Take a fresh look at your lifestyle.

Balada Kumis Udang Sebelah Kiri dalam Membela Kebenaran Part-4

0 19

Malari meletus pada tanggal 15 Januari tahun 1974. Peristiwa ini, telah mengajarkan kepada Pemerintah Orde Baru yang baru terbentuk untuk menyusun suatu kebijakan baru dalam pengelolaan Pendidikan Tinggi. Salah satu kebijakan dimaksud adalah lahirnya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Kebijakan ini tebit sebagai bentuk respons dunia kaum intelektual yang terlalu kritis dalam menganalisa kebijakan pemerintah.

Kebijakan tentang NKK ini, dikeluarkan oleh Menteri Kebudayaan (Mendikbud) RI yang saat itu dijabat  Daud Joesoef dan dua orang CSIS dengan icon utama Ali Murtopo dan Beny Moerdani. Kebijakan NKK juga tidak lepas dari strategi CSIS (ttg ini perlu kolom khusus). Kampus yg normal adalah kampus yang dianggap steril dari kepentingan politik, dan tugas mahasiswa tentu didalamnya ada dosen adalah belajar (tentang ini juga butuh kolom khusus, Karena menyangkut hakikat, paradigma dan definisi pembelajaran yang dialektik

Sejak itu, belum ada perubahan mendasar dalam kurikulum Pendidikan Tinggi Indonesia. Kurikulum yang didesain secara utuh dan komprehensif dalam kepentingan pengembangan keilmuan belum tertata dengan baik. Dengan kata lain, sampai saat ini kurikulum Pendidikan Tinggi kita msh didominasi oleh paradigma belajar seperti era kejayaan CSIS. Tidak heran bila output kualitas Pendidikan Tinggi kita pada umumnya melahirkan generasi yang terlalu spesialistik tanpa diimbangi oleh wawasan general yang memadai.

Politik Kumis Udang Sebelah Kiri

Sejak saat itu, Pendidikan Tinggi Indonesia kebanjiran rumusan spesialis kumis udang sebelah kiri. Mereka menjadi spesialis atau ahli tentang kumis udang sebelah kiri. Tapi jangan coba tanya tentang kumis kanan, itu spesialis lain. Apalagi tentang bagian kepala udang, tentang seluruh bagian udang, tentang seluruh jenis udang, tentang perikanan, apalagi tentang pertanian, apalagi tentang penistaan agama. Itu semua terlalu jauh, sehingga sama sekali tidak menarik perhatian para intelektual NKK. Jikapun ada ada aktivis mahasiswa yang peduli, itu pasti bukan output kurikuler, tetapi mereka hanya memperolehnya lewat kegiatan intra atau ekstra kurikuler.

Saya kira inilah persoalan serius yang harus menjadi agenda rekonstruksi sistem pendidikan Tinggi Indonesia. Bangsa ini telah terlalu lama kehilangan salah satu pilar manusia Indonesia seutuhnya, yaitu hilangnya kepekaan social. Padahal hal ini sebenarnya menjadi indikator penting dari kecerdasan sosial.

Bila kita cermati kembali karakter ilmuwan muslim yang dihasilkan oleh era kejayaannya pada abad 7-13 Masehi, ternyata mereka adalah spesialis dan generalis sekaligus. Mengapa sistem pendidikan Tinggi kita tidak lagi mampu melahirkan kualitas seperti itu? By. Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd


Edisi Membela Kebenaran :

Part 1 : Fenomena Pembunuhan Karakter Bangsa

Part 2 : Berjuang Meskipun Kecil Dalam Membela Kebenaran

Part 3 : Berusaha Maksimal dalam Membela Kebenaran

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar