Bahaya Efek Filter Bubble Dari Penggunaan Internet, Yang Kadang Tidak Kita Sadari

0 330

Dewasa ini, internet tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari mayoritas masyarakat kita. Namun mereka tak menyadari Bahwa ada bahaya Filter Bubble Efek dalam Dunia Maya. Peranah Menendengarnya? Kalau belum? yuk cari tau. Filter Bubble, pertama kali diperkenalkan oleh seorang aktivis internet terkemuka bernama Eli Pariser.

Istilah ini menurut informasi dari Wikipedia dan beberapa sumber, Artinya adalah sebuah kondisi hasil formulasi, hitungan, perkiraan, algoritma dan penyaringan pada sebuah situs yang akan menebak informasi apa yang pengguna ingin lihat. hal tersebut di dasari atas informasi tentang pengguna seperti lokasi, Riwayat klik, riwayat like, pertukaran komentar, dan riwayat pencarian. Sebagai hasilnya, pengguna menjadi terpisah dari informasi yang kira-kira tidak selaras dengan pandangan mereka, dan kemungkianan sama dengan yang kamu butuhkan karena melihat apa yang kamu lakukan di beberapa waktu lalu.

Proses Terjadinya Filter Buble dan Bahaya Efek filter Bubble

sebagian pengguna Internet tidak menyadari adanya Filter bubble, terutama di media sosial. Pertanyaanya, Beranda kamu pernah gak di penuhi konten situs web, yang kamu LIKE dan SHARE beberapa waktu lalu? Pernah gak Menyadari hanya status teman-teman yang kamu like yang muncul ketika kamu buka sosial media? mengapa bisa seperti itu?

Yupzz fenomena seperti itulah contoh kecil dari Filter Bubble. Diawali dengan adanya perubahan algoritma dalam penyeleksian konten. Kejadian ini makin menjadi saat ini, dikarenakan Social Media yang mengubah algoritma isian konten halaman beranda dari semula berbasis timeline (waktu), sekarang diganti menjadi berdasarkan penyaringan (filter) berdasar histori, riwayat, aktivitas masa lalu, para penggunanya. Yah inilah fenomena yang dinamakan Effek Filter Buble.

bahaya-filter-bubble-efek-dunia-maya-yang-kadang-tidak-kita-sadari-2

Bahaya dari efek filter bubble ini, seorang pengguna sosial media seolah-olah terkurung didalam balon imajiner  yang mana isi dari balon itu adalah mayoritas orang-orang yang sependapat sepemikiran dengan pengguna sosial media tersebut. dimana orang-orang itu ditemukan oleh sosial media dari hasil penyaringan. Tentunya keadaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir dan respon di masyarakat. Pengguna Sosial media tersebut hanya disodori pengguna sosmed lain yang pro dengan dia, tidak dengan yang kontra dengan dia.

Mari kita coba bahas untuk kasus Media sosial Facebook :

Bayangkan ada seorang LGBT, sebutlah Udin, yang sangat fanatik. sedangkan heboh berita-berita mengenai LGBT sedang heboh di FB. Udin hanya like dan comment status Reda, Choki, Amar dan yang suka dan Pro dengan LGBT. Berita-berita yang berkaitan dengan LGBT yang positif dan sependapat dengan pikiranya selalu Udin share. Setiap ada tautan dari media lain yang menurutnya tidak sepaham, tidak Udin hiraukan. Dan hal ini Udin lakukan terus selama hampir 2 beberapa waktu.

Karena algoritma FB memastikan news feed yang muncul adalah dari teman-teman yang paling dekat dengan udin (yang sering di like udin, yang sering di-share dan lain sebagainya), maka kemungkinan besar yang muncul hanya status-status Reda, Choki dan Amar serta berita-berita yang semuanya pro LGBT.

Kemudian, ada si Pandi yang sering kritik LGBT, walaupun berteman dengan Udin, Reda, Choki dan Amar. Statusnya Pandi mungkin jarang muncul di news feed si Udin. Mengapa seperti itu? Karena baik Reda, Choki dan Amar sama juga seperti udin tidak pernah like atau comment di status Pandi. Algoritma FB pun kemudian menyimpulkan bahwa Pandi adalah teman jauh dari mereka.

Akhirnya si Udin jadi sangat jarang menjumpai opini-opini yang berlawanan, membuatnya terisolasi di bubbles (gelembung-gelembung) ide dan keyakinan kelompoknya sendiri (Reda, Choki dan Amar). Ini lah yang kira-kira disebut dengan konsep filter bubble, diperkenalkan oleh Eli Pariser pada Tahun 2011.

Apa kira-kira efek negatifnya?

Bisa Menciptakan Pemahaman Paling Benar Sendiri dan Kebal terhadap kritik

Karena selalu disodori opini dan pandangan pro LGBT, Udin semakin jauh dari opini dan pandangan di luar LGBT itu. Walaupun si Pandi menulis kritik bagus (ilmiah dan konstruktif) tentang LGBT, tidak akan sampai ke newsfeed si Udin. Akhirnya semakin lama semakin terbentuk pemikiran “pokoknya LGBT itu Baik dan benar dan pendapat lain salah”.

False-consensus effect

Kalau Udin ditanya, “Seberapa positifkah penerimaan LGBT di publik sekarang?”, bisa jadi Udin serta-merta dia akan menjawab, “Wah, sangat bagus. Di news feed FB saya semuanya memuji LGBT, banyak positifnya.” Inilah yang disebut dengan false-consensus effect: “kecenderungan orang untuk overestimate bahwa orang lain semua sepaham dengan dia”. Dalam kondisi biasa saja efek ini sangat umum berlaku. Apalagi kalau diperburuk dengan adanya filter bubble.

Walaupun ambil ilustrasi seorang LGBT, tapi bubble filter ini juga mengancam kelompok yang berseberangan,  dan juga kelompok-kelompok lain. dari seringnya orang melihat informasi tersebut sudah otomatis ada di page atas, karena Founder pasti punya nilai jual pada tema dan bahasan itu. Intinya, semoga kita semua terhindar dari efek buruk filter bubble. Fair dan objektif, serta berpikiran terbuka adalah kunci memfilter diri sendiri dari Justifikasian informasi. Mari kita mulai dari diri kita masing-masing, demi generasi Indonesia yang lebih baik. [aL/Dari Berbagai Sumber]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.