Berada dalam Takdir yang Sama Kami Bersatu | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 6

Berada dalam Takdir yang Sama Kami Bersatu| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 6
0 116

Berada dalam Takdir yang Sama Kami Bersatu. Crhonos, akhirnya sampai di PPS UIN Bandung. Sesampainya di PPS dimaksud, ia bertemu dengan gurunya sewaktu di SLTA. Namanya Syadily. Ia baru lulus S3 di kampus yang sama. Gurunya berkata dengan agak keras. Hai Crhonos, saya pindah tugas. Kebetulan sejak dua hari yang lalu, SK kerja saya sebagai dosen telah ditetapkan kementerian di kampus Cirebon. Crhonos menjawab, wah hebat. Selamat dan sukses selalu. Guru Syadily memang diakui cerdas dan memiliki sejumlah keahlian yang jarang dimiliki orang lain.

Nah karena saya tugas kerja, bisa nggak kamu mencarikan rumah buat saya di sana. Bagaimanapun, saya pasti terpaksa harus menginap di sana.  Crhonos, langsung menjawab, ya beli saja foundasi rumah saya. Ukurannya cukup lumayanlah. Nggak perlu bayar pakai uang. Beliin tiket saja ongkos ibadah haji untuk dua orang.

Syadily menjawab. Siapa yang akan berangkat haji? Ya saya bersama istri .. jawab Crhonos tegas. Wah Crhonos, jangan dulu lah. Kamu masih kecil dan masih belia. Nanti saja kalau usiamu sudah minimal 40 tahun. Masih banyak kesempatan ko. Saya sangup bayar kalau yang dibeli itu hanya sepetak tanah yang kamu miliki. Tetapi, Crhonos dengan tegas mengatakan: “Nggak apa-apa. Saya ikhlash. Saya memang sedang butuh untuk bertemu dengan Tuhan di Ka’bah.

Syadily kembali bertanya. Betul begitu Crhonos? Ya saya sudah bulat. Saya mau melepas tanah dimaksud, untuk kepentingan pembayaran tiket ibadah haji. Ya sudah kalau begitu. Besok pagi saya kirim. Sini minta Nomor rekening kamu. Dengan sigap, Crhonos-pun memberikan nomor rekeningnya.

Pulang dengan Nyanyian Ketuhanan

Selesai sampai pukul 13.00, Crhonos mengurus segala keperluan di PPS Bandung. Lalu ia pulang dan betapa bahagianya dia, jika pada akhirnya Crhonos memiliki kesempatan untuk membayar ongkos ibadah haji. Seperjalanan penuh ia membayangkan diri dan istrinya berangkat ibadah haji. Dalam bathinnya, ia menyenandungkan lagu-lagu meloankolis ketuhanan. Meski guru Syadily belum melihat tanah dimaksud, tetapi, ia yakin bahwa dia pasti akan membelinya. Ia juga menyatakan yang sesungguhnya bahwa tanah itu, dalam keadaan baik.

Sampailah Crhonos di rumahnya pada pukul 17.00. Ia menyalami istri dan memeluk kedua anaknya. Lalu, ia minta diseduhkan kopi pahit, dan bersidendang di depan rumahnya yang masih kecil. Rumah yang oleh Shofi kalah oleh rumah ikan belut itu, selalu menjadi tempat peristirahatan yang paling istimewa  bagi dirinya.

Beberapa saat kemudian, adzan dikumandangkan dari Masjid pinggir rumahnya. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu ia memanggil istrinyaa Vetra. Ia mengatakan:

“Hai Vetra, aku memenuhi hajatmu untuk berangkat ibadah haji. Besok kita mendaftarkan diri ke Bank guna kepentingan kita menunaikan ibadah dimaksud. Tentu saja Vetra kaget. Kaget bukan saja karena ia saat dimaksud, tidak memiliki uang, tetapi, perubahan drastis Crhonos dalam pandangannya tentang ibadah haji. Ia berkata: “Dari mana kita memiliki uang. Dulu mungkin iya, tetapi, saat ini, bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan ibadah haji.

Crhonos menjawab. Aku telah menjual se bidang tanah kepada guru kita, Syadily yang tadinya mau kita peruntukkan untuk rumah kita. Aku menghentikan niat itu, karena aku yakin, jauh lebih wajib melaksanakan ibadah haji dibandingkan dengan membangun rumah itu sendiri. Wouuuuuw … kamu yakin itu. Crhonos menjawab yakin. Percayalah, tanah itu cukup untuk keberangkatan kita berdua. Vetra tentu bangga dan bahagia … akhirnya Crhonos mau juga menunaikan ibadah haji”.

Saat dialog itu berlangsung, speaker adzan di Masjid sedang berlangsung ikomat. Saat itulah, ia ingat ibunya, Siti yang tadi pagi panjang lebar, berbicara soal janji Crhonos untuk memberangkatkan haji kedua orang tuanya. Ya … kini aku telah menyampaikan kepada istriku, Vetra bahwa yang akan berangkat mereka berdua. Ya Allah bagaimanah aku ini. Janji mana yang harus aku tepati.

Vetra dan Wudlu Abadi

Vetra yang tak pernah batal wudlu itu, mengajak Crhonos untuk shalat berjama’ah. Sementara Crhonos belum berwudlu. Ia menyuruh Vetra untuk shalat duluan. Kita shalat di tempat yang terpisah. Kata Crhonos membathin. Crhonos-pun mengambil wudlu dan langsung ia masuk ke kamar keduanya. Ia mengambil sarung dan sajadah. Lalu dia shalat. Sehabis shalat, Crhonos berdo’a:

“Ya Allah … kau kembali menguji-ku. Setelah Kau mengukuhkan hatiku, bahwa aku harus berangkat ibadah haji, kini, Kau memainkan perasaanku dengan cara, apakah harus aku bersama istriku dulu atau ibu-bapak-ku tanpa kami. Jika pilihan terbaik-Mu –karena aku telah bersumpah di masa remajaku, bahwa kedua orang tuaku kan kucegah [tentu melalui do’a-do’aku] agar tidak mati terlebih dulu sebelum mereka ibadah haji,– aku mohon yakinkanlah istriku bahwa pilihan terbaik menurut-Mu adalah mengalah demi kedua orang tuaku.

