Take a fresh look at your lifestyle.

Di Balik Sumpah Pemuda Antara Bahasa Indonesia dan Melayu

0 232

BAHASA Indonesia yang semula  berinduk dari  bahasa Melayu,  memiliki kekuatan sumpah yang luar biasa. Pada  tiga kalimat sumpah Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 dinyatakan, “Kami Poetra Poetri Indonesia mengjoengjoeng bahasa persatoean,  bahasa Indonesia”. Kata “Indonesia” pada masa  itu telah menjadi milik anak muda yang merasa sebagai putra-putri Indonesia.  Nasionalisme Indonesia telah masuk dalam relung jiwa anak  muda yang tergoda untuk merdeka.

Bahasa Indonesia yang berkembang sangat  pesat dan  mengalahkan  induknya bahasa Melayu,  membuat bahasa Indonesia melaju menjadi “bahasa yang mandiri”. Meski dunia kebahasaan internasional belum  mengakui kemandirian bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia masih  dimasukkan dalam  rumpun Melayu  dengan menyebut ”bahasa Melayu dialek Indonesia”.

Di Jawa Barat, penggunaan istilah “Melayu Betawi” pada Perda Jabar no.5/2003 yang diamandemen menjadi Perda Jabar no.14/2014 tentang Pelestarian, Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa dan Aksara Daerah di Jabar menunjukkan, untuk bahasa yang berkembang pada masyarakat di sekitar Batavia (kini Jakarta) menunjukkan, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa gaul (lingua franca) yang kuat. “Melayu Betawi” diartikan sebagai bahasa Melayu yang sudah disesuaikan dengan wilayah budaya (geoculture) di Betawi. Betawi sebagai meltingpot sudah tentu banyak dimasuki unsur-unsur budaya lain, bukan hanya Melayu, tetapi juga Arab, China, India dan etnis lainnya.

Pada bekas negara-negara jajahan di sebagian benua Asia, bahasa mereka banyak dipengaruhi bahasa bekas negara jajahannya. Sebut saja, India dan Filipina yang sebagian besar masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris. Sementara di Suriname, bahasa Belanda dan Jawa menjadi doniman dan hampir menghilangkan bahasa ibu mereka. Ini karena Suriname pernah dijajah Belanda dan mengirimkan para pekerja dari Jawa untuk bekerja di negara tersebut. Sementara pengguna bahasa Jawa di negara itu tak bisa sedikit pun berbahasa Indonesia. Karena memang pada abad ke-17 dan 18 saat mereka dipaksa ke Suriname, Jawa belum bersentuhan kuat dengan Melayu.

Dalam pandangan pakar  bahasa Edward Sapir (Gutenberg,  1921), bahasa adalah metode murni manusia dan non-naluriah dalam mengomunikasikan ide-ide, emosi, dan keinginan melalui sistem simbol yang  secara sukarela diproduksi. Simbol-simbol ini, dalam contoh,  pendengaran dan mereka yang diproduksi oleh apa yang disebut “organ berbicara.” Tidak ada dasar naluriah dilihat dalam bahasa manusia seperti itu, ekspresi betapapun naluriah dan lingkungan alam dapat berfungsi sebagai stimulus untuk pengembangan unsur-unsur tertentu dari suatu pembicaraan, kecenderungan naluriah betapapun, motorik dan lainnya, dapat memberikan berbagai sesuatu yang ditentukan atau cetakan untuk ekspresi linguistik.

Satu kata lagi mengenai hubungan antara bahasa dan pikiran. Sudut pandang yang kita kembangkan tidak dengan cara apapun menghalangi kemungkinan pertumbuhan kemampuan berbicara berada pada perkembangan pemikiran tingkat tinggi . Kita mungkin menganggap bahasa yang muncul pra – rasional – hanya bagaimana dan pada tingkat yang tepat. Apa aktivitas moral kita tidak tahu – tapi kita tidak harus membayangkan, bahwa sistem yang sangat maju dari simbol perkataan sendiri yang keluar sebelum usul konsep yang berbeda dan berpikir.

Identitas Indonesia

Bahasa menjadi penting  sebagai sebuah identitas seseorang. Seorang  Indonesia tentu akan menunjukkan sikapnya sebagai jiwa  yang memiliki Indonesia. Dengan demikian kewajiban berbahasa Indonesia  bagi  presiden, wakil presiden dan pejabat  negara  lainnya bersifat  wajib dan mutlak dalam forum internasional di dalam maupun luar negeri.

Benar, sertiap individu dalam arti tertentu ditakdirkan untuk berbicara, tapi itu sepenuhnya karena keadaan, bahwa ia lahir bukan hanya di alam, tetapi dalam pangkuan masyarakat yang pasti, cukup yakin, untuk memimpin dia terhadap tradisi-tradisinya. Hilangnya suatu  bahasa, berarti hilangnya kepribadian sebuah bangsa dan  juga  Tanah  Air. Ironis memang, pada  tataran  masyarakat  atas, bahasa  Indonesia terkikis dengan  digantikan bahasa asing, sementara pada masyarakat  bawah,  bahasa  daerah  terkikis akibat  berkembangnya bahasa Indonesia. Lalu  di manakah kedudukan ketiga  bahasa tersebut. Balai Bahasa Provinsi Jawa  Barat, memberikan alternatif kedudukan bahasa-bahasa  tersebut, bahasa  daerah,  penting, bahasa  Indonesia, wajib dan  bahasa asing, perlu. Hanya  perlu.

Ragam Bahasa di Indonesia

Di Jawa paling tidak terdapat empat bahasa etnis yang penting, yakni Jawa (Jatim dan Jateng), Sunda (Jawa Barat), Melayu (Batavia) dan Madura (sebagian Jawa Timur), demikian kuat dipelihara dan dijadikan bahasa peradaban sukunya. Bahasa-bahasa tersebut sudah dijadikan sebagai identitas suku mereka. Dan satu sama lain hidup berdampingan dan saling menghormati perbedaan bahasa maupun budayanya. Tetapi bukan berarti Melayu lepas dari pengaruh budaya Jawa. Pada wayang Melayu misalnya, sebagian dialog dan suluk menggunakan bahasa Jawa.

Tradisi pementasan wayang juga masuk ke dalam budaya Melayu. Dalam kebudayaan Melayu, khususnya di Semenanjung Malaka, dikenal adanya tiga jenis wayang, yakni wayang Melayu, wayang Jawa, dan wayang Siam. Wayang Melayu dan wayang Jawa hanya mempunyai sedikit perbedaan, yaitu pada bentuk tangan. Wayang Melayu hanya mempunyai satu tangan yang dapat digerakkan sedang wayang Jawa mempunyai dua tangan yang dapat digerakkan. Keduanya tampak merupakan adaptasi dari wayang yang ada di Pulau Jawa. Wayang Melayu dan wayang Jawa membawakan cerita Pandawa dan Panji (Sweeney, 1980: 41 pada Bani Sudardi, Pengaruh Bahasa Jawa terhadap Teks Wayang Melayu – Betawi).

Bahasa Melayu Beda Dengan Bahasa Jawa dan Sunda

Bahasa Melayu tidak memiliki undak-usuk bahasa seperti pada Jawa maupun Sunda. Lebih menunjukkan sikap egalitarian antara sesama, meski sisa-sisa feodalismenya masih tetap lekat. Kosakata “saya” misalnya lebih merujuk pada “sahaya” yang berarti budak. Demikian pula pada Jawa, kosakata “kula” (kawula) dan “abdi” pada Sunda merujuk pada tingkatan sosial atas dan bawah. Tetapi pada penamaan anak-anak hewan yang secara tradisional digunakan masyarakat Jawa, tidak berlaku pada bahasa Melayu. Anak hewan, seperti gudel anak kerbau, pedet anak sapi, belo anak kuda dan lainnya tak dijumpai pada tradisi Melayu. Jagad atas-bawah kenyataannya masih berlaku dalam tradisi Jawa maupun Sunda.

Sifat-sifat egalitarian inilah yang membuat bahasa Melayu lebih diterima seluruh rakyat Indonesia ketimbang Jawa atau bahasa etnis lainnya. Padahal pada sekira Oktober 1928 pengguna bahasa Jawa di Hindia Belanda dipastikan lebih besar ketimbang Melayu itu sendiri.

Dalam pandangan Benedict Anderson, bahasa Melayu telah menjadi sebuah lingua franca antarpulau selama berabad-abad yang dirasakan cocok untuk maksud demikian. Kaum nasionalis Indonesia yang berasal dari Jawa, terlepas dari kesadaran akan ‘sulitnya’ berbahasa Jawa, mereka cukup berpandangan jauh dan lapang dada untuk menindas tuntutan bahasa pribumi sendiri terhadap sukubangsa-sukubangsa Indonesia lainnya.

Kelegawaan etnis Jawa inilah yang kemudian melahirkan tiga kalimat sakti, yakni Soempah Pemoeda (sumpah pemuda). Salah satunya adalah : “Kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”  Konsesus nasional kalangan muda yang membuat Indonesia hanya memiliki satu bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia. Kesimpulannya, bahasa daerah itu pasti, bahasa Indonesia wajib dan bahasa asing perlu.

Pakar  bahasa Bernard Comrie (Encarta 2003) berpendapat  bahasa Austronesia, sebelumnya disebut Melayu-Polinesia, meliputi Semenanjung Malaya dan sebagian pulau-pulau di sebelah tenggara Asia dan diucapkan sejauh barat Madagaskar dan di seluruh kepulauan Pasifik sejauh timur seperti Pulau Paskah. Bahasa Austronesia termasuk Melayu (disebut Bahasa Malaysia di Malaysia, dan Bahasa Indonesia di Indonesia), Jawa, Hawaii, dan Maori (bahasa penduduk asli Selandia Baru). ***  Nurdin M.Noer – Wartawan senior, pemerhati kebudayaan lokal.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar