Belajar kepada Agus Salim Jika anda Menjadi Guru| Tokoh Politik Islam Indonesia Part 7

0 58

PolitisBuku Seratus Tahun Agus Salim [1996], menyebut  dirinya sebagai sebenar-benarnya guru. Buku yang hari ini tersedia di berbagai laman media maya, disebut bahwa Salim adalah mentor, tutor dan guru menyenangkan. Ia memiliki sipat sebagai pendidik yang ramah, namun memiliki magnetism yang tinggi. Banyak muridnya yang justru termotivasi oleh langkah yang ditempuhnya.

Ridwan Saidi [1996], menyebut Salim sebagai guru yang tidak mau menggurui. Indikatornya terlihat dari sipat Salim yang tidak pernah mau memberi kesimpulan atas setiap diskusi yang digelar bersama murid-muridnya. Hal ini, juga diakui Mohammad Natsir, murid binaan Agus Salim di Jong Islamiten Bond.

Suatu waktu, M. Natsir sulit memperoleh jalan ke luar atas berbagai masalah yang dihadapi di JIB. Lalu seluruh pengurus merasa penting datang kepada Agus Salim. Sesampainya di rumah Salim, pengurus JIB menyampaikan berbagai masalah yang dihadapinya itu dengan sangat lugas dan tangkas. Agus Salim menyimaknya dengan teliti dan hati-hati. Ia membiarkan teman-temanya menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Ia menjadi pendengar yang baik tanpa memotongnya sedikitpun.

Setelah bagian dia menyampaikan pendapat, seluruh muridnya tentu saja diam. Setelah begitu panjang menyampaikan gagasan yang kadang konyol, Salim lalu ditanya oleh peserta diskusi pengurus JIB atas solusi yang dihadapinya. Salim mengatakan bahwa solusi atas masalah yang dihadapi mereka, disebutnya hanya dapat diselesaiakan mereka sendiri.

Ia mengatakan bahwa masalah yang hadir di generasi saudara, yang mampu menyelesaikannya adalah saudara sendiri. Aku adalah generasi yang hadir sebelum anda. Masalah yang dihadapi anda, tidak pernah dihadapi saya.

Lalu ia menunjuk anaknya yang masih kecil. Ia mengatakan: “Anda harus tahu, kata Salim, jika saya menggendongnya terus, kapan ia mampu berjalan? Biarlah ia mencoba dan berlatih berjalan, meski mungkin ia terjatuh beberapa kali. Dengan seringnya jatuh, maka, ia akan memperoleh pengalamannya dari situ”.

Pesan untuk A. Dahlan dan Hasym As’ary

Sosok Salim yang tidak mau menggurui murid-muridnya, ternyata tidak pernah menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda. Meski ia termasuk kelompok ningrat, tetapi, pendidikan anak-anaknya, belajar pada dirinya sendiri dan istrinya. Ia menyebut bahwa pendidikan yang digelar di sekolah-sekolah Belanda, tidak akan mampu membuat anak-anaknya menjadi mandiri.

Siti Asiah, putri Agus Salim, ketujuh anaknya tidak pernah dididik di lembaga pendidikan formal. Kecuali anak terakhir bernama Mansur Abdur Rachman Ciddiq. Salim dan istrinya Zainatun Nahar, yang mengajarkan anak-anaknya tentang berbagai persoalan hidup secara bergantian. Ia melangsungkan pendidikan anak-anaknya itu sambil bermain atau bahkan ketika makan.

Salim tidak hanya mengajarkan soal kehidupan, tetapi juga soal nyanyian dengan lirik yang diambil dari karya sastra dunia. Salim yang pandai humor, memikat abak-anaknya untuk belajar. Untuk melatih kemampuan Bahasa asing anaknya, sejak kecil mereka diajak berbicara Bahasa Belanda dan Bahasa asing lainnya. Sehingga Bahasa asing seolah menjadi bahasa ibu mereka.

Mungkin inilah model pendidikan home schooling pertama di Indonesia. Namun demikian, Salim tidak mau anak-anaknya terkekang kehendak orang tua. Ia mengharamkan memberi kualifikasi seperti “kamu nakal” atau “kamu jahat”. Hasilnya, meski anaknya tidak mengenyam pendidikan formal, namun anak-anak Salim tumbuh dengan baik. Mereka “menjadi orang hebat”. Buktinya, Ketika W.R. Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola, putri tertuanya Dolly, yang masih berusia 15 tahun saja, mengiringinya dengan piano. Putranya yang bernama, Islam Besari Salim, terjun di dunia militer dan sempat menjadi atase militer Indonesia di China.

Karena itu, tidak heran jika Salim pernah meminta Ahmad Dahlan [pendiri Muhamadiyah] dan Hasyim Asy’ari [pendiri NU], untuk tidak mendidik murid atau santri mereka dengan cara mendewakan guru. Kultus individu terhadap manusia, termasuk guru dianggapnya akan membuat umat menjadi jumud. Alih-alih ingin membebaskan orang sesuai pesan Islam, taklid buta malah membuat umat semakin bodoh dan jauh dari nilai-nilai agama. By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.