Inspirasi Tanpa Batas

Asal Usul Cina Nusantara | Di mana Kaum Pribumi Berpijak Part – 4

Asal Usul Kedatangan Cina di Nusantara Di mana Kaum Pribumi Berpijak Part - 4
0 96

Asasl Usul Cina Nusantara. Dalam tulisan Ramadhian Fadillah, Jumat, 31 Januari 2014 05:03 di Merdeka.com, disebut bahwa orang Tiongkok, datang ke Indonesia, terjadi sejak tahun 1644. Kedatangan mereka, secara pantastik terjadi sejak dinasti Ming runtuh. Keruntuhan dinasti ini, diperkirakan terjadi pada tahun 1644 Masehi.

Keruntuhan Dinasti Ming yang digantikan dinasti Ch’ing, telah membuka ruang baru dalam konteks hubungan diplomasi antar berbagai negara. Sejak saat itu, perdagangan antara Tiongkok dengan Asia Tenggara, kembali dibuka. Termasuk tentu dengan masyarakat Nusantara yang hari ini dikenal dengan nama Indonesia.

Namun demikian, tulisan Ramadhian Fadillah tadi, sejatinya tidak menunjukkan data sempurna. Karena itu, tentu banyak sekali analisis yang menunjukkan fakta lain. Jika kita menelusuri berbagai sumber lain, ditemukan bahwa sesungguhnya masyarakat Tiongkok datang ke Indonesia sudah jauh hari sebelum tahun dimaksud.

Hendro Lukito yang dilansir Jakarta Netral News.com. misalnya menyatakan bahwa orang Tiongkok bermigrasi ke Indonesia, secara bergelombang terjadi sejak abad ke 3 Masehi. Hubungan diplomatik antara Nusantara dengan Tiongkok ini, telah menyebabkan terjadinya hubungan timbal balik perdagangan dan lalu lintas barang dari Tiongkok ke Nusantara atau sebaliknya. Hubungan ini, menegaskan bahwa, Tiongkok dan Nusantara sudah terjalin komunikasi sejak awal-awal abad tahun Masehi.

Mata Pencaharian Tiongkok

Mata pencaharian masyarakat Tiongkok di Nusantara, pada umumnya adalah berdagang, bertani, dan tukang. Kedatangan mereka, secara umum sendiri dan tidak ditemani oleh istrinya. Mengapa? Sebab orang Tionghoa, secara tradisi, melarang kaum perempuan ke luar dari Tiongkok. Mereka umumnya, menahan kaum perempuan untuk tetap tinggal di kampung halamannya.

Akibatnya, banyak orang tiongkok awal yang datang ke Nusantara itu, akhirnya, menikahi sejumlah perempuan asli Indonesia. Mereka diterima dengan baik. Masyarakat inilah yang melahirkan peranakan Indonesia-Tionghoa. Perkawinan dua bangsa ini, umumnya diadakan secara meriah dan mahal dengan adat istiadat dan kebiasaan bangsa Tionghoa sendiri. Merekapun mampu melakukan perkawinan mahal itu, karena, umumnya adalah kaum pedagang yang berduit.

Orang Tiongkok yang ke Nusantara dan menikah di Nusantara itu, tetap bermukim di perantauan [termasuk Nusantara] sampai beberapa keturunan tanpa pernah kembali ke negeri asal mereka. Mereka membaur dengan bahasa, makanan, pakaian dan agama yang dianut masyarakat Nusantara.

Kita tahu bahwa Nusantara maoritas beragama Islam. Karena itu, agama mereka juga Islam. Mereka sama menolak makan babi dan menjalankan adat istiadat penduduk asli Nusantara. Itulah yang menyebabkan mereka diterima dengan baik, bukan saja oleh masyarakat biasa, tetapi, juga oleh para penguasa dan agamawan. Tidak sedikit bahkan di antara mereka yang dinikahkan dengan anak-anak ulama.

Kemudian ketika Nusantara berada dalam kekuasaan kerajaan Tarumanegara dan kerajaan Kutai di pedalaman Kalimantan, mereka dihadirkan untuk mengolah emas. Diketahui bahwa di Kabupaten Kutai, daerahnya kaya akan hasil tambang emas. Karena emas inilah, masyarakat Nusantara banyak membutuhkan pekerja pembuat bangunan dan pedagang emas serta tentu pandey emas. Jangan heran juga, jika Kutai, Sanggau Pontianak dan daerah sekitarnya, banyak dihuni masyarakat Cina, termasuk sampai hari ini.

Cina di Gelombang Lain

Kedatangan orang Tiongkok di Nusantara, kemudian melesat tajam pada pertengahan milenium kedua Masehi. Kurang lebih 5.000 orang Tionghoa datang ke Batavia pada tahun 1683 Masehi. Inilah yang meledakan jumlah penduduk orang Tionghoa di Pulau Jawa.Ai?? Sampai pada awal abad ke 19 saja, jumlah penduduk Tionghoa, telah melebihi 100.000 orang. Kedatangan Tiongkok pada masa ini, tentu saja berbeda dengan kedatangan mereka di awal-awal abad Masehi.

Migrasi besar-besaran orang Tiongkok ke Nusantara, dilakukan oleh Armada angkatan laut Khubilaikan [Jhengiskan]. Mereka inilah yang memiliki peran penting dalam ai???mengeksportai??? masyarakat Tiongkok ke Nusantara. Tujuannya, tentu saja dalam kerangka ekspansi wilayah kekuasaan. Sama seperti apa yang dilakukan mereka ketika melakukan ekspansi kekuasaan ke jantung kekuasaan Islam di Bagdad yang kemudian terdampar di India. Inilah, tampaknya yang menjadi bibit awal ketidakramahan masyarakat pribumi terhadap orang-orang Tiongkok.

Masyarakat etnis Tionghoa baru ini, datang sekaligus dengan membawa adat dan ideologi keagamaan mereka. Gelombang inilah yang kemudian mendirikan Kelenteng [tempat ibadah mereka] yang masih dapat dilihat sampai masa sekarang. Sejak itulah, kaum pribumi kemudian menyebut orang Tiongkok sebagai warga asing

Kedatangan Laksmana Cheng Ho abad ke-14 di Pelabuhan Muarajati Cirebon, karena itu sesungguhnya merupakan lanjutan panjang dari migrasi mereka ke Nusantara. Namun demikian, catatan penting untuk disebut bahwa kedatangan mereka, khusus ke Cirebon bersama Putri Ong Tien, telah memberi warna keragaman tersendiri bagi budaya di Cirebon khususnya, dan Nusantara pada umumnya. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Komentar
Memuat...