Jika menurut-Mu yang terbaik itu adalah aku bersama istriku tanpa kedua orang tuaku, maka, janganlah Kau ganggu kebahagiaan istriku atas rasa yang dimilikinya. Ia telah lama menginginkan keberangkatannya ke tanah suci.Tentu, kami sangat bahagia jika kau memberi pilihan jika dalam kehendak-Mu kami dapat berangkat bersama. Semuanya secara bersama juga.”

Crhonos bangkit, tentu setelah dirinya membaca secara surat al Mulk. Salah satu surat dalam al Qur’an yang tidak pernah dia lepaskan untuk dibaca sejak masih sangat remaja. Ia ke luar kamar. Dilihat istrinya masih memakai mukena putih. Ia tidak tahu, sedang berdoa’a apa istrinya itu.

Kutitipkan Rindu pada Tuhan

Istrinya, Vetra, ke luar kamar dan menjumpai Crhonos di rumah bagian depan. Ia membawa makanan ringan ala kampung yang selalu dikirim keluarga Crhonos untuknya. Ia menyediakan opak sama rengginang. Tidak lupa Kopi yang tadi sebelum maghrib diseduh, dibawa kembali. Dalam posisi masih memakai mukena, Vetra bulak balik membawa makanan itu. Anak-anak Crhonos yang masih sangat kecil itu, seperti biasanya, pada duduk di paha Crhonos. Mereka selalu dimanja sama Crhonos tanpa henti.

Entah mengapa, Saat itu, di tengah segenap kekalutan rasa dan perasaan Crhonos, istrinya berkata cukup pelan. Ia mngungkapkan sebuah rasa yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Vetra berkata:

“Suamiku, selama ini, kau telah berbuat baik padaku. Kau selalu mengambil keputusan terbaik, saat pilihan itu datang menjumpai kita. Aku, meyakinkan diri bahwa tadi setelah shalat maghrib, harus ikhlash bahwa tanah yang baru saja kita foundasi itu, untuk dijual. Tadinya, memang aku merencakan berbuat sesuatu di rumah baru kita itu, untuk menatap masa depan anak-anak kita. Aku harus meyakinkan diri, bahwa menemui Allah jauh lebih baik, dibandingkan dengan membesarkan diri kita di dunia ini. Menatap dunia yang sementara ini, pasti hanya akan mendorong diri kita menjadi sia-sia.

Saat itu Crhonos ingin menimpali. Tetapi di luar dugaan, ia kembali berkata: Namun, karena kita masih sangat muda, dan betapa ibu dan bapak sudah sangat tua, tampaknya, pilihan itu, bukan hanya sekedar lebih baik, tetapi, lebih bijaksana, jika uang hasil penjualan tanah itu, dipakai untuk memberangkatkan mereka. Aku yakin pahalanya sama. Pun jika terpaksa tidak berangkat ibadah haji, sampai mati sekalipun. Aku hanya akan menitipkan Rinduku pada Tuhan melalui orang tua kita. Itulah Vetra

Tak ada kata yang ke luar dari mulut Crhonos kecuali tetesan air mata. Dua anak Vetra dan Crhonos hanya bertanya: “Mengapa papah menangis. Dengan segera Crhonos mengusap muka dan berkata, tidak. Tidak apa-apa. Papah baik-baik saja. Hanya saja, papah kagum dan bangga sama mamah kamu.

Di tengah segenap kebanggaan pada istrinya itu, Crhonos bingung. Ia gelisah. Crhonos menyatakan dalam hatinya: Mungkin karena takdir kita selalu sama, Vetra, kita dipersatukan. Mengapa Tuhan menyatukan kami dalam nokhtah yang sulit dimengerti. Mungkin ini, bagian dari jawaban itu.

Haji dan Tatapan Masa Depan Keluarga

Ungkapan Crhonos itu, terjadi karena keluarga Vetra juga sama. Meski ia sempat menjadi eksportir kayu, sampai ke Malaysia dan Brunai Darusaalam, mereka belum ibadah haji. Dua keluarga (Crhonos dan Vetra) ini, tumbuh sebagai sosok yang ego akan tatapan masa depan bagi anak-anaknya. Itulah yang selalu mengurungkan niat mereka di masa mudanya, untuk berangkat ibadah haji. Ketidak berangkatan mereka, sampai kini ketika sudah pada  tua, karena banyak waktu yang dihabiskan mereka untuk memikirkan masa depan anak-anaknya. Sampai kemudian, Tuhan mengambil kembali kekayaan yang dititipkan kepada mereka.

Crhonos membolak balikkan rasa dan perasaannya. Kami sama-sama berasal dari keluarga mapan, yang mengalami kebangkrutan. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan eksistensi-Nya kepada kedua keluarga ini, melalui kami. Crhonos akhirnya hanya mampu berucap, Ya Allah yakinlah kami. Utuhkanlah sikap dan pandangan kami. Berilah kami jalan terbaik. Kalimat ini terus ia ungkapkan saat, akhirnya ia shalat malam karena tidak bisa tidur. Ia akhirnya, ingat nasihat Kyai Haji Kholid yang menyatakan: “Bisnis yang tidak pernah rugi hanya dapat dilakukan manusia dengan Tuhan.  By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...