Inspirasi Tanpa Batas

Bahaya Epilepsi Pada Perempuan dan Cara Mengobatinya

Perempuan penderita epilepsi atau yang dikenal sebagai ayan, atau kejang-kejang mempunyai tingkat fertilitas lebih rendah, di lain pihak, banyak obat anti epilepsi yang justru mengganggu manfaat kontrasepsi hormonal. Lalu bagaimana cara mengobati nya?

0 37

Konten Sponsor

Epilepsi pada Perempuan — Penyakit Epilepsi atau yang sering disubut dengan ayan adalah suatu gangguan saraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala biasanya dengan perubahan-perubahan kesadaran. Kesehatan perempuan penderita epilepsi selama masa reproduksi kompleks dibandingkan dengan populasi perempuan yang tidak menderita epilepsi.

Perempuan penderita epilepsi mempunyai tingkat fertilitas lebih rendah, di lain pihak, banyak obat anti epilepsi yang mengganggu manfaat kontrasepsi hormonal. Di samping itu, obat anti epilepsi utama ang sering digunakan berpotensi untuk terjadinya malformasi kongenital.

Serangan kejang yang sering terjadi atau sulit dikendalikan dapat mengganggu pertumbuhan janin melalui penurunan aliran darah plasenta dan gangguan oksigenasi janin. Dokter yang menangani perempuan penderita epilepsi harus selalu memperhatikan setiap perubahan  fisiologis yang terjadi pada penderita.

Di samping farmakologi dan farmakokinetik obat anti epilepsi, aspek psikologis penderita dan tujuan eutama strategi terapi harus diperhatikan secara seksama pula. Pemberian obat anti epilepsi secara optimal dan koordinasi secara seksama pula. Pemberian obat anti epilepsi secara optimal dan koordinasi serta dukungan kerjasama jangka panjang antara dokter dan penderita akan memberi manfaat bagi penderita.

Sehubungan dengan kompleksitas, maka apa yang kita ketahui dan pikirkan harus disampaikan pada penderita / keluarganya. Masalahnya bahwa penjelasan pada penderita / keluarganya tidak selalu mudah diberikan karena adanya masalah psikologis, kurangnya pemahaman akan epilepsi, serta hal berhubungan dengan fisiologi reproduksi pada perempuan. Epilepsi menyebabkan : kecemasan, ketakutan, rasa malu, dan perasaan seakan-akan tersingkirkan dari lingkungannya.

Masalah tadi merupakan tantangan bagi praktisi medik yang sering memberi pelayanan pada penderita epilepsi, khususnya perempuan yang berkaitan dengan perubahan fisiologis sejak masa anak-anak, remaja, dewasa, menikah, hamil, melahirkan dan menyusui. Uraian ini tujuannya untuk menjelaskan sehubungan dengan perempuan yang menderita epilepsi, dengan perhatian khusus pada strategi penatalaksanaan yang berkaitan dengan perubahan fisiologis pada penderita.

1 Penatalaksanaan Epilepsi Pada Perempuan

Penatalaksanaan Epilepsi Pada Perempuan

Penatalaksanaan epilepsi pada golongan anak perempuan sebelum menarke tidak berbeda dengan penatalaksanaan pada anak laki-laki. Sikap tersebut seharusnya diubah karena proses perubahan fisiologis pada anak perempuan terus berjalan.

Kesadaran ini akan menguntungkan penderita karena penyuluhan yang diberikan bersifat antisipatif. Kepada orang tua penderita sangat perlu dibereikan penyuluhan yang sama agar penderita memperoleh dukungan dari keluarganya.

2 Epilepsi Pada Masa Remaja

Epilepsi Pada Masa Remaja

Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang sulit di antara anak-anak dan masa dewasa. Secara khusus, gadis remaja yang menderita epilepsi mengalami kesulitan karena melalui penyesuaian dengan perubahan fisik dan psikologis yang berarti.

Gadis remaja mengalami perkembangan yang pesat, menghendaki kebebasan, cenderung berontak pada norma yang selama ini dipatuhinya, sikap tidak konsisten dan makin banyak akan gagasan. Masa seperti ini tidak hanya tantangan bagi para remaja tapi siapa saja yang berurusan dengan mereka.

Hubungan antara epilepsi dan pubertas mungkin merupakan hasil dari perubahan hormonal yang berpengaruh terhadap sel otak. Hormon tertentu misalnya estrogen dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan epilepsi.

Pubertas pada anak perempuan tidak dapat terlepas dari awal datang menstruasi (menarke). Banyak penelitian telah dikerjakan untuk mengetahui hubungan antara epilepsi dengan menarke. Hasilnya cukup beragam yaitu penderita tidak mengalami perubahan frekuensi serangan yang lebih sering dan sisanya justru mengalami penurunan frekuensi serangan. Sebagian besar penderita epilepsi parsial mengalami peningkatan frekuensi serangan di sekitar waktu menarke.

Memperhatikan hal tersebut di atas, setiap dokter yang menangani wanita epilepsi gadis remaja harus mempertimbangkan hal khusus yang menyatu dengan aspek fisiologis dan psikologis penderita agar pertolongan diberikan kepadanya dapat optimal. Bahwa usia remaja juga mencerminkan perasaan malu dan sensitif. Penjelasan harus hati-hati, bila perlu penderita didampingi ibunya.

3 Epilepsi Pada Orang Dewasa

Epilepsi Pada Orang Dewasa

Usia dewasa membawa implikasi perkembangan fisiologis, psikologis, pendidikan, dan sosial. Keempat faktor tadi dapat memunculkan faktor pencetus serangan epilepsi. Umumnya menstruasi pada usia dewasa sudah teratur. Peningkatan frekuensi serangan epilepsi pada saat menstruasi untuk pertama kali dilaporkan oleh Gowers pada tahun 1885 yang dikenal sebagai epilepsi katamenial (catamenial epilepsy).

Pada saat terjadi menstruasi (awal fase folikular), kadar estrogen, progesteron, follicular stimulating hormone (FSH) dan LH dalam keadaan minimum. Peningkatan sekresi estrogen oleh ovarium selama pertengahan dan akhir fase folikular menyebabkan peningkatan kadar estrogen secara tajam selama 2 – 3 hari. Estrogen dan progesteron menimbulkan perubahan fisiologis yang dapat berpengaruh terhadap OAE yang diberikan kepada penderita.

Berkenaan dengan epilepsi katamenial tadi, anamnesis tentang siklus dan lamanya menstruasi harus cermat agar diperoleh gambaran yang tepat apakah serangan epilepsi pada penderita yang bersangkutan memang berkaitan dengan menstruasi atau tidak. Apabila diperoleh kepastian bahwa serangan epilepsi berkaitan erat dengan menstruasi, maka dapat segera disusun strategi penanganannya agar frekuensi serangan epilepsi tidak meningkat pada masa menstruasi.

Penambahan dosis OAE pada saat menstruasi dapat dipertimbangkan. Strategi tersebut secara individual sering bermanfaat untuk meningkatkan kontrol terhadap serangan epilepsi. Di samping itu ada penderita yang tertolong dengan pemberian tambahan asetazolamid, namun demikian hasilnya lebih terbatas bila dibandingkan dengan penambahan dosis OAE.

Sehubungan dengan hal tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa epilepsi katamenial perlu ditangani bersama-sama dengan spesialis ginekologi agar dapat diperoleh data yang tepat sehingga penanganan epilepsi katamenial dapat dilaksanakan secara tepat pula. Dalam hal ini perlu diingat bahwa informasi dari penderita harus lengkap. Di samping itiu, perlu diingat pula bahwa masih ada kemungkinan faktor pencetus lainnya yang harus dicari.

Epilepsi dapat mengganggu siklus menstruasi dan menurunkan fertilitas. Gangguan ini dapat berasal dari serangan epilepsi itu sendiri atau berasal dari OAE yang diminum penderita.

Epilepsi dapat mengganggu siklus menstruasi dan menurunkan fertilitas. Gangguan ini dapat berasal dari serangan epilepsi itu sendiri atau berasal dari OAE yang diminum penderita.

Dengan demikian setiap dokter yang menangani perempuan epilepsi juga harus menyadari kemungkinan timbulnya gangguan siklus menstruasi pada penderiita tadi maupun penurunan fertilitas.

Kesehatan perempuan penderita epilepsi sungguh kompleks dan multifaset. Berbagai perubahan fisiologis terjadi pada perempuan sejak usia anak sampai menopause. Perubahan fisiologis tadi dapat mempengaruhi perjalanan epilepsi yang dideritanya, baik dalam bentuk frekuensi maupun beratnya serangan epilepsi.

Maka menstruasi, hamil, persalinan, menyusui, dan menopause mempunyai risiko akan terjadi perubahan frekuensi serangan epilepsi yang cenderung merugikan penderita. Tiap tahap perubahan fisiologis tadi mempunyai ciri yang khas dan memerlukan strategi penanganan yang khas pula. OAE dapat menyebabkan terjadi malformasi kongenital dan juga berpengaruh negatif terhadap upaya kontrasepsi hormonal.

4 Jenis-jenis Epilepsi :

  • Grand mal (tonik – klonik umum) – Timbul serangan-serangan yang dimulai dengan kejang-kejang otot hebat dengan pergerakan kaki tangan tak sadar disertai jeritan, mulut berbusa, mata membeliak disusul dengan pingsan dan sadar kembali.
  • Petit mal – Serangan hanya singkat sekali tanpa kejang-kejang.
  • Psikomotor / serangan parsial kompleks – Kesadaran terganggu hanya untuk sebagian tanpa hilangnya ingatan dan memperlihatkan perilaku otomatis seperti gerakan menelan / berjalan dalam lingkaran.

5 Penggolongan Pengobatan Epilepsi :

Penggolongan Pengobatan Epilepsi :

Kebanyakan obat epilepsi bersifat anti konvulsif, yaitu dapat meredakan konvulsi (kejang klonik hebat) dan sedatif (meredakan). Obat-obatan ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok kimiawi:

Barbital-barbital

Terutama barbital dengan kerja panjang guna menjamin pencegahan serangan grand mal yang lebih kontinue. Obat-obat ini bersifat menginduksi enzim.

Contoh : fenobarbital dan heptobarbital.

Hidantoin- hidantoin

Struktur kimianya mirip barbital, tetapi dengan cincin 5 hidantoin terutama digunakan pada grand mal.

Contoh : fenitoin, oksazolidin.

Suksinimida-suksinimida

Digunakan pada petit mal dan serangan psikomotor.

Contoh : metil fenil suksimida dan etosuksimida.

Oksazolidan-oksazolidan

Digunakan pada petit mal : sudah terdesak oleh suksimida karena efek sampingnya yang hebat terhadap hati dan limpa.

Contoh : etadion dan trimetadion.

Untuk lebihlengkap mengenai cara pengobatan pendiri epilepsi silahkan baca artikel ini “Pengobatan Epilepsi”  dari Alodokter.

6 Kesimpulan Penulis

Kesehatan perempuan penderita epilepsi sungguh komplek dan multifaset. Berbagai perubahan fisiologis terjadi pada perempuan sejak usia anak sampai menopause. Perubahan fisiologis dapat mempengaruhi perjalanan epilepsi yang dideritanya, baik dalam bentuk frekuensi maupun beratnya serangan epilepsi.

Masa menstruasi, hamil, persalinan, menyusui, dan menopause mempunyai resiko terjadi perubahan frekuensi serangan epilepsi yang cenderung merugikan penderita. Tiap tahap perubahan fisiologis mempunyai ciri yang khas dan memerlukan strategi penanganan yang khas pula. OAE dapat menyebabkan terjadi malformasi kongenital dan juga berpengaruh negatif terhadap upaya kontrasepsi hormonal.

Setiap dokter yang menangani perempuan penderita epilepsi harus memperhatikan berbagai perubahan fisiologis yang terjadi pada penderita, jenis OAE yang tersedia berikut aspek farmakologi dan formakokinetiknya.

Kepada penderita harus diberi penjelasan yang cukup tentang berbagai kemungkinan terjadi sehubungan dengan perubahan alamiah yang ada terutama yang berkaitan dengan epilepsi dan OAE yang diminumnya.

Penjelasan tadi diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh penderita. Akhirnya kerjasama antara dokter dan penderita dalam jangka panjang sangat diperlukan agar penderita memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesehatannya.

Perempuan yang menderita epilepsi, dengan perhatian khusus pada strategi penatalaksanaan yang berkaitan dengan perubahan fisiologis pada penderita di lingkungan keluarga harus paham karena bisa menyebabkan kecemasan, ketakutan, rasa malu dan perasaan seakan-akan disingkirkan dari lingkungannya, sebagai keluarga dekat harus bisa mengatasi penyebab-penyebab pada penderita epilepsi.

Sumber bacaan: Majalah Kedokteran Indonesia, Volum : 52, Nomor : 5, Mei 2002.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar