Ber-Haji itu Takdir | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-4

Ber-Haji itu Takdir | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-4
0 152

Melaksanakan Haji itu Takdir.  Setelah hari itu, Shofi dan Siti menjalani hari mereka dengan penuh suka cita. Sepulang mengajar dari sekolah, ia menanam pohon Kapol, memperbanyak tanaman Kopi dan Cengkih. Ia juga menanam rempah-rempahan seperti seureuh, kencur dan pohon sahang atau pedes. Ia juga turut serta memperbesar sawahnya melalui program ekstensifikasi. Istilah ini, di kampung TURTLE dinamakan dengan “ngabebedah”. Melalui pelebaran sawah ini, Sofi tumbuh menjadi keluarga yang relatif cukup dari sisi ekonomi.

Beberapa tahun kemudian, Cengkih itu berbuah. Begitupun dengan kapol dan kopinya. Meski tidak seberapa, tetapi, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Namun demikian, tanpa alasan jelas, Shofi menebang seluruh pohon cengkihnya. Ia menggantinya dengan menanam pohon salak.

Waktu penebangan pohon cengkeh itu, terjadi tahun 1993. Harga cengkih waktu itu runtuh. BPPC yang dibentuk atas Keputusan Presiden Nomor 20 tahun 1992 jo Intruksi Presiden Nomor 1 tahun 1992, dianggap Shofi menurunkan martabat perani. Melalui BPPC, menurutnya pemerintah telah memberi hak monopoli penuh untuk membeli dan menjual produksi cengkih dari petani. Monopoli inilah, yang menyebabkan harga cengkeh runtuh.

Problem Cengkih dan Pohon Jeruk

Unsur yang tergabung dalam organisasi ini adalah: Inkud (koperasi), PT. Kerta Niaga (BUMN) dan PT Kembang Cengkih Nasional (swasta), yang dimiliki Tommy Soeharto. Shofi memiliki keyakinan bahwa harga cengkeh tidak mungkin mengalami peningkatan berarti. Ia merasa tidak akan cukup membiayai produksi cengkeh dari kebunnya, jika cengkeh dimonopoli oleh BPPC. Aku tak menyesal menebang pohon ini. Semoga Allah memberi pengganti atasnya.

Setelah keruntuhan harga cengkeh Nasional, Shofi mulai mecemaskan masa depan anak ketiganya. Satu tahun yang akan datang, anak ketiga yang diberi gelar Chronos itu, akan memasuki masa studi di Perguruan Tinggi. Dalam posisi yang agak sedikit kacau,ia bertemu dengan Darmo yang biasa menjadi pembeli secara ijon hasil pertanian Shofi. Tentu Darmo kaget dengan penebangan pohon cengkeh Shofi.

Mereka berdua, akhirnya diskusi. Diskusi diserambi rumah Shofi. Waktu itu, hujan sedang turun secara rintik. Hujan itu, telah membasahi jalan setapak yang kotor dengan tanah merah yang kental. Shofi dan Darmo duduk sambil minum kopi pahit produksi Shofi sendiri.

“Begini aja kang … Kata Darmo. Ini biarlah kebun Cengkeh kadung sudah ditebang sama akang. Bagaimana kalau sawah yang ada di sekitar rumah akang, dirubah saja menjadi kebun jeruk. Saya akan mencarikan bibit yang unggul. Insyaallah kalau dipelihara dengan baik, pohon jeruk dimaksud akan berbuah dalam dua tahun paling lama. Shofi berkata: Nanti kalau berbuah, ke mana saya menjualnya. Dengan tangkas Darmo mengatakan, ya saya nanti yang akan membeli.

Akhirnya Shofi Menanam Jeruk

Akhirnya, Shofi memesan kurang lebih 200 bibit pohon jeruk. Ia meminta bantuan tukang kebun yang biasa mangkal di rumahnya untuk ditanami pohon jeruk. Galian ukuran satu meter persegi dengan kedalaman yang sama satu meter itu, dimasuki jerami padi oleh Shofi. Lalu ditimbun tanah. Kurang lebih satu bulan lamanya, lubang-lubang itu, baru ditanami bibit jeruk yang dipesan dari Darmo.

Saat penanaman pohon itu berlangsung, Shofi didampingi Farid dan tentu Crhonos. Mereka menanam satu persatu pohon jeruk itu. Setiap bibit pohon yang ditanam, Shofi selalu membaca basmallah dan mengatakan, tumbuhlah kau jeruk dengan baik, berbuahlah dengan banyak. Aku bernadar atas ditanamnya kamu, agar memberi manfaat atas pendidikan tinggi anak-ku yang bernama Crhonos”

Pohon jeruk itu, betul juga bertumbuh dengan daun yang lebat. Dua tahun kemudian, jeruk itu berbuah. Harum bunga jeruk yang dipantulkan di pagi dan sore hari, menyengat bukan saja kepada rumah Shofi, tetapi juga hampir ke beberapa rumah yang ada di sekitar Shofi. Ia persis memanen setiap waktu di mana Crhonos membutuhkan untuk SPP di Pendidikan Tinggi yang dia ikuti. Pohon itu terus berbuah sampai kemudian Crhonos menjadi Sarjana. Di luar dugaan setelah Crhonos  menjadi sarjana, pohon jeruk dimaksud, satu persatu layu, menguning lalu mati.

Takdir Crhonos dalam Studi

Kehidupan ekonomi keluarga Shofi terus menerus merosot. Terlebih ketika anak kelima dan anak keduanya meninggal. Shofi seperti terpukul hebat dan berada dalam jurang kehancuran yang hampir akut. Shofi seperti tidak merasa memiliki harapan untuk hidup dan melanjutkan tradisi hidupnya yang sangat tangkas. Terlebih belum ada satu anaknya yang mampu menjadi penerus cita-cita luhurnya dalam menata masyarakat.

Crhonos yang diminta pulang ke kampung halamannya, menolak. Crhonos malah memiliki harap dapat menikah dengan keluarga pedagang dari Kabupaten tetangga. Waktu Crhonos diangkat menjadi salah seorang asisten dosen di Perguruan Tinggi Negeri di Cirebon, Shofi tak kuasa menolak. Ia hanya memberi do’a dan harapan agar kelak, anaknya itu, benar-benar tumbuh menjadi dirinya, sebagaimana gelar yang diberikannya. Shofi mewasiati untuk tidak berhenti membaca surat al Mulk, Al Insyrah dan Yasin. Gantian saja setiap habis shalat dengan cara apapun. Chronos sediri, hafal semua surat dimaksud sejak masih di SLTP dengan seksama. Shofi sempat menguji hafalan itu dan dia mengatakan: “Crhonos, kamu lulus”.

Gelar Crhonos itu, diberikan Shofi kepada anak ketiganya. Anak ini, kata Shofi suatu hari, selalu membanggakan aku. Crhonos  itu artinya membanggakan. Dalam bahasa lain, Crhonos juga bisa berarti missionaris agama. Karena aku Muslim, aku berharap ia menjadi missionaris Muslim yang hebat dan ilmiah. Gelar ini, disetujui guru spiritual kampung Shofi, bernama Syuhada. Orang ini, di kampungnya disebut dengan OLEH.

Tak lama kemudian,  Crhonos melanjutkan pendidikan S2 atas biaya Kementerian Agama. Ia mengambil studi di Banda Aceh dalam program study Islamic Studies. Crhonos tumbuh dengan baik. Namun karena karakternya dan kultur keluarga yang pebisnis, maka, watak dan karakter bisnisnya tidak pernah berhenti. Bahkan ketika Crhonos mengikuti S2, ia tetap berbisnis. Ia menjajakan jaket dan berhasil cukup baik. Hasil bisnisnya ini pula, yang menyebabkan Crhonos memiliki rumah di Kota Cirebon.

Vetra Meminta Naik Haji

Crhonos mengawali bisnisnya dalam bidang konveksi. Ia juga sempat meneruskan bisnis keluarga istrinya dalam bidang mebeuler. Hampir tiga tahun ia mengkreditkan bahan-bahan mebeul. Sambil mengajar sebagai dosen, ia tetap berwiraswasta. Ia selalu ingat nasihat keluarganya yang menyatakan bahwa mengajar adalah ibadah. Hidup tidak boleh mengandalkan apalagi bertoma’ dari mengajar. Hiduplah dari usaha dan kerja keras. Inilah pegangan Crhonos yang diingatnya.

Bisnis Crhonos bersama dengan istrinya ini, lumayan cukup berhasil. Istrinya bernama Vetra itu, entah mengapa, tiba-tiba memintanya untuk mendaftarkan diri ibadah haji. Tetapi, Crhonos  dengan keras mengatakan tidak! Kita belum waktunya melaksanakan ibadah haji. Vetra pernah suatu hari menangis karena Crhonos menunjukkan sipat yang kurang simpati kepadanya, saat dirinya mengajak Crhonos mendaftar haji dengan cara yang sedikit memaksa. Crhonos mengatakan:

“Hai Vetra, tidak kah kau sadar, bahwa kita belum istatho’ untuk melaksanakan ibadah haji. Coba kamu lihat, dua anak kita masih bayi. Dan berapa banyak orang kampungku, yang tinggal di sini, yang secara terpaksa harus kusebut sebagai adik atau kepnokanku. Padahal mereka tidak semuanya adik atau keponakanku. Banyak orang kampus bingung, ko banyak amat adik dan ponakanku. Kalau uang dan apa yang kita miliki dipakai untuk ibadah haji, bagaimana nasib mereka. Kau harus yakin, bahwa kita belum saatnya. Vetra waktu itu mengatakan: Hai suamiku, kau harus ingat bahwa Allah Maha Kaya. Dia memiliki cara untuk membuat segalanya tetap berada dalam kebaikan. Kalimat itulah yang membuat Crhonos agak sedikit marah kepada Vetra”.

Entah mengapa, apa yang pernah dialami Shofi, teralami pula oleh Crhonos. Ketika hal itu disampaikan kepada Shofi dan Siti, Shofi yang mulai sakit-sakitan hanya tersenyum simpul. Dan entah mengapa serta bagaimana awal ceritanya, bisnis Crhonos banyak mengalami kerugian. Bahkan toko kaca mata, di mana dia melakukan investasi didalamnya, tiba-tiba kebakaran. Crhonos kembali menjadi merana meski tidak putus asa. Ia menata kembali puing-puing ekonomi keluarganya sedikit demi sedikit. Cita-cita Vetra untuk ibadah hajipun, kembali redup kalau bukan hilang sama sekali. Vetra berkata dalam bathinnya: Berhaji memang soal takdir dan soal rahasia Tuhan. By. Charly Siera –Bersambung.

Komentar
Memuat...