Asmara tanpa Cinta | Candu Asmara Remaja Part – 13

Asmara tanpa Cinta | Candu Asmara Remaja Part - 13
0 323

Asmara tanpa Cinta | Di perjalanan menuju rumah sakit bersalin, Kelvin terus membayangkan ghairah asmara Kayla. Ia sulit membayangkan dapat menikmati kakak iparnya yang memang lebih cantik dari Nisa. Ghairah asmaranya, jauh dari apa yang diperagakan istrinya. Bagaimana Kayla mencumbunya dan mengajaknya ke alam imaginasi keindahan yang belum pernah dia rasakan selama perkawinannya. Bayangan itulah, yang menyebabkan Kelvin menjadi sangat bergairah. Desah nafas, model dan gaya yang ditampilkan Kayla, begitu hebat. Kayla telah membawanya hanyut dalam segenap rasa penuh keindahan.

Sesampainya di rumah sakit, Kelvin mendengar suara Nisa meraung. Ia segera masuk dan memegang tangan Nisa dengan erat. Kelvin begitu kasiannya melihat Nisa. Tiga Puluh menit Nisa meraung mengeluarkan cabang bayi dari rahiemnya. Saat itu Kelvin sadar, bagaimana ibunya dulu melahirkannya. Ia meneteskan air mata ingat akan perjuangan ibunya.

Kenapa menangis kata Nisa. Nggak kata kelvin. Aku kasian melihat kamu. Mendengar kalimat itu, Nisa bahagia menyaksikan suaminya meneteskan air mata. Tidak lama kemudian, anak pertama mereka lahir dengan selamat. Kelvin mengadzani dan mengiqomati anak mereka yang baru lahir itu, tepat pada pukul sepuluh pagi.

Kayla Membayangkan Kelvin

Jika Kelvin menjaga Nisa yang bertarung kematian saat melahirkan, Kayla justru masih mengimaginasi asmaranya. Ia bergumam dalam hatinya: “Meski aku tak lagi memiliki rasa cinta, bukan hanya pada suamiku tetapi juga dirimu Kelvin. Tetapi, sejujurnya, aku suka dengan cowok seperti kamu. Aku kehilangan kata dan kehilangan rasa akan sebuah kata cinta. Aku hanya memiliki ghairah dan segera ingin kutumpahkan ghairah semacam ini, saat bertemu dengan siapapun yang aku suka. Termasuk tentu denganmu Kelvin. Ia terus membayangkan ghairah itu tanpa henti.

Siang hari di mana Nisa melahirkan, Rayhan suami Kayla datang dari Tanahabang,  Jakarta. Suaminya yang memiliki toko pakaian di pasar terbesar di Jakarta itu, biasanya pulang antara 3 atau 4 hari dalam seminggu. Dia datang dalam waktu yang tidak diprediksi oleh Kayla. Karena itu, ia tidak membuat makanan dan minuman untuk suaminya itu. Kayla saat di mana suaminya datang, justru masih ada di kamar dengan hanya memakai pakaian tidur yang sangat tipis. Ia masih malas-malasan di kamarnya dan tidur karena mungkin masih lelah memadu kasih terlarang bersama adik iparnya itu.

Suaminya datang ke rumah di mana Kayla tinggal dengan sangat pelan. Ia tidak memijit pintu gerbang dan tidak memijit bel masuk rumah. Ia langsung masuk rumah dan masuk ke dalam kamar karena kebetulan semuanya tidak terkunci. Sesampainya di kamar tidur,  ia melihat istrinya yang masih tiduran di kasur mereka. Ia mendekatinya dan mengecup keningnya dengan lembut. Saat dia dikecup itu, Kayla membuka matanya dengan pelan dan langsung memeluknya. Ia peluk laki-laki yang ada di sampingnya dengan sangat kuat. Kayla sebenarnya masih mengimaginasi Kelvin. Karena itu aroma rangsangannya, masih seperti berhadapan dengan adik iparnya, bukan dengan suaminya.

Tentu suami Kayla demikian bangga dan senang. Ia yang beberapa hari tidak melakukan hubungan suami istri demikian mudahnya terbawa dalam aroma asmara suami istri yang syah. Mereka memadu kasih bersama dalam belaian ketulusan cinta Rayhan, suaminya itu. Tak kuasa menerima pelukan Kayla, Rayhan berkata:

“Terimakasih Kayla. Kau begitu pengertian. Aku bahagia memiliki istri kamu. Aku juga bangga menjadi suaminya. Salah satu sebab mengapa aku pulang cepat, sesungguhnya karena aku merindukanmu dan gairah cintamu. Saat pujian itu diluncurkan, Kayla, sosok wanita yang seperti tidak ada lelah berimain asmara ini, mendekapnya dengan erat. Dalam bathinnya, ia mengatakan, maafkan aku Rayhan. Aku membayangkan orang lain yang mendekapku. Lalu Kayla mencumbu suaminya dengan penuh ghairah. Ia mengatakan, mengapa kau tidak memberitahu aku, kalau kamu pulang hari ini. Rayhan mengatakan, sengaja untuk membuat kejutan.”

Setelah itu, mereka bangun. Lalu mandi bersama di sebuah tempat yang beberapa jam sebelumnya dipakai Kayla dengan Kelvin. Keduanya membasahkan tubuhnya dengan cucuran air wc yang sangat deras.

Makan Bersama Rayhan

Selesai mandi, keduanya masak bersama. Kayla membuat sesuatu yang dia suka. Rayhan juga sama. Kedua memasak sesuai dengan seleranya masing-masing. Setelah itu, mereka makan berdua di meja makan yang demikian besar. Sambil makan Rayhan menyaksikan muka Kayla sangat pucat. Ia bertanya, hai Kayla mengapa mukamu pucat begitu. Kayla mengatakan mungkin kurang tidur, sebab tadi malam, Nisa kan terasa akan melahirkan. Jadi kami se rumah tidak bisa tidur. Rayhan menganggukan kepala dan kemudian mereka makan bersama kembali.

Dalam bathin Kayla berkata, bagaimana aku tidak pucat. Berapa banyak ovum yang aku keluarkan malam dan hari ini. Ia tertunduk lemas dan agak sedikit malas, ia segera mengambil telur dua butir ayam kampung dan madu Arab. Ia mencampurnya dan memberikan satu gelas untuk Rayhan dan satu gelas untuk dirinya sendiri. Telur bercampur madu diminumnya. Lalu mereka mengambil air wudlu untuk melaksanakan shalat bersama. Saat itu adzan dhuhur dikumandangkan.

Keduanya segera beringsut menuju rumah sakit bersalin di mana Nisa melahirkan. Ia membawa makanan ringan kesukaan Nisa. Suaminya bangga atas layanan cinta kasih Kayla. Sementara di hati Kayla berkata: Aku tak lagi memiliki rasa cinta. Yang kumiliki hanya pautan asmara yang kadang hadir tanpa diundang. By. Charly Siera –bersambung —

Komentar
Memuat...