Berbeda Jalan Menuju Syurga dalam Catatan Harian

0 95

Bukan hanya ular Kobra yang suka berubah kulit. Jaman dan peredaraan massapun sering kali berganti kulit, berganti wajah dan berganti haluan. Regenerasi pasti terjadi. Tidak bisa ditolak dan mungkin dibendung. Jangan takut jika perubahan itu harus terjadi. Kita harus selalu siap ganti generasi, ganti haluan dan tentu ganti penampilan. Itupun mungkin yang terjadi di kampung halaman kami.

Bayangan Masa Lalu

Masih cukup lekat di mata, di pikiran dan di hati saya, bagaimana bapak kami berkumpul dengan kakak-kakaknya di depan tungku api di dapur.Ai?? Mereka melingkar seperti para ksatria yang siap bertempur di setiap pagi. Jilatan api dari kayu jati, herasAi?? dan kayu mahoni yang kering, dilahap api, memanaskan tungku berisi air untuk menyeduh kopi hitam.Ai?? Arangnya bertugas membakar singkong lambong. Mereka berkumpul dalam segenap perbedaan seolah hendak membuktikan bahwa berbeda itu, tidak berarti bahwa mereka tidak dapat masuk Syurga. Mereka justru seperti ingin menunjukkan bahwa Jalan Menuju Syurga itu cukup banyak dan kompleks.

Mereka setiap pagi bercerita tentang masa kecilnya, masa remajanya dan masa dewasanya. Mereka juga bercerita tanaman-tanamannya yang terdiri dari padi, jagung dan palawija. Tanaman terakhir itu, dilakukan mereka ketika sawahnya kekeringan atau musim tikus dan wereng tiba, yang memungkinkan sawahnya untuk tidak ditanami padi.

Mereka juga cerita kebanggaan pada anak-anaknya masing-masing, yang karena di sekolah atau di pesantren berprestasi. Yang paling menarik, kadang-kadang mereka juga menumpahkan rasa kejengkelannya satu sama lain terhadap perilaku saudara-saudaranya yang lain. Padahal yang dijengkelkannya itu berkumpul juga dalam lingkaran yang sama dan di waktu yang sama dengan mereka. Jika ada di antara mereka telah memiliki anak-anak yang mulai dewasa, satu sama lain, saling memberitahu kemungkinan ia berjodoh dengan siapa.

Mereka begitu harmonis.Ai?? Meskipun kalau bagi saya, kadang-kadang kehadiran saudara-saudara bapak-ibu kami menjengkelkan. Sebab jika bapak dan ibu menyembelih ayam, saya suka kebagian sayapnya. Jika bapak ibu mengambil ikan dari kolam, saya sering hanya kebagian kepalanya. Termasuk jika ibu memasak ai???entim Pedaai???. Saya sering hanya kebagian kepalanya. Jenis-jenis itu pula yang sampai hari ini, di mana segala sesuatu tentang yang demikian mampu saya beli, yang saya makan, ya jenis-jenisnya yang seperti biasa saya makan tempo dulu. Enggak tahu kenapa?

Berbeda itu Tradisi Islam

Di kampung kami juga, setidaknya tersedia ada empat pesantren. Semua pesantren itu, diwuruki oleh saudara-saudara kami juga.Ai?? Maklum memang, karena hanya dari keluarga besar kami pula, mesantren dan sekolah itu ditradisikan. Bisa dimaklumi mengingat, moyang kami pula yang membawa ajaran Islam ke Kecamatan di mana kami tinggal.

Yang paling menarik, kebetulan, entah kenapa, di antara sekian saudara-saudara itu, bapak saya itulah yang paling kritis. Entah mengapa, hanya karena bapak saya melarang tahlil jika ada yang mati dan ia tidak memiliki bekal. Melarang fidyah shalat bagi yang mati dengan alasan shalat wajib dilaksanakan sampai manusia mati. Melarang haji titipan bagi yang sudah meninggal.

Bapak kami juga, membolehkan menyembelih kambing betina jika akikahan dan qurban dilangsungkan. Karena kalau hanya kambing jantan, harga akan menjadi naik. Ia juga menyuruh berzakat selain yang biasa dilakukan. Dilarang membaca fiqih yang hanya safinah di pesantren-pesantren dengan memintanya untuk mengajarkan perbandingan fiqih (fiqh muqarrin).

Ia juga melarang berorganisasi Islam seperti ber-NU, ber-Muhamadiyah dan ber-Persis di sekolah dan di pesantren. Mengapa? Sebab pesantren adalah milik umat. Karena pikiran seperti itulah, bapak, di sidang dalam majelis masjid tingkat DKM. Yang menyidangnyapun adalah mereka yang terbiasa duduk melingkar dalam tungku dengan jilatan api yang cukup panas di rumah kami.

Dan yang paling pantastik lagi adalah, mereka, di pagi hari setelah sidang itu, kembali berkumpul di tempat yang sama. Mereka seperti tidak pernah merasa berdosa dan seperti tidak memiliki masalah. Damailah mereka dan hidup dalam ketenangan yang tiada tara.

Mereka yang suka berkumpul dan berdiskusi hebat itu, hari ini sudah pada pulang ke rahmatullah semuanya. Meninggal dalam urutan waktu yang hampir bersamaan. Yang pertama pulang itu bapak kami. Dia tidur dalam lelapnya dekapan istri dan anak tertuanya sambil melelehkan air mata dan berkata Allah al akbar dia hembuskan nafas terakhirnya dengan tidak sedikitpun meninggalkan rasa cemas seperti kebanyakan kematian orang. Dia begitu tenang, begitu nyantai dan begitu bersahaja dengan senyum terakhir yang tidak sedikitpun menunjukkan diri sebagai seorang yang akan meninggal.

Cara Pulang Mereka ke Syurga Berbeda juga

Pagi jam 8.30 waktu itu, bapak minta dibelikan minyak rambut merek Tancho kesukaannya. Minyak itu kemudian dioleskan ke rambutnya yang mulai memutih. Diapun mencukur kumis dan janggutnya dengan bulu rambut dihidungnya. Kegiatan itu dia lakukan sampai dengan pukul 10. Kemudian dia minta berbaring dan meminta istrinya untuk menemaninya. Ia bercerita dengan sengau nafas yang mulai berat. Berdzikir dan terus berdzikir. Sampai pada pukul 11.25 menit hari itu, bapak kami akhirnya pulang ke sang pencipta. Tanpa sedikitpun alfa dari menyebut nama Tuhan.

Enam bulan kemudian kakanya, meninggal juga. Meninggal dengan alunan ayat-ayat suci al Qurai??i??an yang dia bacakan sendiri di malam hari. Semua keluarga tidak menduga ketika ia menghentikan bacaannya itu, sebagai tanda bahwa dirinya meninggal. Perhentian bacaan al Qurai??i??annya itu, ternyata menjadi perhentian nafas terakhirnya. Iapun meninggal kembali ke sisi Tuhannya dengan jalan dan cara yang sangat indah.

Sehari sebelumnya, ia mengelilingi warga kampung. Ia membagi-bagikan uang. Tak ada sedikitpun tanda bahwa dia akan meninggal secepat itu. Wajah dan fisiknya tetap tambun dan nyantai. Ketika maghrib dab isya dikumandangkan, ia tetap masih mengimami shalat jama’ah. Malam harinya ia meninggal dengan tenang dalam ayunan ayat suci al Qur’an.

Kakanya yang satu, meninggal beberapa bulan kemudiannya lagi. Meninggal juga sama. Memanggil semua anaknya termasuk ponakkannya seperti saya yang jauh di Cirebon. Dia hanya berkata, uwa mau meninggal dunia. Kalau bukan hari ini, uwa akan pulang tiga hari kemudian. Ia tidak mau dibawa ke dokter karena ia yakin akan meninggal. Ia berwasiat bahwa jika tanda-tanda kematian itu telah datang. Dan jika mereka yang tanda kematiannya telah tiba, nggak usah dibawa ke dokter percuma. Biarlah Tuhan menjemputku dengan tenang di sini.

Shalat Kata Kuncinya

Ia hanya menitipkan harus rajin shalat, tidak boleh ketinggalan. Nitip Masjid yang dibangun kakeknya. Sebarkan Islam. Dan Jauhkan diri dari semua prasangka buruk terhadap orang. Setelah wasiatnya itu, ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan lantunan doai??i??a dan dzikir yang dia panjatkan sendiri tanpa henti.

Saya hanya ingin mengatakan itulah mereka pahlawan kami. Pejuang keislaman kami. Meskipun di antara mereka berbeda pendirian tentang sesuatu, hubungan persaudaraan, hubungan keimanan dan hubungan darah yang menjungjung tinggi kemuliaan hidup di muka bumi tetap mereka pertahankan. Saya dan segenap keluarga besar kami, hanya mungkin semoga tradisi mereka dapat kami teruskan. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.