Bank Syari’ah dan Masyarakat Muslim Indonesia

0 17

Bank Syari’ah dan Masyarakat Muslim Indonesia. Prestasi penting atas lahirnya Orde Reformasi, pasca kejatuhan Soeharto, Maret 1998, adalah menjamurnya pendirian lembaga keuangan syari’ah. Termasuk bank syari’ah di tengah bank konvensional. Sebut misalnya, Bank Mandiri dengan BSM-nya, atau Bank BCA dengan BCA Syari’ah.

Menjamurnya lembaga keuangan syari’ah termasuk Bank syari’ah dimaksud, dipicu salah satunya karena keberhasilan Bank Muamalah Indonesia (BMI) atas terpaan badai Krisis moneter 1998. Banyak anggapan bahwa bank berbasis syari’ah pertama yang didirikan para intelektual Muslim awal tahun 1990-an, ternyata mampu membebaskan diri dari apa yang disebut dengan krisis perbankan.

Suatu krisis besar yang, menjalar kepada krisis ekonomi, politik dan kepercayaan. Kondisi ini, bukan saja telah menyebabkan penguasa selama kurang lebih 32 tahun itu jatuh, tetapi, sekaligus berhasil menunjukkan watak dasar dan prinsip-prinsip Islam. Sistem Islam, sejak era itu,  kemudian muncul menjadi semacam antitesis yang menjadi sumbu penting dalam menata kehidupan manusia Indonesia. Termasuk salah satunya dalam penataan bidang ekonomi dan perbankan.

Pasca reformasi itu bergulir, hampir tidak ada bank konvensional yang tidak membuka produk syari’ah. Apakah itu bank BUMN atau bank swasta murni. Termasuk bank yang secara saham, mayoritas dimiliki masyarakat non Muslim. Bak jamur di musim hujan, bank-bank syari’ah tumbuh dengan cepat dengan lakonnya sendiri yang kadang unik.

Betulkah Ada Bank Syari’ah

Persoalannya, apakah bank-bank syari’ah itu, tetap mempertahankan prinsip-prinsip dasar kesyari’ahannya atau tidak? Tentu terjadi polemik. Terjadi pro dan kontra antara mereka yang menganggap bank syari’ah sebagai bank yang secara given Islami, dan sebagian mereka yang menganggap bank syari’ah tidak given Islami. Syari’ah hanya dipakai untuk menjadi semacam tameng dalam mempertahankan fisibilitas perbankan, kalau bukan hanya sekedar mengikuti trend.

Mereka yang berada dalam mainstream berpikir di kelompok kedua, salah satunya sering menunjukkan fakta bahwa bank syari’ah lebih mengedepankan tingginya tingkat provit pemilik modal, dibandingkan dengan upaya untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat Muslim itu sendiri. Fakta secara empirik, tingkat suku bunga yang sering disebut kelompok bank syari’ah ini dengan istilah margin, ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan bank konvensional sekalipun yang pada saat bank belum didirikan, kritik terhadap suku bunga ini, sering menjadi patokan.

Padahal, jika mau sedikit jujur, salah satu faktor yang menjadi sumbu utama mengapa Bank Syari’ah atau bank Islam itu didirikan, salah satunya adalah untuk menjangkau masyarakat Muslim Indonesia yang secara konvensional dianggap tidak memiliki akseptabilitas perbankan dan tidak memiliki kemampuan secara teoretik dan praktis dalam penggunaan produk-produk perbankan.

Dengan nalar semacam ini, bank syari’ah yang memiliki i’tikad untuk mengembangkan prinsip dasar tadi, seharusnya memiliki bobot pembinaan keuangan kepada masyarakat Muslim dan bagaimana mereka menumbuhkan budaya usaha yang kompetitif secara sehat.  Langkah ini, ternyata belum mampu dilakukan. Karena itu, berdasarkan hasil penelitian kecil team lyceum Indonesia, menyimpulkan sementara bahwa bank syari’ah belum mewakili kepentingan masyarakat Muslim Indonesia, yang secara ekonomi berada di kelompok periferal.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.