Aturan Cobaan Kebaikan dan Keburukan Dalam Kehidupan Manusia

0 211

Aturan Cobaan: Kedua aspek terhadap hubungan cobaan, yakni aspek cobaan dengan kebaikan dan aspek cobaan dengan keburukan silih berganti dalam kehidupan manusia sedikit demi sedikit sesuai dengan aturan kemampuan yang bisa disimpulkan sebagai berikut:

Aturan Pertama

Hubungan cobaan yang Allah berikan dalam medan kehidupan dengan materi-materi cobaan berupa aspek-aspek kebaikan dan keburukan akan menjadi nyata, dan kemudian membiarkan untuk hamba tiga pilihan. Pilihan pertama adalah megambil keburukan. Pilihan kedua adalah menyerah kepada keburukan. Pilihan ketiga adalah mengambil kebaikan untuk menolak keburukan.

Pendidikan Islam menjaga dengan cara mendidik kehendak pembelajar untuk mengambil pilihan ketiga, yakni mengambil kebaikan untuk menolak keburukan, yakni menghilangkan kekafiran dan mengorientasikannya kepada iman dan aplikasinya, menghilangkan penyakit dengan obat, menghilangkan kemiskinan dengan bekerja, menangkal permusuhan dengan jihad, memerangi kebodohan dengan pengetahuan, memerangi kezhaliman dengan keadilan dan seterusnya. Pendidikan Islam juga menjaga dengan cara memberikan manusia pengetahuan tentang bahaya dua pilihan yang lainnya, yakni bahaya membantu keburukkan dan menyerah kepadanya.

Aturan Kedua

Untuk keadaan kebaikan atau keburukan terdapat saat di mana masing-masing dijadikan pilihan. Oleh karena itu manusia tidak boleh, ketika mengobati keburukan, menjadi lemah dalam mengobatinya dan bersabar atas beban melawannya hingga keadaan tersebut menjauh dari kebalikannya dan berakhir masanya sebagaimana malam berakhir sehingga pergi dari siang. Barangsiapa mencari siang pada awal malam maka ia tidak akan berhasil mendapatkannya bahkan kegelapan malam semakin bertambah hingga sampai akhirnya, kemudian fajar timbul lalu datanglah siang.

Perumpamaannya adalah seperti orang yang mengobati luka yang dalam dan mencari kesembuhan. Ia tidak akan cepat mendapatkan kesembuhan bahkan luka musti mengalami pembengkakan dan panas yang tinggi kemudian diikuti dengan pemulihan dan penyembuhan. Jika ia menghendaki kesembuhan sebelum waktunya maka ia tidak akan bisa mencapainya dan ia akan mendapatkan kebosanan dan kecemasan. Keadaan cemas dan bosan ini mendorongnya pada kekacauan dalam mengobati sehingga keadaan buruk berakhir kepada keadaan yang lebih buruk. Kepada inilah Allah menyeru Rasul-Nya ketika  keadaan cobaan dengan keburukan semakin berat, yang perumpamaannya adalah penindasan dan penderitaan yang dilakukan kaum  musyrikin.

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik” (1) “Dan demi malam apabila telah sunyi” (2) “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu” (3) (Qs. Adh-Dhuhaa [93]: 1-3).

Ketika malam telah sunyi –yakni semakin pekat kegelapannya- menunjukkan telah dekatnya matahari terbit dan waktu dhuha mulai bersinar. Ketika keadaan cobaan dengan keburukan telah semakin berat maka itu menunjukkan telah dekat dan dimulainya sinar keadaan kebaikan. Dua keadaan ini berputar saling bergantian dengan ketentuan hukum Tuhan.

Aturan Ketiga

Menunggu berakhirnya keadaan buruk bukan berarti menyerah kepada keburukan, Allah SWT menghinakan orang yang menyerah dan memuji orang yang melawannya.

“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri” (Qs. Asy-Syuura [42]: 39)

Allah SWT mendorong untuk membela kebenaran dan mengumumkan pembelaan-Nya kepada orang-orang yang melawan kepada orang-orang zhalim.

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka” (41) “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih” (42) (Qs. Asy-Syuura [42]: 41-42).

Oleh karena itu manusia, di tengah-tengah saat ia dicoba dengan keburukan, harus mengobati pengaruh keburukan ini dan membersihkan dampak dan pengaruh buruknya dengan cara-cara yang sesuai seperti menghilangkan kegelapan malam dan membersihkan bahayanya dengan cahaya lampu, meratakan jalan dan mengadakan penjagaan dan tanda penunjuk jalan hingga kegelapan lenyap dan fajar muncul dan siang tiba.

Seandainya ia menghendaki kebebasan dari kegelapan dan akibatnya tanpa cahaya lampu, tanda penunjuk jalan dan memperbanyak penjagaan malam maka ia tidak akan selamat dari kegelapan dan bahaya yang ditimbulkannya. Perumpamaannya adalah seandainya ia ingin bebas dari luka dalam dan akibatnya tanpa menggunakan obat-obatan yang sesuai.

Aturan Keempat

Cobaan yang Allah berikan kepada manusia dibatasi dengan batas-batas kemampuan manusia. Qur’an menamakan kemampuan ini dengan banyak sebutan, kadang menyebutnya dengan al wus’ (kelapangan), al istitha’ah (kesanggupan) dan kandang-kadang dengan al juhd (kesungguhan) yang diambil dari kata al jihad. Kelapangan mencakup semua kemampuan, baik akal, materi, jiwa, kemanusiaan dan lain-lain.

Bahkan Qur’an menginstruksikan pada keharusan memanfaatkan kelapangan ini –memalingkan penglihatan kepada berbagai macam masalah, yakni:

Nilai Yang Diorientasikan Kepada Penggunaan Kelapangan

Masalah pertama, bahwa nilai yang diorientasikan kepada penggunaan kelapangan ini berpengaruh pada akibat-akibat penggunaannya. Ketika nilai iman mengorientasikan penggunaan ini maka penggunaan orang Mu’min menjadi sepuluh kali lipat orang yang tidak beriman.

“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (Qs. Al Anfal [8]: 65)

Yakni orang-orang kafir “tidak memahami” aturan memanfaatkan kelapangan dan memobiliasasi kemampuan. Jika kelemahan menempati nilai iman maka derajat pelaksanaanya menurun pada kelemahan orang tidak beriman.

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Qs. Al Anfal [8]: 66).

Maknanya adalah bahwa ketika pelaksanaan bobotnya sama atau menurun kepada pelaksanaan orang yang tidak beriman maka nilai iman tidak dianggap efektif dalam realitas personal dan kolektif dan sistem pendidikan yang ada tidak memahami aturan memobilisasi dan menudukkan kemampuan.

Tuhan Tidak Akan Turun Kecuali Setelah Mencurahkan Kelapangan

Masalah kedua, bahwa bantuan Tuhan tidak akan turun kecuali setelah mencurahkan kelapangan dan memanfaatkan kesungguhan dalam persiapan, pelaksanaan dan perlawanan. Terhadap masalah ini Allah memberikan isyarat.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Qs. Al Baqarah [2]: 214).

Kewajiban Menyempurnakan Penggunaan Kelapangan Secara Benar

Masalah ketiga, kewajiban menyempurnakan penggunaan yang benar terhadap kelapangan dalam bingkai aktivitas kolektif –yakni yang ditunjukan ayat terdahulu ketika batas ditentukan dengan batas terendah bagi orang-orang yang beriman yang bersungguh-sungguh dengan dua puluh orang yang sabar, dan apa yang ditunjukkan ayat lain tentang pentingnya berpegang teguh kepada Allah, tidak terpecah belah dan pentingnya saling membantu dalam kebaikan dan takwa. Ini juga diperingatkan oleh hadits yang mengatakan bahwa: “Kekuasaan Allah bersama jama’ah”.

Kelapangan Mencapai Derajatnya Yang Tertinggi

Masalah keempat, bahwa kelapangan mencapai derajatnya yang tertinggi dan akan berpengaruh jika dilakukan dengan kualifikasi yang terlatih yang bisa dilaksanakan dan dikerjakan dalam semua bidang, dan mempersiapkan segala sesuatu yang bisa dipersiapkan. Terhadap masalah ini Allah memberikan isyarat. “Dan siapkanlah apa saja yang kamu sanggupi” (Qs. Al Anfaal [8]: (60)

Aturan Kelima

Bahwa manusia tidak selamnya baik dalam memilih sarana yang sesuai untuk mengobati keburukan, ia kadang-kadang memilih mengobati keburukan dengan keburukan, kadang-kadang ia memilih menyerah kepada keburukan, dan kadang-kadang mengambil kebaikan yang tidak memiliki pengaruh yang diperlukan untuk mengobati keburukan.

Oleh karena itu ia membutuhkan petunjuk sehingga bisa mengambil pilihan yang sehat dalam posisi cobaan, dan kepada ukuran-ukuran yang membantunya membuat penilian yang benar ketika ia menjalankan pilihan yang salah. Petunjuk banyak terdapat dalam Qur`an. Adapun ukuran penilian menjelma dalam taubat yang ditekankan Islam dan menjadikannya sebagai sebab cinta dan keridhaan Allah.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Qs. Al Baqarah [2]: 222)

Semua petunjuk dan orientasi ini termasuk dalam proses, metode dan teknik pendidikan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.