Inspirasi Tanpa Batas

Artikulasi Pendidikan Agama sebagai Ekstra Logika

0 15

Konten Sponsor

Artikulasi Pendidikan Agama sebagai Ekstra Logika. Mengutif tulisan Nataatmadja [1996], artikulasi pelajaran agama berbeda dengan pelajaran eksak. Jika materi agama disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, sekolah tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. Sekolah akan lebih tepat disebut sebagai system pengajaran, sistem digital atau system hapalan.

Pendidikan agama mengharuskan adanya aktualisasi fitrah manusia. Fitrahnya selalu bersipat spiritual. Pendidikan ini mestinya disalurkan kepada peserta didik melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah.

Jika kita sedikit berselancar dengan lain, asumsi Nataatmadja sebenarnya dapat dikorelasikan dengan pikiran Albert Einstein. Ia mengatakan bahwa, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif).

Pembentukan Watak melalui Pendidikan Agama

Pendidikan agama harus mampu membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang berwatak. Karena ia dituntut mampu menjadi manusia manusia berwatak, maka, tugas utama pendidikan agama adalah mendamaikan. Misalnya, bagaimana Pendidikan agama mampu mendamaikan Sains dan teknologi agar lebih mampu mendekatkan diri peserta didik dengan Tuhan. Bukan malah sebaliknya. Sains dan teknologi malah menjauhkan manusia dengan Tuhan.

Secara alur nalar logis, hal ini, secara apik pernah diilustrasi banyak ilmuan. Sebut misalnya apa yang ditulis Bambang Joko Susilo yang menulis dengan tema: “Jangan Main-main dengan Tuhan”. Pertandingan antara teknologi manusia dengan kekuasaan Tuhan, tidak mungkin mampu dikalahkan. Sebetapapun capaian sains dan teknologi itu mampu dihasilkan manusia. Namun demikian, belakangan ini pertontonan pertandingan antara keduanya itu, termasuk dalam soal-soal yang sangat sensisitif, seperti atau seolah akan mampu mengalahkan Tuhan.

Karena itu, pendidikan agama, seharusnya mampu membangun jiwa peserta didik. Dalam nalar penulis, teori ini sebenarnya dapat direlevansikan dengan kajian psikologi. Mengapa? Sebab pendidikan keagamaan dalam banyak kasus akan mirip dengan kegiatan yang dilakukan konselor dalam mewujudkan perilaku peserta didik. Beberapa kegunaan konselor dalam konteks pembentukan kepribadian peserta didik dapat terlihat dalam narasi berikut ini.

Pertama. Pengutan positif, yaitu memberikan pengatan terhadap tindakan yang dinilai posotif atau baik. Kedua. Penguatan negatif, yaitu dengan memberikan penguatan untuk meninggalkan tindakan-tindakan yang dipandang negatif atau kurang tepat.

Ketiga. Penghapusan, yaitu usaha untuk menurunkan tindakan yang tidak dikehendaki dengan memberikan pengutan manakala tindakan itu terjadi, dan; Keempat. Hukuman,  yaitu dengan memberikan hukuman terhadap mereka yang melkukan tindakan yang dipandang tidak sesuai dengan harapan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat. [Gerald L. Stone. Counseling Psychology: Perfective and Funtion. California: Cole Publishing, 1986].

Relasinya Pendidikan Agama dan Psikoanalis

Psikoanalisis sebenarnya adalah bagian dari kajian psikologi. Hanya saja, Psikoanalisis memiliki tipikalnya sendiri yang lebih menekankan pada dimensi-dimensi hubungan antara perilaku dengan apa yang disebut kondisi social yang ada. Sigmund Freud dalam buku berjudul On Sexuality. [London: Pnguin Books, 1977] dan Clare W. Grave. An Emergent Theory of Etichal Behaviour Based epigenetic Model menyusun teori ini dalam Value Memes Spiral Dynamict. USA: University of Michigan, 1959.

Menurut Mc.leland, pada dasarnya dalam diri setiap orang terdapat kebutuhan untuk melakukan perbuatan dalam memperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Kebutuhan ini disebut sebagai kebutuhan untuk berperestasi (need for achievement). Kebutuhan ini dapat mendorong individu untuk melakukann perbuatan sebaik mungkin. Sisi-sisi begini, seharusnya mampu dikonstruk di pendidikan agama.

Menurut teori ini, perbuatan yang dilakukan seseorang itu didorong karena adanya kebutuhan untuk berperestasi. sebaik mungkin dalam mencapai tujuannya. Dengan demikian setiap manusia mempunyai kualitas tingkatan motif berperestasi yang berbeda satu dengan lainnya ada yang bermotif tinggi dan ada yang bermotif rendah.

Menurut David Mc.Clelland, orang yang tergolong bermotif tinggi di tandai dengan tiga ciri. Ketiga ciri dimaksud adalah:  1) menyenangi situasi yang menuntut tanggung jawab peribadi untuk menyelesaikan masalah. 2). cenderung mengambil resiko yang moderat dibanding dengan rasiko rendah atau tinggi, dan 3). Selalu mengharapkan balikan nyata (concrete) dari semua unjuk kerja yang telah dilakukannya. Lihat  Arthur W. Combs. Helping Relationships: Basic Concepts for the Helping Profession. Boston: Allyn and Bacon, 1978. Dr. H. Djono

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar