Bentuk Relasi Manusia

0 36

Bentuk Relasi Manusia – Al-Qur’an menggunakan kata ummah untuk menunjuk pengikut Muhammad. Hal ini mengisyaratkan, bahwa ummah dapat menampung berbagai varian dari tiap-tiap kelompok. Betapapun perbedaan yang ada   dalam kelompok tersebut, masih mempunyai arah yang sama yaitu Allah.

Sungguh luhur dan lentur kata ummah ketika dipakai di era kehidupan yang plural. Kata tersebut  mampu menampung aneka ragam makna dan aneka kebersamaan, meskipun dalam waktu yang sama berada dalam perbedaan dan keaneka-ragaman bentuk relasi manusia.

Konsep ummah menggiring kepada paham kesatuan penciptaan yang melintasi paham kesatuan kemanusiaan. Pembahasan ini, mengambil contoh firman Allah:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا.  

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.  (Al-Hujurât/49: 13)

Al-Qur’an menyebut berbagai istilah tentang kelompok manusia, menunjukkan bahwa kebangsaan, kesukuan, dan apapun nama dan bentuk perserikatan yang digunakan oleh manusia adalah alami. Secara umum, al-Qur’an mengakui keragaman, perbedaan serta hak-hak yang ada pada manusia. Perbedaan tersebut bukanlah untuk membedakan yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi besar al-Qur’an, yaitu menciptakan potensi saling berinteraksi (taâruf) antara satu dan yang lain. Kata taâruf  yang digunakan dalam ayat tersebut mengandung makna timbal balik,  semakin kuat pengenalan oleh satu pihak kepada pihak lain, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat.[1]

Di antara potensi keberbedaan adalah untuk taâruf, yaitu saling menarik pelajaran dan pengalaman dari kelompok satu ke kelompok lain. Pelajaran dan pelengkapan kekurangan pada diri seseorang tidak dapat diatasi kalau tidak saling mengenal, baik sesama manusia, alam raya, maupun terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, dalam ayat lain al-Qur’an mengingatkan bahwa salah satu bentuk pertengkaran dalam kehidupan, disebabkan oleh perasaan ego dan kecukupan serta keengganan manusia untuk saling mengenali sesamanya.

Kelompok Manusia

Identitas manusia sebagai makhluk sosial sangatlah jelas. Secara fitri manusia hidup  bermasyarakat adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Perbedaan tingkat kecerdasan, kemampuan, status sosial, dan kekayaan dalam kehidupan, menuntut manusia untuk saling memanfaatkan antarsesamanya. Dengan demikian, mereka akan saling membutuhkan dan akan membangun relasi sesamanya. Beliau mengilustrasikan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai “ummah wâhidah”, antara satu dan yang lain  memiliki kebutuhan hidup yang sama-sama harus diperebutkan. Sebagai sunnatullah di alam,  pemenuhan kehidupan harus didapat melalui usaha. Pemenuhan kebutuhan tidak didapat oleh semua kelompok manusia, karena keterbatasan tenaga, dan materi hidup. Satu-satunya jalan adalah setiap kelompok  menjalin  relasi untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhannya.

Upaya survival yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan berkompetisi di antara sesamanya. Dari kompetisi tersebut sering menimbulkan perselisihan di antara mereka. Tuhan menurunkan Rasul-Nya untuk memberikan penyelesaian  perselisihan tersebut.[2] Oleh karena itu, realitas perbedaan mulai dari keturunan, ras, warna kulit, politik, geografi, budaya yang diproses oleh sejarah dalam kehidupan, harus diarahkan pada kompetisi ke arah kebajikan.

Al-Qur’an tidak memberikan bentuk dan corak relasi yang harus dilakukan oleh manusia. Ia hanya memberikan muatan dan prinsip-prinsip dasar, yaitu kesatuan ketuhanan (unity of Godhead), kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life), dan kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance of life). Kelima prinsip tersebut merupakan penjabaran dari ajaran tauhîd  tentang eksistensi ke-Esaan Tuhan. [3]

Kesatuan ketuhanan (unity of Godhead)

Secara hakikat, manusia tidak dapat mengingkari pengakuannya terhadap keberadaan Tuhan. Orang-orang musyrik sekalipun jika ditanya tentang Tuhan pencipta alam ini, niscaya mereka akan menjawab “Allah”.[4] Di dalam ilmu tauhid, pengakuan seperti ini disebut dengan tauhîd rubûbiyyah. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan dalam diri manusia merupakan fitrahnya yang tidak dapat dimungkiri.[5] Akan tetapi pada saat yang sama   manusia ingkar terhadap eksistensi keberadaan Tuhan, serta menerima-Nya sebagai Tuhan yang harus disembah dan diesakan. Pengakuan keesaan Tuhan dalam konteks ini lazim disebut dengan konsep tauhîd ulûhiyyah.

Pengakuan manusia terhadap keberadaan dan ke-Esaan Tuhan, berarti pengakuan terhadap kesatupaduan antara pengetahuan, kebenaran, dan kesatupaduan kehidupan. Ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Dari sini akhirnya muncul   prinsip, bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dikaitkan dengan realitas, dengan sendirinya akan ditolak. Prinsip tersebut menjadikan segala sesuatu yang ada dalam agama terbuka, terkontrol, dan menerima berbagai kritik dan evaluasi.[6]

Kesatuan penciptaan (unity of creation)

Seluruh makhluk di alam ini,  baik yang kasat mata maupun yang tidak nyata   adalah ciptaan Allah. Oleh karena itu, antara manusia satu dan yang lain tidak memiliki kekuasaan apapun atasnya. Ia sebagai hamba Allah (abdullâh), pengabdian dan ketundukan manusia yang sejati hanyalah terhadap Tuhannya. Perbudakan adalah simbol dari pola hidup kebinatangan, baik pembudak maupun membudak, keduanya tidak dibenarkan. Sikap tersebut telah terjadi transaksi kemerdekaan, kemanusiaan yang dilakukan oleh manusia sesamanya.

Kesalahan manusia ketika menjatuhkan pilihan dalam menyerahan jiwa, kehormatan, dan kemerdekaannya, akan menjadikan ia berubah status dari abdullâh menjadi abd. al-thâghût. Ketika manusia berposisi sebagai abdullâh,  dunia akan menjadi kendaraan baginya menuju Tuhannya. Akan tetapi, ketika manusia sebagai ‘abd al-thâghût,   ia akan menjadi budak dan tunggangan dunianya.

Kesatuan kemanusiaan (unity of mankind)

Setelah manusia mengakui adanya kesatuan penciptaan, diharapkan muncul pengakuan adanya kesamaan yang diciptakan yang tertuang dalam kesatuan kemanusiaan. Al-Qur’an sering menyeru manusia dengan nama primordialnya dengan ungkapan “الناس“. (Al-Baqarah/2: 21)

Seruan tersebut melintasi segala bentuk ikatan komunal yang ada pada manusia, mulai dari komunal keturunan, kedaerahan, budaya, bahkan sampai kepada kepercayaan. Dari kesatuan kemanusiaan diharapkan melahirkan sikap hormat menghormati, kasih mengasihi sebagai rasa solidaritas kesamaan.

Kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance of life)

Setelah  kesatuan kemanusiaan, dibutuhkan kesatuan tuntunan agar perbedaan dan keragaman dapat berjalan secara normal. Tuntunan yang dapat memandu keragaman adalah tuntunan yang mempunyai nilai universal, dan nilai universal tersebut mutlak berasal dari luar diri manusia, yaitu wahyu. Jika tuntunan tersebut hanya didasarkan pada pengalaman empirik yang dihasilkan manusia dalam kehidupannya,  tuntunan tersebut akan terhalang oleh perjalanan waktu, lintasan budaya, dan lain-lain.

Kesatuan tuntunan yang disampaikan oleh wahyu adalah sejumlah prinsip etis manusia terhadap Tuhannya yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul yang telah diakui bersama. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah tidak menyembah kecuali Allah dan tidak menyekutukan-Nya dan tidak menuhankan sesama makhluk (Baca: Âlu ‘Imrân/3: 63)

Kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life)

Kesatuan tuntunan, diharapkan dapat mencapai kesatuan tujuan hidup. Tujuan kehidupan manusia akan berakhir dalam alam yang sama, yaitu akhirat. Dalam pandangan al-Qur’an, aktifitas manusia dalam kehidupan bukan menciptakan hidup/kehidupan,  tetapi mencari makna hidup itu sendiri. Pencarian makna hidup adalah upaya yang dilakukan oleh manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu yang dikehendaki oleh Dzat yang membuat hidup. Pencipta hidup (Allah) menghendaki agar kehidupan yang diciptakan untuk manusia difungsikan sesuai dengan kehendak-Nya.

Penyesuaian manusia (kelompok Manusia) dengan kehendak penguasanya terformat dalam semangat pengabdian (ibâdah) sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan pengabdian harus bermuara pada pencarian ridla Ilahi (Al-An‘âm/6: 162-163)

(Bentuk Relasi Manusia) (kelompok Manusia)

[1]M. Quraish Shihab, Tafsir … Vol. 13, h. 262.

[2]Rasyîd Ridlâ, Tafsîr ,…, Juz. 2, h. 282.

[3] M. Amien Rais, Tauhid Sosial (Bandung: Mizan, 1998), h. 39.

[4] Al-‘Ankabût/29: 61, 63, Luqmân/31: 25, al-Zumar/39: 38, al-Zukhruf/43: 9, 87.

[5] Al-Rûm/30: 30, al-A‘râf/7: 172. M. Quraish Shihab, Wawasan,…., h. 16.

[6] Isma‘il Raji Al-Faruqî, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Pusaka, 1995), h. 45.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.