Take a fresh look at your lifestyle.

Arab? Mengapa Menjadi Alergi

0 135

Arab? Sorry Aku Alergi. Belakangan ini, sebagian “intelektual” Indonesia sedang dihinggapi alergi terhadap sesuatu yang berbau Arab. Indikatornya, terlihat dari munculnya beberapa gerakan yang patut diduga memiliki kecenderungan anti Arab atau hanya sekedar berbau Arab. Kajiannya, umum dibungkus dalam diskusi keagamaan atau diskusi kebudayaan.  Yang menjadi korban, tentu saja adalah mereka yang memiliki silsilah keturunan Arab atau mereka yang terbiasa menggunakan atribut Arab.

Arab dikesankan bahlul dan harus terus dikoreksi otoritas keagamaannya. Tersembullah suatu rumusan bahwa Islam misalnya, harus dianggap tidak identik dengan Arab. Bahkan Islam Indonesia seolah dipaksa harus ke luar dari frem Arab dengan tipikalnya sendiri yang berbeda dengan Islam yang berkembang di negeri asalnya. Islam Indonesia lebih tepat disebut sebagai Islam Nusantara.

Akhirnya, belakangan ini, secara tidak sadar banyak umat seolah harus selalu melawan terhadap sesuatu yang berbau Arab. Arab, harus dipandang sebagai alergi yang mebahayakan bukan saja bagi ke-Indonesiaan, tetapi, bahkan bagi keislaman itu sendiri.

Makna Alergi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia [1980], alergi [aler-gi atau alérgi] dimaknai sebagai perubahan reaksi tubuh terhadap kuman. Akibatnya, timbulah penyakit dalam tubuh seseorang. Dalam makna lain, alergi sering juga diterjemahkan dengan keadaan yang sangat peka terhadap penyebab tertentu. Penyebab dimaksud bisa berupa zat, makanan, serbuk, keadaan udara, asap yang dalam kadar tertentu, untuk sebagian besar orang tidak membahayakan. Tetapi, bagi diri seseorang, keadaan dimaksud, justru membahayakan.

Sebut misalnya, ada orang yang kalau makan Ikan Asin, tubuhnya langsung gatal-gatal. Padahal banyak orang, justru merasa lahap ketika makan, kalau ditemani dengan ikan asin. Lalu, apakah salah jika ada orang, makan dengan lahap jika ada ikan asin?

Pertanyaan lainnya, haruskah kita mengatakan, kamu tidak boleh makan ikan asin. Mengapa? Karena ikan asin dapat membuat tubuh menjadi gatal. Padahal yang anda larang, ternyata, tidak menyebabkan alergi bagi orang lain. Karena itu, bagi mereka yang tidak alergi ikan asin, seabreg makan ikan asin, tetap saja, ia tidak gatal.

Menjadi tidak bijak akhirnya, jika kita memaksa orang lain agar tidak memakan ikan asin, hanya karena kita alergi atasnya. Apa tidak lebih bijak misalnya, kita tetap membiarkan orang lain memakan ikan asin, meski kita tidak memakannya.

Contoh Alergi Arab

Berikut beberapa contoh yang patut dianggap beralergi Arab. Berjanggut dianggap berbau ke-Arab-araban dan itu tidak Indonesianis. Makin panjang janggut, maka, semakin bodohlah dia. Mereka yang berpikir seperti itu lupa, bahwa ilmuan yang berjanggut ternyata jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tidak berjanggut.

Lupa bahwa di luar masyarakat Arab, termasuk mereka yang menjadi ilmuan di Eropa dan Barat, kebanyakan di antara mereka justru berjanggut. Apalagi filosof. Banyak di antara mereka berjanggut dengan tebal dan panjang.

Berkata Assalamu’alaikum adalah Arab. Kalimat dimaksud bukan cara Indonesia untuk mengucapkan do’a saat bertemu atau berpisah dengan seseorang. Cara Indonesianya adalah, selamat pagi, selamat siang, selamat sore atau selamat malam. Mereka lupa bahwa assalamu’alaikum adalah do’a universal yang memaksudkan keselamatan untuk pagi, siang, sore dan malam. Belum ada dalam kaidah bahasa Indonesia untuk menyampaikan susunan keselamatan sepanjang waktu semacam assalamu’alaikum.

Kalimat-kalimat lain yang berbau atau terserap dari bahasa Arab juga sama, harus ditolak karena berjarak dengan tradisi Indonesia. Sebut misalnya mengatakan ummi, abi, ustadz. Kalimat dimaksud berbau Arab dan itu tidak identik dengan kata Islam. Islam, sekali lagi tidak identik dengan Arab.

Kita menjadi lupa bahwa ternyata kata Murid dan Madrasah adalah bahasa Arab. Sulit membayangkan bagaimana kalau misalnya kata Madrasah diganti menjadi sekolah. Maka sudah pasti, hari ini kita sudah tidak mengenal sekolah dengan nama Raudhatul Atfhal RA], Madrasah Ibtidaiyah [MI], Madrasah Tsanawiyah [MTs] atau Madrasah Aliyah [MA].

Karena tidak boleh ber-Arab-araban, maka, semua sekolah tadi harus diganti menjadi SD, SMP atau SMA. Mengapa ini penting disampaikan? Sebab mereka yang menolak penggunaan kata berbau Arab itu, justru kebanyakan berasal dari mereka yang bergelut dalam dunia Madrasah. Padahal jika sekolah mereka harus di Indonesiakan,  saya pastikan, mereka pasti bakal menolak dengan keras.

Mereka tidak ingin RA menjadi TK, MI menjadi SD, MTs menjadi SMP atau MA menjadi SMA. Padahal kalau mau jujur, mereka seharusnya berada di gerbang terdepan, untuk menghilangkan kata-kata berbau Arab dalam dunia pendidikan. Mengapa? Sebab dari situlah justru Arabisme dikembangkan.

UUD Pun Penuh Kalimat Arab

Jangan tanya UUD 1945. Jika harus di Indonesiakan, maka, kita tidak tahu berapa banyak waktu yang diperlukan MPR untuk mengubahnya. Mengapa? Sebab kalimat-kalimat yang tertuang dalam UUD tadi, sangat padat dengan kata-kata Arab.

Saya secara pribadi, hanya satu yang patut disyukuri. Mereka yang dengan begitu antusias melakukan gerakan-gerakan tadi, tidak memaksa memakai Koteka. Mengapa? Sebab Koteka adalah adalah murni [genuin] budaya asli sebagian penduduk Indonesia, bernama Irian Jaya. Sorry Kawan, ini catatan sore saja. Prof. Cecep Sumarna

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar