Bahan Penting dan Kandungan Obat dalam Tembakau

0 140

Kandungan Obat dalam Tembakau. Penduduk Benua Asli Amerika, dikenal dengan sebutan suku Indian. Dari situlah Tembakau mulai ditemukan. Tanaman ini, menurut Tanjung Painan [Kompasiana, 14 Juni 2015 23:58:54], mengutif Jordan Goodman, dalam penelitian berjudul: Tobacco in History and Culture: An Encyclopedia, Detroit: Thomson Gale, 2005, sering dikaitkan dengan penduduk asli benua Amerika dimaksud. Tembakau adalah perilaku suku Indian di kisaran tahun 1400 – 1000 SM.  Dalam penelitian Gordon, disebutkan bahwa tembakau sering disebut sebagai media religi, perdukunan dan pengobatan supernatural–spiritual (entheogen).

Masih dalam penelitian Gordon yang dikutif Painan tadi, disebutkan juga bahwa suku indian percaya [mitos], tembakau merupakan hadiah dari Tuhan. Menghisap serta menghembuskan asapnya, sering diterjemahkan sebagai do’a dan rasa syukur sang penghisap kepada Tuhan mereka. Asal mula tembakau tumbuh, di negeri asal mula tembakau ini ditemukan, ternyata memiliki mitos yang dikisahkan dari satu cerita ke cerita lain. Mitos ini memang terkesan eksentrik dan sangat memikat. Dalam mitos suku Indian itu disebutkan:

“Bumi itu pada awalnya gundul. Hanya terdiri dari tanah dan bebatuan. Tuhan [roh agung], mengutus seorang perempuan untuk menolong manusia. Ketika tangan kanannya menyentuh tanah, maka, tumbuhlah kentang [bahan makanan pokok mereka]. Ketika tangan kirinya menyentuh tanah, maka, tumbuhlah jagung. Tumbuhlah Kentang dan jagung dalam jumlah yang sangat banyak. Makmurlah itu bumi. Sambil melepas lelah, perempuan itu kemudian duduk bersila. Dan ketika dia bangkit, tumbuhlah daun tembakau yang juga banyak.

Tembakau yang penuh mitos itu, hari ini tumbuh sebagai komoditas perkebunan. Hasil dari perkebunan, sebagian besar dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku rokok, termasuk tentu untuk masyarakat Indonesia. Namun demikian, banyak orang tidak tahu bahwa sesungguhnya, tembakau dapat juga bermanfaat sebagai komponen penting obat penenang dan insektisida.

[BACA JUGA : Ada Obat Di Balik Tembakau]

Mitos-mitos di atas, tentu merangsang intelektual sesudahnya. Para intelektual kemudian mencoba melakukan analisa dan penelitian berkelanjutan terhadap tembakau ini. Model seperti ini pula, yang menyebabkan mengapa Yunani Kuna tumbuh menjadi pusat intelektual di era awal. Salah satu faktornya, karena mereka memiliki banyak mitos yang merangsang para intelektual untuk melakukan penelitian lanjutan.

Bahan Penting dalam Tembakau

Dalam penelitian R. H. F. Manske. The Alkaloids. Chemistry and Physiology. Volume VIII. – New York: Academic Press, 1965, p. 673, Paiman juga menulis, tembakau ternyata memiliki kandungan alkaloid nikotin. Kadarnya, memang berbeda satu sama lain, tergantung spesiesnya. Perlu dicatat bahwa tembakau memang memiliki banyak spesies. Tetapi yang pasti, setiap bagian tubuh tembakau [bunga, daun, batang dan akar], pasti mengandung nikotin, kecuali pada bijinya.

Alkaloid adalah istilah bagi senyawa kimia yang diambil dari kata alkali. Sebagian besar kandungannya adalah Nitrogen, yang biasanya bersifat netral sampai basa. Cara kerja nikotin bersifat stimulan, yang dapat mempengaruhi kerja saraf (menimbulkan perasaan tenang dan rileks). Pada mamalia, nikotin selalu bersifat adiktif, serta bersifat antiherbivore. Ujungnya ia dapat dimanfaatkan sebagai insektisida.

Melihat demikian besarnya manfaat dari tembakau, beberapa negara kemudian membudidayakannya dengan cepat. Sebut misalnya Brazil, Cuba, Colombia, Guatemala, Indonesia, Iran dan Meksiko. Dengan nalar-nalar tadi, tembakau sebenarnya memiliki banyak manfaat, meski efek buruk-nya juga tidak sedikit, jika digunakan berlebihan. Manfaat tembakau adalah untuk menenangkan saraf, hiburan, pelengkap setelah makan, dan tentu saja gaya hidup. Dalam perpektif lain, tembakau dapat juga dikunyah yang dapat menguatkan gigi dan dapat menghilangkan bau mulut.

Menempatkan Posisi Tembakau

Pertanyaannya, mengapa rokok yang bahan bakunya itu Tembakau, saat ini diposisikan sebagai sesuatu yang sangat berbahaya? Sehingga seolah tidak ada sedikitpun nilai manfaatnya. Inilah persoalan serius yang mungkin butuh penelitian yang juga lebih serius. Tetapi bagi saya, tulisan Painan yang mengutif beberapa intelektual dan peneliti tembakau itu, jujur mengingatkan saya akan apa yang disampaikan thabib ketika mengobati saya beberapa tahun lalu.

Tentu ini akan menjadi tulisan yang kontroversial. Tetapi, jika saya mengingat juga pernyataan guru ngaji yang asal Berebes [2010], pernyataan di atas itu, sedikit terobati. Ia menyatakan bahwa pada segala sesuatu yang dicipta Tuhan, selalu tidak bisa mengandung hukum dan makna tunggal. Sesuatu yang haram, dalam makna terbalik bisa saja mengandung makna halal. Sesuatu yang memiliki makna larangan, dalam konteks lain, malah justru bisa saja mengandung perintah.

Dalam konteks rokok, untuk orang atau masyarakat tertentu, bisa saja sangat haram, tetapi, di lain sisi untuk orang tertentu, bisa saja justru menjadi wajib. Yang sulit bagi kita saat ini adalah, bagaimana kita bisa ramah atas dua sisi persepsi yang bertentangan. Di sinilah butuh kearifan. Mungkin bagi perokok, lebih baik merokok di tempat privasi,  jika kegiatan dimaksud, betul-betul masih sulit dihentikan. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.