Inspirasi Tanpa Batas

Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi SAW

0 195

Asal-usul perayaan maulid Nabi Muhammad SAW terdapat perdebatan tentang siapa yang pertama kali mencetuskan ide dan siapa yang pertama kali mengadakan acara. Di buku Shorter Ensyclopedia of Islam menyatakan, bahwa perayaan maulid pertama kali dilakukan oleh ibunda Harun al-Rasyid, Khaizuran (w. 173/789-90) yang merayakan di kediamannya dengan upacara yang sederhana. (H.R. Gibb dan J. H. Kramers, Shorter Ensyclopedia of Islam, London, 1961, hlm. 365)

Dikabarkan ingin meraih popularitas dihadapan masyarakat, seorang penguasa dari dinasti Fatimi yang menetap di Mesir, yaitu al-Mu’izz li Din al-Allah (memerintah tahun 341/953 memperkenalkan perayaan maulid Nabi.

Pada masanya maulid Nabi dirayakan pdalam 6 kali kesempatan, yaitu: kelahiran Nabi Muhammad, Ali ibn Abi Thalib, Fatimah, al-Hasan, al-Husein, dan khalifah (raja) yang berkuasa. (Nico Kaptein, Perayaan Hari Lahir Muhammad s.a.w., Jakarta, INIS, 1994, hlm. 20, 24).

Perayaan maulid Nabi pertama dalam Islam Sunni dipelopori Nur al-Din, seorang pengusa di Siria (511/1118-569/1174).

Meskipun maulid Nabi merupakan perayaan kaum Syi’ah, namun perayaan ini atas rasa hormat terhadap keluarga Nabi. Selain Nur al-Din, seorang Syekh dari Mosul bernama ‘Umar al-Malla’. Setiap tahun selalu merayakan maulid Nabi dengan mengundang para ulama, fuqaha’, pangeran dari Mosul dan penyair yang membacakan syair-syair pujian tentang Nabi SAW.

Perayaan Maulid Pada Masa Al-Kokburi

Sedangkan perayaan maulid paling meriah adalah perayaan yang dilakukan oleh Muzhaffar al-Din Kokburi, gubernur wilayah Irbi, di masa pemerintahan Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi (1250-1260). Dia adalah putera sulung dari Dinasti Beqtegini, Zain al-Din Ali Kucul ibn Bektakin.

Adapun perayaan maulid pada masa al-Kokburi memperoleh dukungan dari kelompok elite politik, Pada waktu itu diselenggarakan untuk memperkuat semangat keagamaan umat Islam yang sedang menghadapi ancaman tentara Salib (Crusaders) dari Eropa.

Perlu diketahui bahwa suasana perang yang dialami komunitas Muslim telah menimbulkan kegalauan batin, hingga mereka memerlukan simbol-simbol keagamaan yang mampu meredam kegundahan tersebut. (Thoha Hamim, Islam & NU: di Bawah Tekanan Problematika Kontemporer, cet. I, Surabaya, Diantama, 2004, hlm. 185)

Perayaan ini sangat fenomenal, hingga menarik orang-orang dari berbagai tempat setiap tahunnya, seperti: Mosul, Nisabin, dan Baghdad. Mereka berdatangan dari negeri-negeri tetangga pada bulan Muharram sampai hari-hari pertama Rabi’ al-Awwal. (Niko Kaptein,hlm. 25)

Perayaan Maulid pada masa Muzhaffar

Perayaan Maulid pada masa Muzhaffar diawali dengan kedatangan tamu undangan yang terdiri dari para pangeran, tokoh agama, pejabat, kaum sufi, dan para pembaca al-Qur’an. Mereka ditempatkan pada bangunan yang khusus, dan mereka dihibur dengan aneka pertunjukan musik serta permainan sampai usai perayaan.

Selama seminggu jalanan kota diramaikan pasar malam tahunan. Sebelum hari perayaan maulid Nabi SAW. setelah shalat maghrib dilaksanakan upacara dari sebuah biara kaum sufi ke Khankah yang dipimpin seorang pangeran. Kemudian dipagi hari seluruh rakyat ditempatkan di depan Khankah. Sedangkan sultan, para pangeran, dan pejabat istana ditempatkan di sebuah panggung yang lebih tinggi.

Dari tempat itu, mereka bisa mengamati orang-orang yang menghadiri perayaan maulid. Dan pasukan tentara yang bertugas mengamankan jalannya prosesi perayaan maulid. Acara paling diminati adalah ceramah keagamaan yang disampaikan oleh para khatib masjid dan pemberian hadiah serta jubah kebesaran pada para pangeran sebagai tamu kehormatan.

Komentar
Memuat...