Benarkah Wali Berjumlah Sembilan?

0 289

MENGHITUNG jumlah para penyebar agama Islam (sunan/wali), ternyata tak semudah menghitung statistik jumlah penduduk. Meskipun jumlahnya masih terbilang “gampang dihitung”,  tetapi ternyata banyak pendapat yang berbeda.  Satu pihak mengatakan, sembilan,  pihak lain, delapan, bahkan ada yang berpendapat lebih dari sembilan.

Waliullah  tanah Jawi/mung wolu wilanganira/dènè wilanganira/dènè kang ambawa dèwè/angislamaken Kabudan/Ngradinakken agama/samya kasebut sinuhun/tegesè pepunden echak// Sunan Ngampel kang rumiyin/Sunan Gunung Jati Nulya/ Sunan Ngudung katiganè/ Sunan Giri Gajah/Sunan Makdum ing Benang/ Sunan ‘Alim ing Majagung/  Sunan Mahmud ing Darajat// Anulya Jeng Sunan Kali/kasebut Wali Pamungkas. (Kitab Walisana, Asmarandana, pupuh XXIX, dipetik dari Saksono,  1996).

(Waliyullah Tanah Jawa/hanya delapan bilangannya/seperti yang membawa sendiri/mengislamkan  orang-orang Budha/mensiarkan agama/semua disebut susuhunan/artinya tetua //Sunan Ampel yang pertama/selanjutnya Sunan Gunung Jati/ketiganya Sunan Udung/Sunan Giri Gajah/ Sunan Makdum di Bonang/Sunan Alim di Jagaung/Sunan Mahmud di Drajat// lalu Kanjeng Sunan Kali/disebut wali terakhir+.

Namun, antropolog Muhaimin (2001, membeberkan catatan,hingga saat ini yang diterima secara luas adalah sembilan wali (wali sanga),yaitu Maulana Malik Ibrahim,  Sunan (ng)Ampel,  Sunan Bonang,Sunan Giri,Sunan Gunung Jati,  Sunan Drajat,  Sunan Kalijga, Sunan Kudus,dan Sunan Muria.Para wali ini dikenal sebagai “orang asing”, kecuali Sunan Kalijaga yang orang Jawa asli. Padantahap ini, konon Cirebon adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan  penyebaran Islam di Jawa. Jika gagasan negeri asal para wali digambarkan dalam konteks yang lebih luas, maka harus diartikan sebagai suatu tempat nun jauh di luar Jawa. Dengan kata lain,hal ini berarti jaringan dunia Islam yang berpusat di Timur Tengah.

Mengapa sembilan ?  Saksono (1996)  memberikan alasan dengan mengutip pandangan Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem,”Salah satu sifat Indonesia ialah bilangan sembilan untuk para wali tersebut. Bilangan sembilan itu bagi Indonesia pada umumnya dan khususnya di Jawa, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam, memunyai peranan penting. Bilangan sembilan dihubungkan dengan pandangan hidup manusia berdasar atas klasifikasi,  yang artinya bahwa salah satu pandangan hidup yang menempatkan golongan-golongan itu tidak berubah menurut sifat semula. Golongan-golongan ini tak terbatas. Klasifikasi mendasarkan atas dua golongan,  sebab di dalam dunia ini selalu ada dua golongan yang saling berlawanan,  seperti langit-bumi, laki-laki-wanita,  siang-malam,baik buruk  dan sebagainya.”

Cirebon memiliki kedudukan yang samgat penting bagi pengembangan Islam di Jawa, terutama Jawa Barat. Dalam hikayat lain yang lebih tua, menurut Muhaimin, sepeeti Babad Tanah Jawi  dan Babad Kraton, disebutkan ada delapan wali, tetapi masing-masing hikayat menyebut nama yang berbeda. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan Sunan Ampel,Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijga, Sunan/Syekh Siti Jenar (Lemah Abang) dan Sunan/Syekh Wali Lanang. BabadKraton menyebutkan; Sunan (Ng)  Ampel,Sunan Giri, Sunan Bonang,Sunan Cirebon (Sunan Gunung Jati), Sunan Ngundung dan Sunan Bantam. Dalam manuskrip Pustaka Nagarakretabhum dinyatakan,  bahwa di Pulau Jawa bermukim para guru besar agama Islam yang termashur.

Pada waktu itu di Pulau Jawa, wali sembilan sangat  termashur sebagai

guru besar agama Islam, para terkemuka, dan penguasa di tepi laut,

yaitu  menguasai  semua kota pelabuhan perahu, sedangkan mereka semua

telah memeluk agama Islam, juga mereka adalah murid wali sembilan, atau wali lainnya.  (Pustaka Nagarakretabhumi).

Dalam keyakinan masyarakat Cirebon, angka Sembilan memiliki makna sebagai angka tertinggi dalam bilangan,  sehingga nama-nama punakawan dari Kampung Tumaritis pun ditambah menjadi sembilan,

Sembilan Punakawan

Pada wayang kulit purwa, punakawan dari Karang Tumaritis yang pada wayang kulit Jawa  berjumlah empat, yakni Semar, Gareng, Cungkring (Petruk) dan Bagong. Maka di Cirebon ditambah menjadi sembilan. Di samping empat punakawan tersebut, ada juga Bagal Buntung, Bitarota, Curis/Sekarpandan, Duwala dan Ceblok.

Dalam berkesenian, masyarakat Cirebon tergolong sangat kreatif. Mereka tak hanya meniru mentah-mentah, tetapi juga mengembangkannya hingga menjadi kesenian lain yang berbeda, meski awalnya dari akar yang sama.

Kreativitas dalam berkesenian telah dimulai sejak zaman penyebaran agama Islam. Founding father dari perubahan tersebut tak  lain adalah Sunan Kalijaga. Penelitian Syed Naquib Alatas, guru besar pada Universitas Malaysia (1970) memberikan pujian terhadap tokoh yang satu ini. Ia adalah “ulama budayawan” yang mampu menyampaikan dakwah dalam bentuk lain, yakni melalui media panggung. Sebelumnya pada masa itu dakwah Islamiyah biasa disampaikan secara verbal kepada masyarakat di mesjid-mesjid maupun tajug (langgar/mushola).

Penetrasi (perembesan) nilai-nilai Islam pada masyarakat Hindu lewat wayang pada masa lalu ternyata sangat efektif. Putra Pandawa yang dalam Kitab Mahabharata digambarkan sebagai tokoh yang mampu mendaki Kahyangan di puncak Himalaya pada akhir kisah “Perang Bharatayudha” dikenal memiliki “darah putih.”  Berbeda dengan empat saudara Pandawa lainnya, Bima (Werkudara),  Arjuna (Janaka), Nakula dan Sadewa harus gugur sebelum mampu mendaki puncak Mahameru. Pasalnya, keempat saudara Pandawa itu telah menyandang dosa semasa bertugas sebagai manusia di alam maya.

Dua Puluh Satu Wali

Catatan Saksono, menyebutkan paling tidak ada dua puluh satu wali yang umumnya dimasukkan dalam lingkaran Walisongo.  Mereka adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel) berkeuddukan di Ampel Surabaya, Raden Paku atau Sastmata bergelar Sunan Giri (Gresik), Sayyid Jen (Zayn) atau Raden Abdul Qadir bergelar Sunan Gunung Jati (Cirebon), Makdum Ibrahim bergelar Sunan Bonang (Bonang,Tuban), Masaih Munat bergelar Sunan Drajat (Drajat,  antara Tuban- Sedayu),  Raden ‘Alim  Abu Hurerah (Hurayrah) bergelar Sunan Majagung (Majagung), Ja’far Shadiq atau Raden Undung bergelar Sunan Kudus,  dan juga disebut Amirul Hajj (Kudus),  Raden Sahid bergelar Sunan Kalijaga (Kadilangu). Keberadaan tokoh-tokoh ini dalam lingkaran Walisongo telah disepakati oleh ahli dan sejarahwan.

Sedangkan yang belum keberadaannya sebagai Walisongo ialah San atau ‘Ali Ansar atau Raden Abdu;Jalil bergelar Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang (Jepara,  Kediri), Syaikh Sabil atau Usman Haji dari Malaka bergelar Sunan Ngudung (Ngudung, Jipang Panolan), Raden Santri ‘Ali bergelar Sunan Gresik )Gresik), Raden Umar Said  bergelar Sunan Muria (Muria, Jepara),  Raden Sayid Muhsin bergelar Sunan Wilis (Cirebon),  Raden H.  Usman bergelar Sunan Manyuran (Mandalika),  Raden  Fatah bergelar Sunan Bintara (Bintara,  Demak),  Raden Jakandar bergelar Sunan Bangkalan (Madura,Khalil Khusen (Husayn) bergelar Kertosono (?), Ki Gede Pandan Arang bergelarv Sunan Tembayat (Tembayat Klaten), Ki Cakrajaya atau Sunan Geseng (Lowanu, Purworejo), Sunan Giri Perapen damn Sunan Padhusan.

Di antara sekian nama itu sudah bisa dipastikan, ada beberapa di antaranya belum dikenal masyarakat di Jawa. Bagi kalangan masyarakat Cirebon, Raden Fatah (Demak Bintara) lebih dikenal sebagai sultan ketimbang wali.  Demikian juga gelar Ki Gede, menyiratkan kedudukan sebagai kepala desa ketimbang wali (sunan). Karena pada umumnya para ki gede merupakan bawahan dari para wali. Bahkan di antara para wali (sunan) tidak hidup sezaman,  seperti Malik Ibrahim damn Sunan Muria yang terpaku masa seratus tahun.

Oleh : Nurdin M. Noerwartawansenior,  pemerhati sejarah.


 Sumber Pusataka:

A.G. Muhaimin .(Islam dalam Bingkai Budaya Lokal potret dari Cirebon, Logos, 2001).

 Saksono, Widji (Mengislamkan Tanah Jawa,  Mizan, 1996).

Wangsakerta,  Pangeran, Pustaka Nagarakretabhumi (Manasa,  2008).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.