Azan Pitu Kesejajaran Tujuh Mazhab, Tradisi Yang Hanya Ada di Cirebon

0 268

AZAN yang dilakukan serentak oleh tujuh orang muazin pada setiap akan memulai salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut hikayat, azan tersebut dilakukan sejak permulaan agama Islam berkembang di bumi Cirebon untuk mengusir satria jahat bernama Menjangan Wulung. Satria  itulah yang selalu membuat goro-goro (keributan) terhadap jamaah masjid yang hendak salat Subuh. Dari tubuhnya ia mampu mengeluarkan gas beracun, sehingga meracuni para jamaah yang masuk ke masjid.

Atas saran dari sesepuh Cirebon, Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati, untuk mengusir satria jahat tersebut harus diadakan dengan cara “azan pitu”. Maka saat itulah “azan pitu” dikumandangkan. Dari gema azan tersebut, konon memolo (kubah) masjid meledak dan serpihannya hingga ke Tanah Banten. Bersamaan dengan hancurnya kubah masjid, hancur pula tubuh Menjangan Wulung.

Rupanya kisah di atas hanya merupakan dongeng yang dituturtinularkan kalangan orang tua terdahulu. Penulis sendiri pernah mengornfirmasikan hal itu kepada salah seorang tokoh adat Banten di Serang.Ia menyatakan, Itu hanya dongeng saja, sebab  kubah bertumpuk lima yang ada di masjid-masjid Banten tak ada kaitannya dengan dongeng Menjangan Wulung.  Sejak zama Islam awal kubah masjid Banten bertumpuk  lima yang menyimbulkan limarukun Islam.

 “Azan pitu” ini merupakan tradisi yang hanya ada di Cirebon. Artinya tak ada “azan pitu” di luar masjid Cirebon. Tradisi azan pitu telah dilakukan secara turun temurun sejak enam ratus tahun lalu. Tujuh orang yang melantunkan azan ini merupakan pengurus masjid yang dipilih penghulu masjid, meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muadzin azan pitu sebelumnya.

Sedangkan mengenai literatur sejarah “azan  pitu” memang sulit ditemukan karena kebanyakan buku-buku yang beredar cenderung membahas tentang sejarah Kesultanan Cirebon. Kita hanya akan mendapati cerita yang turun temurun dari para sesepuh Cirebon yang beredar di masyarakat Cirebon. Berbagai versi sejarah “azan pitu” ditemukan  dalam kisah yang dituturtinularkan masyarakat. Artinya takada sumber primer maupun sekunder  yang menjelaskan hal ini.

Masjid Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Bangunan masjid pada tahun 1920-1933 (photo: wikipedia.org)

Versi pertama. Tradisi azan pitu bermula saat masjid Sang Cipta Rasa masih beratapkan rumbia dan itu mengakibatkan kebakaran hebat. Melihat keadaan itu berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun hasilnya gagal, Sampai pada akhirnya istri Sunan Gunung Jati yang bernama Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan, Namun api belum juga padam, azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin. Sejak saat itulah tradisi azan pitu dilestarikan hingga saat ini.

Versi Kedua. Menerangkan bahwa azan pitu merupakan titah dari Sunan Gunung Jati sebagai strartegi untuk mengalahkan pendekar jahat yang berilmu hitam tinggi bernama Menjangan Wulung, Saat itu Menjangan Wulung bertengger di kubah masjid dan menyerang setiap orang yang hendak ke masjid baik untuk azan maupun hendak sholat.

Setiap muadzin yang melantunkan azan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung, Selanjutnya Sunan Gunung Jati meminta tujuh orang melantunkan azan sekaligus berbarengan, begitu azan selesai dikumandangkan, seketika terdengar ledakan dari bagian atas bengunan masjid. Menjangan Wulung yang berada di kubah Masjid Sang Cipta Rasa terluka, lalu ia terbang terpental dan darahnya pun jatuh berceceran.

Bersamaan dengan perginya Menjangan Wulung konon kubah Masjid Sang Cipta Rasa pun ikut terbawa dan kemudian kubah itu menumpuk di atas kubah Masjid Agung Serang Banten. Konon karena itulah Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak mempunyai kubah, sedangkan Masjid Agung Serang Banten mempunyai dua buah kubah yang bertumpukan.

Konon menurut cerita para orang tua darah “Menjangan Wulung” yang berceceran itu tumbuh menjadi tanaman labu hitam atau masyarakat Cirebon biasa menyebutnya “walu ireng” Dan memakan walu ireng itu merupakan pantangan bagi anak-cucu orang Cirebon, lalu pada akhirnya Menjangan Wulung memang musnah karena terpental dari masjid bersamaan dengan meledaknya kubah (momolo) masjid. Namun sayangnya satu dari tujuh amir masjid tersebut meninggal.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan itu terdapat nilai agama, sejarah dan budaya Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sangat penting bagi masyarakat Cirebon, Misalnya Azan pitu yang dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus menanamkan kepercayaan akan kekuatankalimat “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar).

Kesetaraan  Mazhab-mazhab yang Berkembang di Cirebon

Dari  berbagai versi “azan pitu”, kiranya pandangan budayawan Cirebon Made Casta lebih menarik dan masuk akal. “Azan  pitu” menunjukkan kesetaraan  mazhab-mazhab yang berkembang di Cirebon,  baik mazhab fiqih maupun  aqidah. Empat mazhab fiqih  dari Suni misalnya, Safii, Hambali, Hanafi dan Maliki,  ditambah dengan tiga mazhab aqidah seperti  Syiah, Jabarayah dan Qodariyah.

Ketujuh mazhab ini disejajarkan untuk bersama-sama melantunkan azan secara bersama-sama.  Azan pitu di Masjid Sang Cipta Rasa hanyalah salah satu wujud tradisi yang merupakan bagian dari budaya Cirebon, Selain adanya Masjid Sang Cipta Rasa dengan tradisi azan pitunya. Cirebon masih memiliki banyak tradisi-tradisi lain yang juga patut dilestarikan seperti tradisi iring-iringan panjang jimat

Dengan terus merawat, mempertahankan dan melestarikan tradisi dan budayanya, suatu daerah akan bisa dijadikan salah satu tujuan wisata yang akan sangat berguna bagi perkembangan pariwisata daerah tersebut. Untuk melesatrikan tradisi suatu daerah sangat diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah daerah dan juga masyarakat. Pemerintah daerah sudah sepatutnya membantu dalam melestarikan suatu tempat didaerah tersebut yang merupakan bukti bukti sejarah di masa lampau.

Oleh : Nurdin M. NoerWartawan senior, pemerhati kebudayaan lokal

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.