Banyak Lulusan Pilot Indonesia Masih Menganggur. Benarkah?

0 111

INDONESIA kembali melahirkan sejumlah pengangguran intelektual. Kali ini, pengangguran intelektual dilahirkan  sekolah professional penerbangan yang mulai banyak beroperasi di Indonesia. Ironisnya, pengangguran intelektual yang cenderung professional itu, terjadi justru di lembaga penerbangan, yang seharusnya mampu menyerap tenaga kerja karena kebutuhan atas tenaga kerja ini, setidaknya membutuhkan 6-7 persen pertahun.

Mengapa disebut ironi kebangsaan? Sebab, penumpang pesawat udara Indonesia, rata-rata per tahun mencapai angka 50 juta dengan pertumbuhan penumpang berkisar di antata 6 samapi dengan 7 persen per tahun.  Angka ini, tentu jauh di atas rata-rata peningkatan jumlah penumpang negara lain di dunia, yang hanya berkisar di angka 4,5 sampai dengan 5 persen per tahun. Output lembaga pendidikan penerbangan Indonesia juga sama. Rata-rata per tahun mengeluarkan lulusannya sesuai dengan prosentase kebutuhan pilot Indonesia itu sendiri.

Seharusnya Tidak ada Pengangguran di Dunia Penerbangan

Dengan narasi tadi, Indonesia, seharusnya mampu menyerap pilot, setidaknya sampai tahun 2030. Sebab berdasarkan hasil Riset Current Market Outlook di 2011, disebutkan bahwa dunia penerbangan setidaknya membutuhkan tambahan pilot sebanyak 460.000 dalam 20 tahun ke depan. 38 persen dari total kebutuhan pilot dimaksud, terpusat di regional Asia Pasifik, yang dalam rilis dimaksud mencapai angka 183.200 pilot. Hal ini tentu termasuk didalamnya, pilot untuk kepentingan regional Indonesia.

Sisi lain yang mestinya diperhitungkan adalah, besarnya biaya pendidikan penerbangan. Untuk mengikuti pendidikan pilot, seseorang setidaknya menghabiskan biaya berkisar di antara 500 sampai dengan 750 juta rupiah. Belum ketika mereka harus menggelontorkan kembali uang untuk mengukur waktu jam terbang lama mereka, agar pilot-pilot yang otomatis pemula itu, dapat mendapatkan izin Commercial Pilot License (CPL) dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Lho kalau begitu megapa masih ada pilot yang nganggur di Indonesia. Inilah justru masalahnya. Tetapi, selidik punya selidik, Indonesia biasa mengeluarkan idzin CPL pada tahun 2014 saja mencapai angka 9.341. Sudah sebanyak itu, ko masih menganggur, mengapa? Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata, kementerian perhubungan mengeluarkan idzin CPL kepada siapapun; apakah itu pilot lokal atau pilot asing.

Pilot Indonesia dianggap kurang memenuhi persyaratan ideal untuk menjadi pilot handal. Kepercayaan kemeneterian Perhubungan terhadap pilot lokal, ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan kepercayaannya terhadap pilot asing. Kalau begitu, berarti kita kembali memperoleh pukulan berarti bahwa tenaga kerja Indonesia harus kembali ke barak mengalah atau dikalahkan oleh pilot asing.Yang menariknya, yang mengalahkannya itu, adalah mereka justru yang sedang memimpin Indonesia. (TLI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.