Bahagia Bersama Hujan

0 99

Muhammad Amir Nasrulloh, sebuah nama penuh makna bagi Laila Khoirunnisa. Seorang gadis berwajah oriental, berperawakan tinggi semampai dengan balutan kulitnya yang terang.

Laila kini tengah mendekam dalam penjara berbasis religi dan telah terkurung selama hampir enam tahun dengan rutinitas yang tak pernah berubah. Namun ajaibnya dapat mengubah hidupnya. Laila sosok gadis dengan sikapnya yang sulit untuk ditebak, dan gadis yang pandai menyembunyikan isi hatiya. Termasuk dalam perihal asmaranya dengan laki-laki bernama Amir. Amir seorang pemuda tanpa komitmen yang berhasil membobok benteng pertahanan hati Laila.

Baginya, sosok Amir yang begitu polos kini menjelma menjadi seorang penjahat. Amir sukses melancarkan misinya setelah beberapa kali menerima penolakan dari Laila. Ia berhasil merampok cinta yang tersimpan dalam hati Laila, cinta gadis ini lenyap bersama Amir yang melarikan diri. Laila yang dikhianati cintanya sendiri tak pernah mengetahui apakah masih tersisa cinta dalam hatinya walau hanya setetes selain untuk Amir.

Satu bulan telah berlalu. Jarak yang tak pernah rela untuk berdamai dan waktu yang tetap bersikukuh dengan keegoisannya tak pernah memberi kesempatan kepada Laila untuk memandang sosok Amir. Ditambah badai kembali melanda hubungan jarak jauh yang tengah mereka jalani, selama badai itu pula tawa Laila ikut tenggelam dan hilang. Hanya semburat kekecewaan yang tampak dari bola mata kecoklatannya.

“Aku perhatiin kerjaan kamu cuman melamun, apa kamu kurang kerjaan?” dari balik gorden Hana membuyarkan lamunannya, Laila yang menyadarinya hanya tersenyum simpul. “Sudahlah lupakan dia, untuk apa kamu mempertahankannya?” dengan lembut tangan Hana menyentuh bahu Laila.”Tapi sebenarnya Amir itu baik, mungkin dia sibuk” pembelaan yang terlontar dari bibir mungilnya. Meskipun kata hatinya berlainan dengan ucapannya barusan.”Kemana kamu sebenarnya Amir?” batinnya berteriak berbeda dengan mulutnya yang bungkam. Ia memejamkan mataya, berusaha mengatur ritme nafasnya yang tak beraturan,dadanya terasa sangat sesak. Selang didetik selanjutnya air matanya merembes mencari jalan keluar dari sela-sela bulu mata centiknya.

Malam yang panjang dengan linangan air mata penuh derita bagi Laila.Namun kini ia merasa sedikit tenang setelah bersujud menumpahkan semua isi hatinya diatas sejadah merah jambu yang sudah tampak lusuh.

“Laila?” Sapa seorang wanita berparas cantik berkacamata tebal.”Na’am umi?” Laila membungkukan badannya dan meraih tangan wanita itu, kemudian ia mengecupnya.”saya lihat akhir-akhir ini kamu banyak berubah, dimulai dari nilaimu yang turun derastis dan saya perhatikan kamu lebih banyak berdiam diri dari pada bergabung dengan teman-temanmu,tak seperti biasanya.Ada apa?” Tak ada jawaban berarti, Laila hanya tertunduk lesu.” Tak apa-apa jika kamu memang tak mau bicara. Namun satu pesan umi,cintailah seseorang itu dengan sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia aka menjadi seorang yang kau benci, begitu pula sebaliknya.” Dengan ragu Laila memberanikan diri untuk menatap wajah umi.”Maafkan laila umi, Laila janji akan berubah.” Dipandangnya wajah wanita berkacamata itu tengah tersenyum memberikan ketenangan untuknya.

Cerpen Bahagia Bersama Hujan | Cerpen Lyceum Indonesia

Pagi yang Indah

Burung-burung penuh gaya dan warna tanpa merasa malu mereka menari-nari saling berkejaran memecah kesunyian. Ilang-ilalang liar seakan bahagia karena mendapat pelukan penuh kehangatan dari sang mentari. Embun pagi yang begitu menggemaskan berayun-ayun memberi kesegaran, pemandangan yang selalu berhasil membuat Laila terhipnotis.

Pembelajaran hari ini masih tetap berjalan, tak memperdulikan kondisi hati Laila yang semakin bergejolak. Detik demi detik terasa begitu lambat, Laila tak begitu memperdulikan orang-orang disekitarnya, ia lebih memilih untuk bersandar pada dinding penuh coretan tangan-tagan jail. Sesekali Laila menatap papan tulis yang tak lagi bersih dan ia kembali kedalam dunianya yang tengah kelabu.

Laila melirik Melda, sesekali ia mengamati gadget yang dipegangnya. Dengan susah payah Laila mencoba mengingat-ingat sesuatu, yang jelas ia lupa.“Mel, boleh pinjam handphone kamu gak?” tangan Laila menyentuh bahunya. Gadis berkulit coklat itu menyodorkan handphone yang diinginkan Laila.” Boleh aku lihat kontak BBM mu?” Gadis manis itu hanya mengangguk.” Melda aku baru ingat sekarang,aku pernah ngeinvite dia lewat handphone kamu, maaf sebelumnya aku belum sempat bilang.”Tergurat penyesalan pada wajah Laila. “iya gak apa-apa.” Melda terseyum. Selang beberapa detik wajah Laila memerah.

Hari ini rupanya cuaca sedang tidak bersahabat,air langit terus turun tanpa menghiraukan lautan manusia yang tengah berlalu lalang dibawah naungannya. Irama bel pertanda jam belajar telah usai sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu. Tanpa ragu Laila menerobos derasnya hujan, ia tak memperdulikan air yang menyelinap membahasahi sekujur tubuhnya. Dadanya terasa sesak, hatinya bergemuruh bersaing dengan gemuruh angin yang memainkan ranting-ranting pohon. Tanpa suara yang berarti beriringan dengan derasnya air hujan, air mata Laila pun pecah.

“Hana ternyata selama ini Amir,dia” Bibirnya terasa getir,perasaannya tak menentu.”Selingkuh?” Hana menatapnya seakan masih tak percaya dengan apa yang Laila katakan. Laila kini tengah terbakar api cemburu,matanya terasa panas dan perih,ia ingin kembali menangis namun batinnya melarang keras, akal sehatnya jelas menolak untuk melakukan hal itu. Kata-kata romantis yang biasa Amir tujukan untuknya, kini telah memiliki pembaca baru, bukan dirinya lagi melainkan orang lain.

Asap hitam yang berkeliaran bebas di lapangan parkir asrama berkontaminasi bersama oksigen yang lebih pantas dihirup dari padanya. Tak ada burung yang menari, hanya polusi hitam yang menelan oksigen tanpa menyisakannya untuk dinikmati para pencari ridlo-Nya.

Seorang laki-laki berlesung pipit berusaha menyamakan langkahnya dengan Laila. Laila yang merasa sedikit risih meliriknya sekilas tanpa menggubris apa lagi membalas senyumannya. Namun laki-laki itu terus tersenyum menggoda Laila yang tetap melanjutkan langkahnya, berusaha meninggalkan laki-laki itu walau hanya satu inci. Laki-laki itu menatap setiap sudut likuk wajah cantik Laila, tampak Laila tengah komat kamit membaca mantra pengusir syetan, tapi ia terus mentertawakan Laila tanpa merasa bersalah pada gadis ini. Laila merasa seperti orang bodoh dan hanya menjadi bahan lelucon laki-laki yang tengah berada dihadapannya.

“ Cukup Ilham!” Laila menghentikan langkahnya, diikuti Ilham yang menghentikan tawanya. “Maaf,habisnya kamu lucu.”Ejeknya jail. “Gak jelas, “dengus Laila kesal, ia pun setengah berlari meninggalkan Ilham bersama bayangannya. Bersamaan dengan hilangnya sosok pemuda pengganggu itu Laila tersenyum, dan kembali merasa kesepian. Sudah dua tahun terakhir ini Ilham mencoba untuk menarik simpati Laila, namun usahanya selalu gagal, tak pernah ada respon berarti dari gadis itu. Gadis yang pandai menyembunyikan isi hatinya.

Siang ini rupanya si raja siang terlihat malu-malu, tak seperti biasanya. Teriknya mampu terkalahkan oleh awan-awan yang berwarna kelabu, tak ada langit biru. Awan-awan itu tertawa penuh kemenangan dengan jutaan butir uap air yang dikandungnya, dan sepertinya mereka siap untuk belomba demi mendarat diatas permukaan bumi.

Laila yang tengah memasang earphonenya tampak asyik mendengarkan setiap ketukan irama yang dibawakan sang idola. Tangannya menggenggam sepucuk kertas merah jambu tak beralamat, namun yang jelas surat itu ditujukan kepadanya. Dan tanpa dikomando Uap air itu pun berubah menjadi jutaan kubik air yang berhamburan dari langit. Laila menikmati setiap tetes yang membasahi setiap sudut tubuhnya. Ingatannya akan sosok laki-laki itu kian lama kian menghilang, hanyut bersama derasnya hujan yang membelainya. Hujan itu seakan mengerti, ia bahagia bersama hujan yang datang.

Tampak dari kejauhan Ilham tersenyum memfokuskan pandangannya pada sosok seorang gadis yang tengah menikmati derasnya air hujan. Terlebih ia bahagia karena gadis itu kembali tersenyum setelah membaca surat darinya. Sebuah puisi yang telah lama ia ciptakan untuk gadis yang ada dihadapannya. Tak ada lagi air mata.

“ Terimakasih Ilham.” Desis Laila pelan


Cerpen Bahagia Bersama Hujan
Mila Amalia

Remaja Putri Kelahiran Ciamis 19 Agusutus 1997 ini, Memiliki bakat menulis sedari menginjak SMP dulu, Bakatnya ini sering ia tuangkan dalam media sosialnya. 

Komentar
Memuat...