Berbisnis dengan Tuhan | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 7

Berbisnis dengan Tuhan | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 7
0 121

Berbisnis dengan Tuhan – Malam menjelang pagi, Crhonos meyakinkan dirinya sendiri. Beberapa saat setelah dia melaksanakan shalat shubuh, keputusan bulat telah diambil. Crhonos, akhirnya memberangkatkan semua. Ia berencana untuk mengajak ke dua orang tua dan mertuanya, pergi secara bersama ke tanah suci.

Uang yang tadinya hanya diperuntukkan dua orang, dirubah menjadi lima orang. Ia meminta adiknya, Amin, untuk menjemput kedua orang tua dan mertuanya. Ia berguman dalam hatinya: “Ya Allah … jangan kau goyahkan keyakinanku. Berilah kami kekuatan untuk melaksanakan kebulatan tekadku”

Ia ke luar dari tempat shalatnya dan merebah sedikit, karena belum tidur. Masuk ke kamarnya dan menyelimuti tubuhnya. Akhirnya tertidur dengan pulas sampai waktu menunjukkan 8.30 dini hari. Ia bangun, mandi, makan dan melaksanakan shalat dhuha. Lalu ia merenung sejenak dan menggendong anak keduanya, ke taman rumahnya.

Crhonos Mendatangi  Bank

Hari itu, setelah merenung panjang, Crhonos mendatangi salah satu bank Syari’ah. Ia menemui salah satu petinggi di bank tersebut. Ia ingin uang yang dikirim Guru Syadily segera disimpannya. Ia merencanakan menyimpan dana hasil penjualan tanah guna tabungan haji.

Ia mengatakan, bahwa dirinya akan berangkat ibadah haji. Awalanya ia tidak meminta fasilitas pendanaan dari bank syariah flat merah itu. Namun setelah berdialog agak panjang, akhirnya ia merubah niatnya. Ia bertemu dengan kawan lamanya dan terjadilah dialog berikut ini:

“Sobat aku punya uang. Mau saya tabungkan untuk keberangkatan ibadah haji. Tadinya, mau saya gunakan untuk membayar lunas semua kepentingan ongkos ibadah haji kami berdua. Tetapi, kami memiliki keluarga yang juga belum ibadah haji. Aku akan membagi uang ini, untuk lima orang. Nggak tahu kapan lunasnya, tetapi saya akan memulainya untuk menabung.

Imam petinggi bank dimaksud mengatakan: “Mengapa Nabung. Uang sebesar itu, cukup ko untuk memberangkatkan ibadah haji dalam kepentingan lima orang. Bank ini memiliki skim fasilitas pembiayaan haji. Daripada nabung, entar terlalu lama. Orang tua keburu terlalu tua. Saya bantu pakai fasilitas bank aja ya … kata Imam. Crhonos diam … masyaallah. Ini bener ada ruang untuk itu. Iya …. marginnya kecil ko. Nggak seberapa lah … Insyaallah tahun depan bisa berangkat kalau anda mengikuti skim ini.

Ia merenung beberapa saat. Setelah itu, Crhonos mengatakan, oke kalau begitu! Aku akan mencoba melaksanakan bisnis bersama Tuhan. Jika dalam waktunya, aku tak mampu menyelesaikan hutang ini sebelum berangkat haji, maka, aku ragu atas apa yang disampaikan kyai saya waktu dulu. Jika mampu melunasinya, maka, apa yang disampaikannya menjadi turut meyakinkan aku, bahwa Tuhan bukan hanya sekedar ada, tetapi, ia memang memiliki kuasa yang sangat lebih dibandingkan dengan apapun yang ada di seluruh jagad raya ini.

Semua menjadi Serba Mudah

Itulah hari yang sangat bersejarah dalam hidup. Crhonos dan keluarga besarnya, akhirnya dapat melunasi ongkos ibadah haji. Meski harus dicatatatkan bahwa pelunasan yang sesungguhnya, entah kapan. Ia pasrah pada Tuhan secara total. Setelah hari itu, besoknya ia dan seluruh keluarganya mendatangi Kantor Imigrasi. Ia membuat paspor selama satu minggu lamanya. Setelah paspor didapatlan, ia kemudian menemui Kepala Kantor Kementerian Agama.

Kebetulan Kepala Kantor Kementerian Agama itu adalah senior Crhonos.  Jadi, dia sedikit banyak gampang memperoleh informasi tentang bagaimana cara yang harus ditempuh guna pendaftaran ibadah haji. Ia dan lima anggota keluarganya akhirnya  mendaftarkan pelaksanaan ibadah haji. Terdaftarlah lima orang untuk berangkat ke tanah suci. Tak ada yang tak meneteskan air mata saat segalanya sudah dilakukan. Semuanya meneteskan air mata haru, terlebih tentu Siti dan Vetra. Keduanya adalah wanita yang begitu bersemangat untuk berangkat haji dengan cara apapun, proses itu harus dilaksanakan.

Karena kebetulan belum terlalu padat, maka, pihak kementerian Agama memberitahukan kalau keberangkatan kami tahun depan. Akhirnya kami disarankan untuk mengikuti manasik haji di salah satu penyelenggara haji. Kami mengikuti KBIH Islamic Center. Tiga bulan kemudian, kami mengikuti manasik haji.

Takdir berkata lain. Karena mertua Crhonos, sakit akut. Sama dengan bapaknya, Shofi. Hanya jika Shofi masih bisa memaksakan diri, mertuanya, sama sekali tidak mungkin menurut dokter. Karena itu, urung berangkat mertuanya. Yang tersisa tinggal empat orang lagi. Mereka rutin mengikuti kegiatan manasik haji dua minggu sekali di KBIH dimaksud.  By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...