa yang sudah dituangkan sejarawan, sulit dipahami pembaca.

Maka sejarawan merasa perlu memiliki jiwa seni. Terutama dalam sebuah penggambaran suatu peristiwa atau deskripsi suatu peristiwa atau seseorang yang dituangkan biografi.

Dalam seni kita mengenal intuisi, imajinasi, dan pengahyatan. Supaya peristiwa sejarah benar-benar bisa kita hayati dengan penuh pemahaman dan penggambaran yang seolah-olah membuat pembacanya merasakan keterlibatan secara langsung dengan peristiwa sejarah tersebut. Sedangkan dalam mendeskripsikan seseorang (biografi) jelas kita harus mempunyai kelihaian dalam menggambarkan watak orang tersebut.

Berarti jika demikian, sejarawan juga bisa dikatakan sebagai pengarang dong ?

Jawaban yang bisa penulis jelaskan adalah memang bisa dikatakan seperti itu. Karena dua-duanya dituntut untuk memberikan suatu gambaran atau karangan, yang mengharuskan mereka menimbulkan bentuk tiga dimensinya, artinya seperti nyata terjadi.

Tetapi dalam hal lainnya, antara sejarawan dan pengarang mempunyai beberapa perbedaan. Dimana pengarang tidak dituntut memperoleh fakta-fakta, data-data, bukti, saksi atau berkas mengenai suatu peristiwa seperti apa yang diwajibkan sejarawan. Kemudian, perbedaan selanjutnya adalah keleluasaan seorang pengarang yang tidak terbatas oleh nilai-nilai, pola atau gaya hidup golongan terntentu, hubungan sosial dan sebagainya.

Terkahir dalam membuat rekontruksi yang terwujud sebagai konstruk yang koheren. Sejarawan harus benar-benar hati-hati dalam menggambarkan suatu peristiwa karena keobjektifannya sangat dituntut.

Kesimpulannya adalah sejarah juga bisa dikatakan sebagai seni.

Sumber : Sulasman. 2014. a�?Metode Penelitian Sejaraha�?. Bandung : Pustaka Setia.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar