Benarkah HTI itu Radikal ?

0 424

Benarkah HTI itu Radikal ? Dua hal yang menarik di pemberitaan nasional—bahkan internasional—beberapa pekan ini; Vonis 2 (dua) tahun penjara Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pada kasus penodaan agama dan dibubarkannya ormas keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Secara kebetulan atau tidak dua persoalan ini juga terjadi hampir bersamaan, sehingga ada yang menganalisis; ada korelasi antara kasus keduanya, walau ada yang mengatakan dua hal tersebut adalah kasus yang berbeda.

Sebagaimana kita mafhumi bersama, pada kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang paling intens ‘mengawal’ dan menyuarakan dengan tegas bahwa ada unsur penodaan agama pada pidato Ahok di Kepulauan Seribu, melalui demo damainya—bahkan dengan landasan Teologis menyuarakan keharaman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin—adalah HTI dan FPI. HTI pada perspektif pemerintah termasuk ormas yang masuk kategori radikal dan membahayakan dari sisi keutuhan bangsa, karena mengusung konsep khilafah.

Terma Gerakan Radikal

Pemahaman tentang gerakan Islam radikal paling tidak disebabkan oleh dua hal. Pertama secara internal, ada pemahaman bahwa di luar pengikut mereka yang tidak sepaham adalah thagut, thagut adalah kafir. Maka memerangi mereka adalah perintah agama. Oleh karena itu paham turunannya adalah bentuk negaranya harus berdasarkan Islam. Dalam sejarah Islam pernah muncul gerakan sempalan yang berpahaman seperti itu, yaitu khawarij.

Kedua secara eksternal, munculnya gerakan-gerakan radikal efek dari penyerangan Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara mayoritas berpenduduk Islam, misalnya Afganistan, Pakistan, Irak dan negara lainnya. Testimoni mantan PM Inggris Tonny Blair yang mengatakan bahwa “saya menyesal dan berdosa telah ikut sekutu untuk menyerang dan menghancurkan Irak yang pada akhirnya memunculkan gerakan radikal seperti ISIS.”

Sesungguhnya term radikal, berasal dari kata radix yang dalam istilah filsafat, bermakna berpikir sampai keakar-akarnya. Bedanya berpikir biasa dengan berpikir berfilsafat adalah terletak pada kata radix itu. Jadi kalau dikatakan Islam radikal, Islam yang berpikir sampai keakar-akarnya,Islam yang berpikir tidak setengah-setengah. Tetapi kemudian makna ini mengalami pergeseran, makna radikal didefinisikan dengan kekerasan.

Kriteria Islam Radikal

Dalam buku “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia”, kriteria Islam radikal adalah:

  1. Kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung;
  2. Dalam kegiatannya mereka sering menggunakan aksi-aksi kekerasan, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan kelompok mereka,
  3. Secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas,
  4. Kelompok Islam radikal seringkali bergerak secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.

Definisi Islam Radikal

Definisi Islam radikal dalam buku ini menurut Dr. Adian Husaini diambil dari buku Jhon L. Esposito yang berjudul Islam: The Straight Path. Muslim radikal adalah mereka yang :

  1. Berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dapat dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat.
  2. Seringkali menganggap bahwa ideologi masyarakat Barat yang sekuler dan cenderung materialistis harus ditolak.
  3. Cenderung mengajak pengikutnya untuk’kembali kepada Islam’ sebagai sebauah usaha untuk perubahan sosial.
  4. Memandang bahwa regulasi-regulasi sosial yang lahir dar tradisi Barat, juga harus ditolak.
  5. Tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final.
  6. Berkeyakinan bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat muslim tidak akan berhasil tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan “radikalisme’ sebagai:

  1. Paham atau aliran yang radikal dalam politik,
  2. Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis,
  3. Sikap ekstrim dalam aliran politik.

Sedangkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendefinisikan radikalisme, dengan kriteria:

  1. Ingin melakukan perubahan dengan cepat menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
  2. Takfiri, atau mengkafirkan orang lain.
  3. Mendukung, menyebarkan dan mengajak bergabung dengan ISIS/IS.
  4. Memaknai jihad secara terbatas.

Pada perspektif definisi ini, pemerintah menganggap HTI masuk kategori aliran radikal yang bersikap ekstrim dalam aliran politiknya, yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik dan mereka memperjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung—dengan mengusung konsep khilafah—walaupun gerakan/demo yang dilakukannya dengan cara damai.

Selanjutnya Baca:

[irp posts=”19342″ name=”Dosa HTI Dalam Persfektif Kelompok Inklusive”]

Oleh: Dr. H. Masduki Duriyat, M.Pd

Komentar
Memuat...