Belajar Agama secara Radix itu Wajib

Belajar Agama secara Radix itu Wajib
0 56

Belajar Agama secara Radix itu Wajib. Setiap manusia selalu memiliki free space sendiri yang berbeda satu sama lain. Paling tidak perbedaan space itu, akan terlihat secara komunal atau kelompok berdasarkan kultur, ideologi, ras dan etnik. Free space sendiri, akhirnya paling tidak berada dalam ruang-ruang setiap komunitas yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Kalimat free space ini penting diungkapkan ketika banyak mahasiswa bertanya bahaya radikalisme. Padahal mata kuliah yang diampu [filsafat], mengajarkan pentingnya berpikir radikal. Bagaimana mencocokkan makna radikal dengan radikalisme dan intoleransi. Di mana letak perbedaannya dan bagaimana ilmuan masa kini mengkonstruk konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Paling tidak tentu dalam konteks keindonesiaan yang belakangan sedang sedikit terganggu hubungan kemanusiaan antara yang satu dengan yang lainnya.

[irp posts=”19338″ name=”Benarkah HTI itu Radikal ?”]

Harus diakui bahwa belakangan ini, sedang berkembang suatu asumsi bahwa kata radikal selalu diperlawankan dengan toleransi. Radikalisme didekatkan dengan makna intoleran dan terorisme. Padahal toleransi adalah bagian penting dari cara menjaga harmonisme antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Pertanyaannya, apakah betul radikalisme melahirkan intoleransi dan terorisme? Inilah dialektika bahasa yang tampaknya perlu pemaknaan ulang.

Toleransi itu Menghargai Free Space

Dalam berbagai kamus yang berhasil dikaji, toleransi sering diterjemahkan dengan sikap saling menghormati dan menghargai. Saling menghormati ini diberikan kepada pribadi-pribadi atau kepada antar kelompok di masyarakat yang hidup secara berbeda satu sama lain. Toleransi dalam definisi ini, mengaharuskan dan harus menyimpulkan pentingnya harmonisme dalam kehidupan.

Toleransi karena itu mengharuskan adanya penghormatan atas perbedaan yang ada dan tersedia. Toleransi akan menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya diskriminasi termasuk terhadap kelompok minoritas. Dengan demikian, sekalipun dalam lingkup masyarakat banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda satu sama lain, kehidupan yang harmonis akan selalu terbangun.

Contoh sederhana dari toleransi adalah menghargai pendapat orang yang dalam pandangan kita bukan hanya sekedar berbeda, tetapi bahkan mungkin bertentangan. Perbedaan pandangan dan perbedaan pemikiran itu, seharusnya tetap menjaga budaya bersama. Toleransi harus mampu mendorong budaya saling menolong dan memberi perlindungan. Toleransi tidak mengidzinkan perbedaan sebagai alat untuk membuat yang berbeda itu menjadi musuh. Inilah yang disebut dengan free space. Perbedaan yang memuat ruang bebas itu, bukan hanya karena perbedaan suku, ras, kepercayaan, tetapi juga bahkan termasuk agama.

Jika itu makna toleransi, maka, secara sederhana dapat dianggap intoleran apabila seseorang: 1). Memaksa orang untuk mengikuti ajaran agama yang dianut; 2). Mencela dan menistakan ajaran agama yang dianut orang lain, dan 3). Melarang atau serendahnya mengganggu penganut agama atau kepercayaan lain untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing.

Belajar Agama secara Radix itu Wajib

Dengan nalar di atas, maka sesungguhnya tidak tepat kalau kata toleransi diperlawankan dengan kata radikalisme. Sebab secara bahasa, kata radix dan kata toleran itu adalah dua kata yang berbeda. Karena ia berbeda, maka, keduanya memiliki fungsi kata yang berbeda juga.

Toleransi itu mengandung makna keharusan memberi free space bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri. Sedangkan radix itu adalah tuntutan pemahaman keagamaan atau keyakinan yang dibawa setiap agama atau setiap keyakinan kepada penganutnya dengan cara yang mendalam. Hal ini justru dituntut untuk ditanamkan kepada siapapun yang menganut ajaran agama sesuai dengan agama dan keyakinannya.

Ketika masyarakat mendalami ajaran agamanya secara radikal, justru di situlah free space akan muncul. Jadi tidak mungkin free space itu muncul dari mereka yang memahami ajaran agama secara dangkal sebagai lawan dari kata radix tadi.

Kenapa masalah ini penting diulas? Sebab secara pribadi saya merasa khawatir, dengan isu-isu yang belakangan ini muncul, orang kemudian menjadi takut mendalami ajaran agama. Tentu termasuk takut mendalami ajaran agama Islam. Mengapa? Karena masyarakat menjadi khawatir dianggap sebagai kelompok radikal. Akibatnya, jika situasi ini dibiarkan terus berkembang, maka, bukan sesuatu yang mustahil, jika di suatu hari nanti, agama menjadi musuh bagi yang menganutnya.

Secara sosial, saat ini, sudah mulai muncul suatu sikap orang tua yang takut kalau melihat anaknya shaleh.  Takut dianggap anak terlibat dalam apa yang disebut dengan radikalisme. Padahal radikalisme tidak identik atau bahkan jauh bukan hanya dengan kata intoleran, tetapi, juga bersebrangan makna dengan kata terorisme.

[irp posts=”18753″ name=”Islam dan Kristen adalah Dua Agama Kasih Sayang”]

Kalau soal terorisme, saya kira tidak ada satu agamapun di muka bumi ini, yang mengajarkan kebolehan untuk melakukan tindakan semacam itu. Al hasil, jika benar-benar ingin menciptakan toleransi yang ujungnya adalah perdamaian, berikanlah kesempatan kepada setiap penganut agama, agar memiliki kesanggupan dan kemauan untuk mendalami ajaran agama secara mendalam [radikal]. Hanya dengan pemahaman keagamaan yang mendalam itulah, sesungguhnya toleransi akan terbentuk. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...