Take a fresh look at your lifestyle.

Belajar Menjadi Orang Bodoh

0 38

BELAJAR menjadi orang bodoh, ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan belajar menjadi orang pintar. Apalagi jika dituntut untuk belajar menjadi orang yang mampu berpintar-pintaran. Pasti sangat mudah dan dapat dilakukan siapa saja: Dimanapun dan kapanpun. Belajar mendengarkan, juga ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan belajar menjadi pembicara yang baik dan nyata dengan tumpukan sejumlah fakta atau hanya berimajinasi dalam dunia maya. Ternyata belajar menjadi pembicara yang baik jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan belajar menjadi pendengar para pembicara yang sangat hebat dan memukau pendengaran dan penglihatan sekalipun.

Belajar diam dalam keheningan, merenungkan berbagai kejadian, merenungkan hakikat kehidupan, tidak kalah lebih sulit dibandingkan dengan belajar membiasakan diri untuk wiridan meski dengan suara yang jauh lebih pelan. Sorak sorey dan kebiasaan menertawakan berbagai kejadian, tampak lebih nikmat, dibandingkan dengan mengkhidmatinya sebagai ibrah dalam menjalani kehidupan tanpa harus ada pihak-pihak yang dipersalahkan.

Itulah mungkin siklus dunia. Retas jalan kehidupan, selalu diterobos sampai kepada batas yang mungkin seharusnya tidak mungkin ditembus. Menelanjangi berbagai faksi diri bila perlu sampai ke urat nadi. Akibatnya, saat ini semua manusia seolah memiliki hak yang sama untuk berbuat dan berperilaku apa saja. Semua orang, merasa telah menjadi bagian dari suatu kelas, yang tidak ada lagi kelas. Semua orang merasa bahwa dirinya sedang membangun dan hanya dirinya yang memiliki otoritas untuk menjalankan visi pembangunan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain dengan menjadikan dirinya berada di belakang untuk tutwuri handayani.

Dalam tradisi Islam juga sama. Banyak di antara kita, telah merasa memiliki derajat tertentu meski dengan pemahaman keagamaan yang pas-pasan. Banyak di antara kita yang merasa telah menjadi kyai ulung hanya karena dirinya telah mampu mengalungkan surban di lehernya saat adzan dikumandangkan. Banyak mereka yang tidak pernah nyantri, terpaksa harus mengurus santri-santri agar memperoleh legitimasi kyai dengan sejumlah kepentingan.

Menarik lagi, ternyata banyak pula kyai yang merasa telah mampu menjadi politisi atau menjadi penasehat politik ulung dan kawakan. Meski pada akhirnya harus jatuh karena tipuan kepentingan. Tidak aneh pula, jika pada akhirnya, alur birokrasi dalam gang sempit berbagai birokrasi negara, kini dijejali oleh mereka yang mengumbar janji sakti dengan sejumlah agenda yang kadang penuh misteri.

Di lingkar akademik, situasi semacam itu tidak kalah lebih pelik. Kumpulan manusia-manusia hebat itu, terkadang tidak mampu menahan diri dari situasi hening yang justru jauh lebih menjanjikan. Seorang Rektor, terkadang lebih lelah menangkis  kebisingan, menangkis argumen-argumen yang seolah-olah akademis dibandingkan dengan kelelahannya dalam menjalankan visi kerektorannya. Apalagi jika hanya menjadi pembantu rektor.

Visi kerektoran yang semula ditulis dan disusun secara runtut dan rapi, tiba-tiba harus berada di laci mejanya karena tidak tahan menahan “desingan” rudal-rudal balistik yang penuh hypokrit. Tidak sedikit pula pada akhirnya rektor melakukan barter kepentingan dari mereka yang sudah tidak tahan untuk menjadi penggantinya atau menjadi pendampingnya.

Sujud syahdu atas pengaduannya ke Sang Maha Suci. Berulang dilakukannya setiap malam, menyisakan bekas hitam dijidatnya sebagai lambang kesucian. Lambang itu harus terlempar oleh kuatnya arus yang menghendaki empirisasi terhadap segala bentuk kebijakan yang dalam kasus tertentu sangat pragmatis. Yang terjadi kemudian, mereka menjadi sepi dalam keramaian dan dipastikan tidak akan mampu menciptakan keramaian dalam keheningan.

Atmosfir akademik yang lama diidealkannya, terhempas karena akademisinya menjadi demikian dependen terhadap arus birokrasi yang dipimpinnya. Gelar akademis yang cukup tinggi, dan bahkan jabatan akademis yang cukup hebat. Yang secara sistemis diupayakan para pegiat akademik, tidak mampu menciptakan iklim kemandirian dan meringankan sedikit banyak ketergantungan yang berlebihan terhadap dinamika kampus para akademisinya. Bahkan yang terjadi, meningkatnya gelar dan jabatan akademis dimaksud, telah menjadi beban baru yang sulit dipikul. Mereka persis ibarat anai-anai yang mengantri untuk menyedot manisnya gula jawa di pojok sebuah gubuk yang secara fisis, gulanya sendiri seringkali sudah hampir tidak ada.

Perlu Kerelaan

Indah rasanya, jika saat ini mulai banyak pihak yang rela sedikit menganggukkan kepala tanpa harus bersuara. Atau nyaman dirasakan jika kita mampu menggelengkan kepala tanpa harus berkata tidak dan memaksa semua orang untuk berkata yang penting “pokoknya”. Terlebih dalam situasi sekarang, situasi yang serba tidak menentu. Pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib yang menyebut diam sama dengan emas, menjadi tuntutan segera untuk diimplementasikan agar suara emas kita tidak berserak ke ranjang sampah yang tidak bermakna.

Perlu mungkin kita menajamkan mata, seperti tajamnya sorot mata kuda. Kita perlu terus menerus melihat visi hidup kita dan perjuangan kita secara utuh tanpa harus tergoda menyalahkan pihak-pihak yang ada di pinggirnya. Apalagi tergoda untuk menjatuhkannya.

Pada akhirnya, menghilangkan segenap mimpi indah, mimpi yang membahagiakan, mimpi yang menjanjikan, ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan bekerja dan terus berkarya, meski hanya dalam jengkalan hasta. Di antara kita, terlalu banyak melahirkan para pemimpi, meski mimpinya sendiri sulit untuk bertepi.

Padahal hidup tanpa mimpi, kadang jauh lebih membahagiakan. Jauh lebih menjanjikan dan bahkan jauh lebih menyenangkan. Tangan menjadi sangat terbuka, dada menjadi sangat lega, kaki menjadi lebih ringan, otak menjadi lebih encer. Dalam kasus tertentu orang sering menyebutnya menjadi lebih brilyan.

Sementara para pemimpi, para pengkhayal dan para oponturir, sering berperilaku aneh. Tanpa sedikitpun karya yang layak diukur. Mereka selalu berharap ada sesuatu yang ideal, ingin pula disebut idealis, tetapi tumbuh menjadi serba minimalis. Selalu menganggap kegelapan sebagai sesuatu yang benar-benar gelap, atau menganggap, kecahayaan hanya dalam persfektif keterangan. Padahal sejatinya, setiap kegelapan pasti menyisakan titik terang. Sama dengan kecahayaan selalu menyisakan sisi-sisi kegelapan.

Bagi saya, alam itu hidup seperti manusia. Memiliki nyawa dan hasrat yang sama seperti genus manusia. Alam telah menawarkan hukumnya, sekaligus menjanjikan sangsinya bagi mereka yang tidak mengikuti sunnahnya.

Karena itu, dalam situasi seperti saat ini menjadi bayi yang belum dapat tersenyum. Akan jauh lebih menjanjikan kenyamanan hidup, dibandingkan dengan sikap anak yang mulai bisa tersenyum. Tertawa dan menangis untuk mengelabui ibunya atas segala permintaan yang dikehendakinya. Saya kira, itulah sikap orang bodoh yang tidak masa bodoh, sekaligus tidak menyukai kebodohan. *(Cecep Sumarna)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar