Inspirasi Tanpa Batas

Bali Adalah Surga Bagi Kaum Entrepreneur dan Digital Officer

0 83

Jakarta dan sekitarnya adalah wilayah yang memiliki daya tarik ekonomi yang tinggi. Tidak heran para kaum entrepreneur berbondong-bondong ke sini. Namun, berbagai daerah selain ibukota juga memiliki daya tarik masing-masing bagi kaum wirausahawan.

Bali adalah salah satu daerah selain pusat negeri ini yang dianggap sangat ‘seksi’. Apa pasal? Di pulau ini, produktivitas kerja dan keseimbangan hidup bisa dicapai sekaligus. Anda tidak hanya bisa berlibur, mengikuti kelas yoga yang menenangkan dan menyehatkan jiwa dan raga, menikmati makanan dan minuman sehat serta udara yang relatif masih bersih dibandingkan dengan Jakarta. Itulah yang dirasakan sekelompok entrepreneur pendatang dan lokal yang mencoba peruntungan mereka dengan bekerja secara jarak jauh di Bali.

Hubud

Hubud
Suasana Interior Hubud milik peter wall

Peter Wall, salah satu pendiri co-working space pertama dari Bali yang disebut “Hubud”. Berbicara mengatakan kawasan Ubud di Bali telah menjadi suatu area perkumpulan pekerja digital kreatif sekaligus juga menjadi tempat ideal menyeimbangkan kehidupan kerja dan pribadi.

“Bali selalu dikenal sebagai tempat bertemunya orang-orang yang amat kreatif. Anda dapat datang ke sini dan bereksperimen, melakukan berbagai hal dengan cara yang sangat berbeda, rehat dari rutinitas bisnis yang membosankan dan pastinya bekerja lebih cerdas. Kegiatan sehari-hari di kota-kota besar dapat membuat Anda lelah dan stres berat. Dengan tinggal di Bali, seseorang tak lagi harus datang ke kantor untuk bekerja. Tidak seorang pun mengerjakan pekerjaan yang tak mereka sukai. Kami merasakan energi yang positif di ruangan ini. Inilah sensasi yang terasa saat Anda bekerja di sebuah tempat yang berbeda, bukanlah di dalam kantor yang biasa,”tutur Wall panjang lebar.

Hubud memiliki lebih dari 200 orang anggota dan sekitar 50 sampai 60 orang pekerja harian. Hubud menjadi salah satu faktor pertumbuhan dunia kreatif Bali dan komunitas para bisnis startup. Wall dan rekan pendirinya Steve Munroe menggunakan ruang kerja Hubud sebagai ‘kantor’. Untuk membantu membangun komunitas entrepreneur yang solid, dengan mengakomodasi 25 acara pada bulan November tahun lalu. Mendorong ‘pembelajaran yang timbal balik’ dan mensponsori hackathon dan penghargaan inovasi sosial di tanah air. Keduanya juga mengembangkan solusi layanan bagi mereka yang baru saja tiba di Bali dan ingin bekerja dengan atmosfer berbeda di Hubud. Hubud akan mengurus hal-hal remeh temeh dari penjemputan ke bandara, akomodasi harian, cuci pakaian, dan sebagainya. Sementara itu, entrepreneur dapat langsung datang dan bekerja, hanya fokus pada pekerjaannya dan tentu saja, menikmati kehidupan selain bekerja. Munroe menandaskan,”Saling memahami dan transparansi biaya merupakan kunci sukses layanan kami.”

Startup Getaway

Tidak hanya Wall dan Munroe yang mencoba memudahkan kehidupan para entrepreneur di pulau Dewata. Ada juga coworking space bernama “Startup Getaway” yang berlokasi di dekat Denpasar dan memberikan paket layanan menginap bagi entrepreneur selama 1, 3 dan 6 bulan. Entrepreneur bisa bekerja dengan tenang di sini. Tim yang sama juga menjadi pengelola acara Project Getaway yang bertema membangun jejaring bisnis dalam 30 hari. Ada pula Contenga International, tempat untuk menginap dan bekerja yang terpadu.

Menurut Andrea Loubier (salah satu pendiri dan CEO klien email Windows “Mailbird”). Komunitas di Bali memberikan suasana yang segar, inovatif dan kreatif namun seperti sebuah startup, Bali masih berada pada tahap awal. Loubier yang berasal dari Cincinnati itu mengatakan ia sudah menempatkan sejumlah warga dari Denmark, Indonesia dan Kolombia di antara wilayah Ubud dan Kuta. Ia meyakini bahwa biaya operasional dapat diperoleh dengan bootstrapping. “Justru lebih mudah melakukan bootstraping di sini dibandingkan di AS atau Denmark. Karena biaya hidup yang tinggi di Eropa juga Amerika,”paparnya.

Loubier bercerita bahwa saat orang mendengar startupnya berpusat di Bali, tanggapan mereka sangatlah lucu. “Mereka terkejut atau menganggap Anda hanya sekedar bercanda. Kemudian mereka benar-benar terkejut saat melihat ada traction dan mengetahui konsumen dunia mulai mengetahui keberadaan startup kami,”pungkasnya.

Pengakuan Kelas Dunia

Startup-startup yang berkantor di Bali, meskipun dengan kekecilannya, telah diakui eksistensinya di seluruh dunia setelah diliput oleh blog berita teknologi besar seperti TechCrunch dan Lifehacker.

Di samping dua tempat tadi, kita bisa menemukan komunitas startup digital “Secret W Business” dan “#subali meetups”.

Menurut mereka, bekerja di Bali yang bukan pusat bisnis atau dunia startup digital memang lebih menantang dibandingkan di pusat-pusat bisnis. Dan ekonomi yang lebih stabil dan mantap layaknya Silicon Valley tetapi manfaatnya juga tidak kalah banyak. Kendala bahasa dan budaya serta kecepatan koneksi Internet yang kurang memuaskan mungkin masalah yang perlu dipikirkan bagi pekerja dari negara lain.

Tetapi para entrepreneur dapat lebih menyiasati penggunaan dana untuk anggaran usaha, keamanan, akses ke jejaring bisnis luar, acara dan sumber daya yang diperlukan startup untuk berkembang memang masih langka di pulau dewata. Mengurus investasi misalnya cukup menguras tenaga dan waktu karena harus melakukan perjalanan udara lebih sering.

(kaum entrepreneur) (daya tarik ekonomi) (digital officer)

Komentar
Memuat...