Babad Cirebon: Ternyata Sunan Kalijaga Cucu Nabi Khidir.?

Nabi Khidir dalam Babad Cirebon

1 20.508

MANUSIA Jawa memandang, sosok misterius yang dalam Al-Quran bertemu dengan Nabi Musa a.s. sebagai tokoh mistis yang bisa juga dijumpai oleh setiap orang. Selama ia mampu melakukan tapa yang ekstrem, maka secara  fisik maupun rohani bisa membangun pertemuan dengan Nabi  Khidir.

Seperti Musa  a.s. sang  Sunan bertemu Nabi Khidir di pinggir  lautan tanpa diketahui dari arah  mana datangnya sang Nabi. Dengan demikian jelaslah,dalam  pikiran  Jawa Sunan Kalijaga ditafsirkan sebagai Nabi Musa a.s. Berwatak keras dalam membela kemanusiaan, keadilan dan kebenaran.

Seringkali pula Sunan Kalijaga digambarkan sebagai sahabat Nabi, Umar bin Khattab. Tokoh dalam khasanah tarikh Islam yang semula bersikap memusuhi kebenaran, mendadadak berbalik menjadi pembela Islam  yang  gigih.

Nabi Khidir dalam banyak kisah yang bersumber dari Al-Quran disebut sebagai manusia yang salih. Ia lebih cerdas dibanding Musa a.s.yang pernah takabur dengan menyatakan, “Sayalah yang  terpandai di antara kaum Bani Israel.”

Ya ta malih Jeng Sunan ing Kalijaga, neng telenging jeladri, sampun pinggihan, pan kadya wong leledhang, peparabe Nabi Khidir, pan tanpa sangkan, ngandika tetanyaris.

Ternyata setelah Sunan Kalijaga, ada di tengah samudera,  matanya melihat seseorang, yang sedang berjalan tenang di atas air, yang berjuluk Nabi Khidir, yang tidak diketahui dari mana datangnya, bertanya dengan lemah lembut.

Syékh Malaya apa ta sedyanira, prapteng enggoné iki, apa sedya nira déné sepi kewala, tan ana kang sarwo bukti, myang sarwo boga, miwah busana sepi.

“Syekh Melaya apa tujuanmu? Mendatangi tempat ini? Apakah yang kau harapkan? Padahal disini tidak ada apa-apa?! Tidak ada yang dapat dibuktikan, apalagi untuk dimakan, juga untuk berpakaian pun tak ada”.

Amung godhong aking yen ana kaleyang, tiba ingarsa mami, iku kang sun pangan, yen ora-ora nana, garjita tyas sira myarsi, Kanjeng Susunan, ngungun duk amiyarsi.

Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup angin, jatuh di depanku, itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan, senangkah kamu dengan melihat ini semua? Kanjeng Sunan Kalijaga, heran mengetahui penjelasan itu.

Nabi ningrat ngandika mring kang prapta, putu ing kene iki, akéh panca baya, yen nora etoh jiwa, mangsa tumekaha ugi, ing kene mapan, sekalir padha merih.

Nabi Khidir berkata lagi kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku di sini ini, banyak bahayanya, kalau tidak mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini, di tempat ini, segalanya tidak ada yang dapat diharapkan hasilnya”.

Dalam suluk ini, ada imaji yang kuat, bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang  cucu dari  Nabi Khdir tersebut. Legenda  ini masih  terus berkembang dan  kuat  melekat dalam pikiran  masyarakat  Jawa,  termasuk Cirebon  dan  Sunda.

Dalam Ensiklopedia Islam (2002), “Suluk Linglung” hanya dianggap sebagai karya sastra dan Emha Aiun Nadjib juga mengganggap suluk tersebut sebagai karya sastra pesisir. Dalam catatan Ensiklopedia Islam, kisah Sunan Kalijaga ( Syekh Melaya ) murni merupakan dongeng, sebab tak mungkin Sang Sunan bisa bertemu dengan Nabi Khidir.

Sunan Gunung Jati Juga Pernah Bertemu dengan Nabi Khidir

Tak hanya Sunan Kalijaga, dalam Babad Cirebon Naskah Tangkil (Ki Kampah, alih basa dan alihaksara H.R. Bambang Irianto dan Ki Tarka Sutarahardja,  Deepublish,  2013). Sykeh Syarif Hhidayatullah (Sunan Gunung Jati) pernah bertemu Nabi Khidir. Dikisahkan, setelah  dating dari pesiar, kemudian mereka pada berkumpul dan pesta makan-minum begitumeriah penuh suka cita. (Baca Juga: Awal Kerajaan Cirebon)

Setelah selesai,  mereka pun pada tiduran di tempat pajangan di dalam taman. Melihat pemandangan yang seperti itu Sayid Hidayat jadi termenung memikirkannya.  Tak lama kemudian datanglah seseorang yang menaiki kuda dan berkata memberitahukan, bahwa Negara itu namanya Basirina ia tempat orang-orang yang mati perang sabilullah. Kemudian orang tersebut memberikan buah yang berasal dari suwarga. Sayid Hidayat pun bertanya,”Siapakah tuan ini?”

Si penunggang kuda menjelaskan, dirinya adalah Nabi Khidir a.s. Demi mendengar nama itu disebut kemudian Syarif Hidayat segera memegang erat ekor kudanya. Nabi Khidir pun mencambuk kuda semberani (kuda tebang, pen) yang kemudian segera melesat ke angksa. Lalu singgah di Gunung Jumanten (Inten)yang mulia. Nabi Khidir a.s berkata, “Kamu tunggulah di sini sampai ada yang memanggiolmu”. Setelah berkata demikian kemudian Jeng Nabi pun menghilang meninggalkan Sayid Hidayat seorang diri.

Siapakah Nabi Khidir itu?

Nabi Khidir memang merupakan nama yang memiliki kekuatan filosofi yang luarbiasa. Ia dianggap sebagai guru bagi para sufi dan bahkan oleh sebagian mereka dianggap masih hidup. Karena itu merupakan hal yang lumrah,  jika dalam karya sastra pesisiran. Seperti “Suluk Linglung”  maupun babad Khidir selalu muncul sebagai juru nasihat.

Menurut jumuhul mafassirin (mayoritas ahli tafsir). Sejak dari Ibnu Abbas, Al Thabari, Al Qurthubi, Ibnu Katsir sampai penafsir kontemporer Ahmad Musthafa al Maraghi yang dimaksud keduanya pada ayat ini adalah Nabi Musa a.s. Dan anak muda pengiringnya (pembantunya) Yusya’ bin Nun. Sementara yang dimaksud seorang di antara hamba-hamba Kami adalah Nabi Khidr Alaihi Slama.

Tetapi penafsir kontemporer yang lain yaitu as Syahid Sayid Quthb. Penyusun tafsir fi dzilalil Qur’an tidak menyebut nama Khidr ketika menafsirkan ayat ini. Dia hanya menyebut-nyebut al abdus shalih (hamba yang shalih) saja. Dia berpendirian demikian, sebab di dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah ini (QS Al Kahfi 65-82).

Tidak pernah disebut nama Khidir. Karenanya beliau merasa lebih baik membiarkan sosok ini tetap rahasia seperti yang termaktub dalam Al Qur’an. (eramuslim.com/ Sabtu, 5 Sya’ban 1436 H / 23 Mei 2015 13:16 W). Wallahualam bishawab.***Nurdin M. Noer.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Dewi puji astuti berkata

    Sunan kalijaga merupakan cucu nabi khidir yang di ceritakan dalam babad cirebon dan sunan kalijaga pernah bertemu dengan nabi khidir, sangat mengetahui sejarah dan wawasan cerita para sunan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.