Belajar Hidup dari Orang Jepang

4 142

Jepang adalah negeri hebat dan unik. Bagaimana tidak, kasta tertinggi masyarakat Jepang adalah Petani. Disusul shogun atau pejuang, pertukangan dan pedagang. Begitu terhormatnya status petani Jepang, bahkan dibandingkan dengan profesi lain, termasuk jika harus dibandingkan dengan menjadi pejabat pemerintah.

Jepang dan Budaya Bertani

Menarik untuk disebut bahwa, petani di negeri Sakura ini, justru adalah mereka yang menjadi engineer lulusan perguruan tinggi dalam bidang pertanian. Mereka tidak merasa malu, bahkan menjadi kebanggaan tersendiri, jika ternyata ia mampu menjadi petani.

Dulu saya menganggap bahwa Jepang adalah negara yang tidak subur. Salah satu buktinya dia menjajah Indonesia, dengan asumsi sama seperti orang Eropa. Banyak guru di sekolah, yang juga menceritakan bahwa Jepang adalah negeri bebatuan yang jauh dari subur. Fakta di lapangan ternyata tidak. Tanah-tanah di negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun ini, justru sangat subur.

Kesuburan tanah yang mereka miliki, akan semakin tambah elok karena umumnya menggunakan pupuk alami dan menjauhkan diri dari penggunaan pupuk kimia. Apa yang disebut dengan Urea dan TS yang juga tidak lagi digunakan di negeri pertama kali dipakai yakni di Amerika Serikat, sejak tahun 1978, sangat jelas tidak digunakan mereka di Jepang.

Pupuk ini, di Indonesia ternyata masih menjadi primadona. Padahal inilah jenis pupuk yang dianggap dapat menurunkan IQ mereka yang mengkonsumsi bahan-bahan pangan yang diproduksi dengan menggunaka bahan dimaksud.

Pengalaman di Jepang

Hampir setiap hari, dari mulai kota Tokyo, pinggiran Gunung Fuzi, Shirakawago, Takayama dan Nagano, saya bertemu dengan para petani di Kota yang telah menyulut terjadinya perang dunia ke dua pada tahun 1945. Mereka berdiri tegak dengan segenap kepercayaan dirinya sebagai petani yang kaya. Mereka bukan hanya telah melindungi dirinya sendiri, tetapi juga dilindungi undang-undang negara. Mobil-mobil mewah terparkir di halaman depan rumah mereka.

Tidak ada yang namanya harga turun ketika hasil-hasil pertanian dan peternakan mereka dipanen. Atau tidak juga ditemukan adanya harga yang tiba-tiba naik saat musim tanam tiba. Negara melindungi dan menjamin produksi mereka sebagai produk negara, meski dikerjakan secara mandiri oleh masing-masing masyarakat. Mereka dianggap sebagai pejuang-pejuang kebangsaan dan sekaligus sebagai penjamin kekayaan bangsanya.

Jalan-jalan terbentang dengan baik memotong jalur pesawahan sehingga memudahkan para petani membawa masuk dan keluar, bahan produksi pangan sekaligus membawa hasil pangan. Sawah-sawah juga dialiri sistem irigasi yang sehat. Air sangat bening sekalipun melintasi kota-kota besar. Ikan-ikan alami tetap berenang di dalamnya tanpa tercemari bahan-bahan kimia.

Mereka rata-rata bergelar Sarjana Pertanian. Mereka umumnya tidak mampu berbahasa Inggris. Butuh penerjemah, karena kebijakan negara yang tidak membolehkan penguasaan bahasa asing, selain bahasa mereka. Mereka adalah para pribadi yang tulus dan selaly menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya, tanpa harus merasa minder dengan bangsa lain, apalagi harus susah payah menguasai bahasa asing yang tidak memiliki nili relevansinya dengan dunia mereka sebagai petani.

Semua produksi padi, dan berbagai rempah-rempahan diproduksi secara teknologis. Tidak aneh jika kemudian, hasil produksinya sangat baik dan mampu menjamin kebutuhan bahan pokok penduduk Jepang, meski panen padi mereka hanya dapat dilakukan selama tujuh bulan sekali.

Apa yang menyebabkan mereka.menyukai pekerjaan pertanian? Karena di Jepang secara umum tidak ada yang namanya pegawai serabutan, termasuk dalam dunia pertanian. Mereka mengerjakan sendiri, mencari nilai tambah sendiri atas apapun yang dilakukan. Akhirnya, mereka selalu menjadi pekerja atas setiap profesi mereka. Mereka adalah pedagang bagi dirinya sendiri dan pengusaha atas seluruh beban kerja yang mereka pikul.

Indonesia Perlu Meniru Budaya Jepang

Saya tidak membayangkan jika hal dimaksud dapat dilakukan di Indonesia! Bukan saja di negeri kita akan mampu menampung tenaga kerja terdidik dalam jumlah yang sangat besar, tetapi, juga akan melahirkan jutaan entrepreneur dalam bidang pertanian dan peternakan dalam jumlah yang juga akan sangat sulit dinilai. Apalagi tentu jika hal ini dianalisis dalam pendekatan kebutuhan bahan-bahan pokok bangsa. Hampir agak sulit jika bangsa ini harus melakukan import dari negeri lain atas kebutuhan bahan pangannya.

Jika di situ kondisinya, maka, bagaimana catur bangsa Indonesia mendorong ekonomi nasionalnya? Menurut saya, perlu regulasi paling tidak dalam bentuk Peraturan Pemerintah yang jelas dan tegas. Termasuk dalam soal regulasi alumni pendidikan tinggi untuk membudidayakan dirinya sendiri dalam mengelola berbagai potensi alam yang kita miliki, tentu sesuai dengan keahlian yang yang dimiliki masing-masing orang.

Inilah makna lain dari istilah yang ingin saya populerkan, dan ternyata ketemu teori praktisnya di Jepang, yang me yenut bahwa Entrepreneur Sejati Adalah mereka Yang Bekerja pada dirinya sendiri. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna. Jepang, 27 Maret 2016

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Fani Zahratunisa berkata

    Indonesia, dulu Macan Asia loh.. dengan Kokohnya Pertanian kita,, sekarang dengan hampir 300jta penduduk Indonesia Pada Males kayaknya jadi Petani,,, sudah selayaknya Pemerintah Mengapresiasi setingi-tinginya Petani kita

  2. Eltendi Dhirgan berkata

    Apakah Pertanian Modern seperti Jepang dibutuhkan segera di Indonesia ?
    Dapat kabar dari Kompas “Krisis Regenerasi, Indonesia Terancam Kehilangan Petani” , apakah itu benar ?

    Mungkin daerah pertanian, peternakan dan yang lainnya. Butuh Modernisasi, agar generasi selanjutnya tidak pandang bulu (egois) dalam memilih pekerjaannya. Bisa saja pandangan rendah (maaf) mereka tentang pekerjaan ini mempengaruhi akan jumlah petani di masa depan.

    1. Lisna Apriliana berkata

      Coba baca disini http://modernfarmer.com/2016/03/urban-farms-japan/
      Dari teknologi, inovasi dan gagasan saja jepang sudah melambung jauh. Setuju dengan apa yang dikatakan Prof. Cecep “Indonesia Perlu Meniru Budaya Jepang”, jika kita tidak melakukan perubahan atau motivasi terhadap generasi muda. Hilangnya petani bisa saja sudah di depan mata.

      1. Eltendi Dhirgan berkata

        Bener tuh, kayaknya pemerintah mesti buat program ” Petani itu keren “. Atau membuat Sayembara tentang inovasi pertanian, sebenarnya sayembara sudah banyak dilakukan yang kurang hanya dibutuhkan “gaya”. Ya lagi lagi, petani kurang keren.

        “YA JANGAN JADI PETANI JADUL, JADI PETANI MODERN”
        Gebrakan dan Terobosan harus segera dilakukan kayaknya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.