Baik dan Buruk Adalah Soal Persepsi

0 968

Baik dan Buruk Adalah Soal Persepsi. Bagaimana persepsi kita jika ada seseorang yang hanya layak disebut baik? Tepatkah penilaian itu diberikan? Jawabannya tentu bisa iya benar bisa tidak! Ko bisa begitu? Jawabannya tentu akan sangat tergantung pada persepsi apa yang kita bawa ketika memberi penilaian. Mengapa? Sebab pada apa yang dipandang baik, belum tentu benar-benar baik. Tentu apalagi jika yang menilainya ada orang lain.

Bagaimana persepsi kita jika ada seseorang yang hanya layak disebut buruk? Tepatkah penilaian itu diberikan? Jawabannya tentu bisa iya bisa juga tidak! Sama seperti yang pertama. Jawabannya akan sangat tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Mengapa? Sebab yang dipandang buruk, belum tentu benar-benar buruk. Terlebih jika yang menilainya orang lain.

Kebaikan dan keburukan, dalam perspektif filsafat, ternyata hanya sebuah persepsi. Itu jawaban singkatnya. Yang kita pandang baik, ternyata belum tentu benar-benar baik. Sama seperti ketika kita memberi penilaian buruk. Belum tentu benar-benar buruk. Selalu tersedia celah baik, pada apa yang kita sebut buruk. Atau selalu tersedia celah buruk pada sesuatu yang kita sebut baik.

Wach kalau begitu berarti nihil? Bisa iya, bisa juga tidak! Tergantung juga dari sisi mana kita melihatnya. Tetapi jika kita berselancar ke masa lalu, inilah pertarungan Socrates dengan para demagog [politikus dan agamawan] di Yunani Kuna. Menurut Socrates, sekalipun kebaikan dan keburukan itu relatif, tetapi, menurutnya selalu tersedia apa yang disebut dengan kebaikan universal dan keburukan universal.

Teori Nihilisme Socrates

Menurut Socrates, jika segenap kebaikan dan keburukan, ditempatkan dalam makna relatif, maka, konsekwensinya, ia bakal tumbuh menjadi komoditas. Jika ia menjadi komoditas, maka, kebaikan dan keburukan bukan saja dapat dipertukarkan, tetapi, sekaligus dapat diperjual belikan. Jika sampai situasi itu benar-benar terjadi, maka, konsekwensinya, manusia akan kehilangan pegangan. Inilah nihilism Socrates.

Di tingkat lapangan, kebajikan [virtues] dan keburukan itu, memang menyulitkan untuk diberi penilaian pasti. Misalnya, penilaian apa yang layakan diberikan kepada Amerika Serikat ketika membombardir Jepang saat terjadi perang dunia ke dua. Mana yang benar? Dapatkah kita mengatakan bahwa apa yang dilakukan Amerika yang membom Hirosima dan Nagasaki, yang bukan saja telah membunuh ratusan ribu orang, tetapi, juga telah membuat tanah menjadi mati itu, harus dipandang salah secara total.

[Baca juga] Kriteria Kebenaran Dalam Perspektif Filsafat

Bagaimana jika logika yang digunakan adalah: Membunuh seratus seribu orang Jepang akan jauh lebih baik, dibandingkan dengan membiarkan Jepang yang fasis terus menerus membunuh jutaan manusia di muka bumi. Jika logika ini yang digunakan, tentu penilaiannya menjadi berubah. Apa yang dilakukan USA itu, meski tanah yang demikian subur [Hirosima dan Nagasaki], sampai detik ini tetap menjadi tanah mati akibat rayapan zat kimia yang ditimbulkan dari Bom Atom, ternyata dan sedikit memaksa harus dipandang bermakna positif.

Saat ini, kita hidup dalam pandangan nilai yang relatif. Jadi agak masygul kalau menyatakan diri sebagai sosok yang pasti benar. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.