Awal Kerajaan Cirebon Menurut Para Budayawan

1 616

SEJARAH Kerajaan Cirebon dianggap mulai ada sekitar tahun 1479 saat Syeh Syarif Hidayatullah mendirikan Kerajaan Islam di Cirebon. Namun proses sejarahnya itu sendiri telah terjadi sejak beberapa abad sebelum Pangeran Cakrabuwana dan Sunan Gunungjati membangun Cirebon.

Catatan sejarah yang ditulis RH. Unang Sunardjo, SH dalam Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon (Yayasan Keraton Kasepuhan, 1996) yang diambil dari berbagai sumber menggambarkan, di sekitar jalur pantai utara bagian timur Jawa Barat sedikitnya telah ada tujuh nagari atau kerajaan-kerajaan kecil.

Berikut ini adalah kerajaan-kerajaan kecil yang pernah ada di Cirebon:

  1. Kerajaan Sauggalah (Arileu). Terletak di Kabupaten Kuningan dengan rajanya bernama Prabu Seuweu Karma sekitar tahun 732 M. Kerajaan ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh dengan wilayah di sekitar Cigugur, Darma dan Kadugede.
  2. Kerajaan Talamanggung. Terletak di sekitar Talaga Majalengka yang berdiri pada awal abad ke-15. Rajanya yang terkenal bernama Prabu Pucuk Umum.
  3. Kerajaan Rajagaluh. Terletak di sekitar daerah Bobos. Di tempat itu terdapat prasasti di tengah sawah sebagai tanda pusat pemerintahan. Rajanya yang terkenal bernama Prabu Cakraningrat. Berdiri sekitar abad ke-15.
  4. Kerajaan Wanagiri. Terletak di sekitar Palimanan pada abad ke-15. Rajanya bernama Ki Gede Kasmaya. Pusat pemerintahannya terletak di Desa Wanagiri (sekarang).
  5. Kerajaan Surantaka. Terletak di sekitar daerah Kapetakan. Berdiri sekitar abad ke-15. Rajanya bernama Ki Gede Sundang Kasih dengan pusat pemerintahan di Kedaton.
  6. Kerajaan Sing Apura. Terletak di sekitar daerah Cirebon Utara. Rajanya bernama Ki Gede Surawijaya (abad ke-15). Kerajaan ini memiliki pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang maupun perang dari Cina, Arab, India dan Kamboja.
  7. Kerajaan Japura. Pusat pemerintahannya terletak di Japura (Kecamatan Astanajapura sekarang). Rajanya bernama Prabu Amuk Marugul. Wilayahnya meliputi Losari, Babakan, Ciledug, Waled, Karangsembung, Lemahabang, Mundu, Beber dan Astanajapura. Pada 1422 kerajaan ini ditaklukan oleh Sing Apura. Prabu Amuk Marugul tewas dalam pertempuran itu.

Setelah Kerajaan Pajajaran berdiri, semua kerajaan kecil di Tatar Sunda termasuk Cirebon menjadi kerajaan bawahan Pajajaran, namun mereka diberi hak otonomi yang cukup besar.

Cirebon  Cikal Bakal Keberagamaan Multi Etnis

Cirebon dianggap sebagai awal dari keberagaman dengan multi etnis, agama dan bahasa. Dari Pelabuhan Muara Jati (1415 M) ketika Laksamana Muslim China Cheng Ho mendaratkan puluhan perahunya, mulai Cirebon menjadi bandar terkenal dijalurPantai Utara Jawa. Dari situ kemudian mendarat pula para perantau yang datang dari negeri seberang bergerak memasuki pedalaman Jawa Kulwan (JawaBarat).

Jawa Barat, memang sebuah keberagaman (Soemardjo, 2011). Ditilik dari bahasanya, ada bahasa Cirebon,  Sunda, Jawa Banten dan Melayu Betawi. Dari kelompok ras  terdapat keturunan Tionghoa, Arab dan India. Demikian pula dari produk keseniannya yang amat beragam.

Bagaimana Jawa Barat di masa modern ini? Sumardjo, memberikan gambaran,  Topeng Cirebon yang masuk Priangan dijadikan ”Topeng Priangan”. Angklung di Bandung dijadikan angklung modern (diatonis). Mekanisme perubahan multikultur telah dilakukan oleh pihak kultur-kultur setempat,  tetapi tidak berlaku ditempat kultur asal.

Bahasa Cerbon Sebagai Bahasa Agama

Dalam penggunaan bahasa lokal (Cirebon dan Sunda) seringkali terjadi alih kode antara keduanya.  Ini terjadi pada daerah-daerah tertentu yang biasanya merupakan pertemuan kedua bahasa tersebut. Di pasar-pasar, pergaulan sehari-hari,  mereka satusama lain masing-masing menggunakan kedua bahasa tersebut.

Tentang bahasa Cerbon, (Supriatnoko, 2015) dalam laporan penelitian  disertasi di FIB Universitas Indonesia, disebutkan bahasa Cerbon sebagai bahasa agama dan bahasa pemerintahan di Cirebon berada di lingkungan bahasa Sunda.

Karena besarnya dukungan dari masyarakat penutur jati bahasa Sunda di Cirebon terhadap penggunaan bahasa Cerbon dalam interaksi dan komunikasi di antara kedua masyarakat penutur bahasa yang berbeda itu.

Basa Cerbon menjadi berkembang dan membuahkan hasil kepada  penggunaannya sampai saat ini, bahkan  ditemukan misalnya kelompok penutur jati bahasa Sunda di Desa Sindanglaut dan Cipeujeuh (Kulon dan Wetan) kemudian menjadi penutur jati basa Cerbon.

Menurut Supriatnoko, orang Sunda di Cirebon menjadi penutur jati basa Cerbon, karena beberapa alasan ;

  1. Perkawinan campuran; pernikahan antara orang Jawa dan Sunda di Cirebon,menggugah semangat untuk berbicara basa Cerbon dalam lingkungan keluarga penutur jati basa Cerbon.
  2. Karena alasan pekerjaan; keduanya atau salah satu dari pasangannya bekerja dan mengabdi di Keraton Pakungwati (pada masa lalu).
  3. Alasan penugasan; sebagai santri yang dianggap sudah cukup memiliki ilmu agama Islam diutus langsung oleh Sunan Gunung Jati atau oleh pimpinan pondok pesantren tempat mereka belajar untuk melaksanakan tugas mengajar dengan pengantar basa Cerbon,baik di pondok pesantren maupun di daerah baru di luar pondok pesantren.
  4. Karena alasan merasa lebih dekat dengan budaya Jawa.

Bahasa Cerbon dalam era kepemimpinan Syarif Hidayatullah difungsikan sebagai bahasa agama di pondok-pondok pesantren, baik di Cirebon maupun di beberapa pesaantren  di daerah yang berbahasa  Sunda  (ibid).

Cirebon, Sunda, Jawa maupun suku-suku bangsa lainnya hanya merupakan bagian dari Indonesia. Sebuah taman Bhinneka Tunggal Ika yang semarak dengan warna-warni kebudayaan yang terus tumbuh dan berkembang. Melihat taman yang begitu besar itu, ternyata saya lebih merasa sebagai wong Indonesia ketimbang wong Cerbon atau Jawa Kulwan (Jawa Barat) yang lebih kecil. ***

Rujukan:

  • Abdurachman, Paramita R. (Cerbon, Sinar Harapan – 1982).
  • Ambari, Muarif (The Establesment of Jayacatra, tanpa tahun)
  • Carbon, Pangeran Arya, (Purwaka Caruban Nagari terjemahan P.S. Sulendraningrat, 1983).
  • Sunardjo, RH. Unang (Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon, Yayasan Keraton Kasepuhan, 1996)
  • Wangsakerta (Negarakrethabumi, alihakasara dan bahasa Manasa, Disporabud Jabar 2008).

Oleh NURDIN M. NOER

Wartawan senior, pemerhatikebuadayaan lokal

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Dewi puji astuti berkata

    Dewi puji astuti
    1415104026
    Tadris ips a 3
    Awal kerajaan cirebon pada masa pemerintahan pangeran cakrabuana sampai sunan gunung jati memang banyak menghasilkan masyarakat multikultural dari bahasa agama adat maupun keseniannya tapi tetap menjadikan masyarakat yang mengenal adanga bhineka tunggal ika

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.