Inspirasi Tanpa Batas

Arwah Nakhoda Desa

0 339

Arwah Nakhoda Desa. Suatu malam, di sudut rumah Kepala Desa, anjing melolong keras. Lolongan itu, berbeda dengan lolongannya di malam lain. Suaranya begitu melengking seperti ingin menangis. Tubuh binatang yang tampak gagah itu, suaranya bahkan tampak parau seperti sedang menunjukkan rasa takut yang akut.

Malam itu, pemilik rumah terperanjat bangun sendiri. Ia tak peduli, meski matanya baru terpejam beberapa saat, ia memaksakan diri bangkit dari kasur empuknya. Kasur  yang dia peroleh dari hasil upeti para pengusaha lokal yang dia menangkan tendernya. Kasur empuk itu, segera ia tinggalkan.

Pemilik rumah menyadari bahwa lolongan anjing herdernya di malam itu, membuat suasana rumah menjadi cukup mencekam. Bulu kuduknya pun dibikin merinding. Kebiasaan sebelumnya yang selalu berpikir bahwa ketika herder kesayangannya bersuara, ia memastikan diri, pasti ada penjahat yang bakal masuk kerumahnya.

Kali ini tidak! Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Suara itu menunjukkan gejala lain dari yang lain. Suatu gejala misterius yang tidak pernah dia alami sepanjang hidupnya.

Hadirnya Sang Kakek 

Saat berada dalam suasana yang penuh misteri itu, ia membuka tirai jendela rumahnya dengan pelan. Tirai itu, secara perlahan bahkan dengan gerakan yang sangat lembut ia buka. Matanya pun dibuka secara pelan dan perlahan.

Tiba-tiba ketika matanya terbuka, suara anjing itu berhenti. Kepala Desa yang belakangan mulai kehilangan arah dengan pandangan mata yang sering kosong, justru melihat dengan jelas, tegak berdiri seorang laki-laki tua di lorong depan rumahnya. Laki-laki itu, menggunakan pakaian serba putih, kecuali sabuk dan serbannya yang berwarna hijau.

Ia menggosokkan tangan pada ke dua pelipis matanya berulang-ulang. Ia ingin meyakinkan diri, bahwa sosok dimaksud adalah benar kakek kesayangannya. Tetapi apa mungkin?  Bukankah dia telah lama meninggal dunia.

Di bawah alam sadarnya, kakek yang mengajarkan ngaji kepadanya sewaktu kecil dan kanak-kanak, memang sering muncul belakangan ini. Terlebih ketika sakit ambeyen dan gangguan darahnya, memaksa dirinya sering ke rumah sakit. Ajaran-ajaran sang kekek dengan ujaran bermutu penuh makna, sering muncul tanpa diduga.

Tetapi, mengapa saat ini mewujud. Dalam lamunan pendek dengan gemetaran dia terus menatap sosok putih itu. Dan entah mengapa, dengan cepat bak kilat, bayangan itu mendekati dirinya. Hingga saking cepatnya, dia justru terjatuh dengan keras, hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Dalam ketidaksadaran dirinya itu, ia justru merekam segenap perjalan hidupnya.

Mengenang Perjalanan 

Di masa lalu, sebelum menjadi Kepala Desa, kamu dikenal baik dan santun. Banyak orang menganggapmu dermawan. Kamu telah dikaruniai sejumlah kekayaan meski hanya bersipat warisan. Sebagian dari warisan itu, adalah apa yang aku wariskan kepada bapakmu.

Karena tinggal di kampung, beberapa pabrik, kamu miliki. Betapa bangga penduduk yang kau olah hasil pertaniannya dengan baik. Dulu kamu dikenal shaleh dan baik terhadap orang lemah.

Tetapi ingat cucuku. Bukan karena Itu kamu didorong menjadi Kepala Desa. Kamu dipilih dan terpilih menjadi Kepala Desa, karena banyak orang menganggapmu figur lemah, kurang wawasab dan cenderung pandir. Karena kelemahan dan kepandiranmu, kamu terpilih atau dipilih.

Tujuannya bukan untuk memakmurkan, memelihara dan meningkatkan harkat dan martabat rakyatmu. Tetapi, jutsru yang paling penting bagi pemilihmu adalah memperdayaimu. Menjadikanmu sebagai prisai untuk melindungi segenap kekeliruan dan kesalahan yang ditimbulkan mereka.

Coba kamu lihat, Kaur-kaur Desa yang kau angkat. Mereka bukan saja berasal dari klanmu saja, tetapi, juga dipilih orang-orang lemah. Jika dalam perkembangannya, ada di antara mereka yang kritis, maka, mereka dieliminasi dari lingkaranmu. Tentu tanpa kamu sadari.

Penasehat utama yang menjadi tokoh kunci klanmu, yang kau angkat menjadi konsultan pemerintahanmu, sejatinya telah sering memperdayaimu. Inilah sosok yang banyak memberi gambaran kepada dirimu, bahwa dia harus meniru gaya Presiden Lybia, Muammar Kadaffi.

Di masa pemerintahannya, Lybia tidak melahirkan seorang jenderal, satupun. Mengapa hal itu dilakukan? Karena Kadafi bukanlah seorang jenderal. Semua orang harus berada dalam strata di bawahnya.

Janganlah kau lupa cucuku, bahwa kepala Desa akan menjadi maskot masyarat yang dipimpinnya. Pepatah lama menyebut bahwa ketika kepala desa itu pandir, maka, kemungkinan besar rakyatnya akan pandir.

Ketika Kepala Desa tidak memiliki beras, maka, rakyatnya akan jauh melarat. Ketika Kepala Desa itu, suka main perempuan, maka, besar kemungkinan, rakyatnya akan juga memiliki tabi’at yang sama. Ketika Kepala Desa itu penjudi, maka, rakyatnyapun akan senang dengan perjudian.

Karena jabatan itu, kamu menjadi abai untuk menggunakan nuranimu, Siapa sebenarnya pembela kamu. Siapa sesungguhnya yang menjaga kamu. Untuk itupun kamu pasti tidak tahu.

Isyarat itu Sudah Lama

Sesungguhnya aku telah lama memberi isyarat kepadamu. Tetapi karena jabatan itu, kamu menjadi lupa segalanya. Hingga kamu tidak mampu membedakan mana yang bathil dan mana yang hak. Apalagi tentu isyaratku yang tak jelas.

Kepala Desa itu kemudian terisyak, menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal, jabatan yang digenggamnya, tidak dijadikan washilah kebaikan untuk membela umat dan rakyat. Ia terjebak dalam lingkaran kebencian yang tak menentu.

Tetapi, ia kemudian kaget, ketika sang kakek itu menghilang, ia menyaksikan banyak orang sedang mengurusi tubuhnya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah aku mati …. !

Lalu ia melihat lorong gelap seperti terbuka untuk dirinya. Ia menyaksikan semua keluarganya menangis … sementara ia seperti ke sedot tarikan yang demikian kuat menuju lorong yang sangat pekat.

Ia tidak mampu jangankan berkata “astaghfirullah”, atau apalagi menyampaikan maaf kepada seluruh warga masyarakat yang merasa terdhalimi atas ulahnya yang pandir, sekedar melambaikan tangan kepada keluarganyapun tidak! Ia heran dan tak mengerti.

Sementara ia merasa terus terseret ke lubang hitam yang pekat. Ia menjadi tak lagi mampu melihat keluarganya menangis. Ternyata ruhnya telah menghilang, menguap seperti asap… entah ke mana. Prof. Dr. Cecep Sumarna

 

 

Komentar
Memuat...