Berbuat Sesuatu Menjadi Bukti Entrepreneur

0 22

Berbuat Sesuatu Menjadi Bukti seseorang disebut Entrepreneur. Entrepreneur selalu dicirikan dengan kreativitas. Ia adalah sejenis manusia dengan kreativitas lebih dibandingkan dengan manusia lain.  entrepreneur selalu berpikir bahwa semua ciptaan Tuhan pasti bermanfaat dan tidak ada yang sia-sia. Para entrepreneur, selalu menjadikan semua ciptaan Tuhan itu, sebagai sesuatu yang bermanfaat dan memanfaatkannya untuk kepentingan manusia tadi.

Hal ini setidaknya digambarkan al Qur’an dalam surat Ali Imran [3]: 191.

” …. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

Karena segala sesuatu yang dicipta Tuhan itu tidak ada yang sia-sia, maka, segala hal dapat ditransaksikan [diperjualbelikan]. Inilah yang membuat saya sering dan berulang kali menyatakan bahwa, ciri entrepreneur sama dengan ciri orang beriman. Ciri utamanya adalah diukur dari kebermanfaatan.

Manusia dalam jenis ini akan melihat nyamuk dan yang lebih kecil dari nyamuk sekalipun sebagai sesuatu yang bermanfaat. Hal ini juga digambarkan Allah dalam al Qur’an surat al Baqarah [2]: 26 yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Mukmin dan Nilai Manfaat

Karena semua aspek bermanfaat, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang berguna. Tuhan menyebut mereka yang demikian, sebagai sebaik-baik manusia. Karena ia menjadi manusia terbaik, maka, ia berarti memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai wujud terbaik ciptaan Tuhan. Hal ini sebagaimana Allah sebut dalam Surat At-Tin ( 95: 4), “Sesungguhnya Kami telah mencipta Manusia sebagai sebaik-sebaik ciptaan”. Karena manusia tumbuh sebagai makhluk terbaik ciptaan Tuhan, ia tidak mampu dikalahkan apapun, kecuali oleh sang pencipta itu sendiri. Malaikat sendiri dipaksa tunduk kepada manusia.

Problemnya hanya terletak pada bagaimana setiap manusia memiliki kesadaran dan sekaligus kesanggupan untuk melihat segala sesuatu dalam dinamika tertentu itu ternyata  memiliki nilai transaksional? Saya ingin mengawali hal ini dengan menyebut bahwa, betapa hari ini kita membutuhkan pendidikan yang bersipat habit dan tepat guna. Pendidikan yang berusaha memadukan antara praktek dengan theori. Bukan sebaliknya! Bagaimana sebuah teori dipaksa hadir dalam praktek di lapangan.

Entrepreneur adalah Produsen

Entrepreneur dalam konteks ini harus disebut sebagai pembuat cerita, pembuat lakon dan pembuat produk. Bukan penjual apalagi penikmat. Jujur harus diakui bahwa selama ini pendidikan persekolahan  di Indonesia, berupaya untuk mengikuti dinamika sosial saja sulit, apalagi menghasilkan outputnya yang mampu pembuat suatu produk. Karena itu, dibutuhkan dua lembaga lain, yakni pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat.  Di dua lembaga pendidikan ini, benih-benih entrepreneur harus ditanamkan sejak dini sekalipun.

Dalam sebuah keluarga sekelas Thomas Alva Edison (1847-1931) yang di sekolah Amerika dianggap idiot, ternyata menjadi petualang ilmiah dan entrepreneur ulung karena keberhasilannya dalam menemukan lampu listrik. Iapun meninggal justru pada saat semua kantor-kantor dan rumah-rumah di Amerika Serikat disulap pada waktu malam menjadi siang, oleh bola lampu yang dia ciptakan. Ia hanya mempatenkan hasil temuannya untuk keperluan ekonomi keturunannya dan hampir ia tidak pernah menikmati hasil jerih payahnya.

Sangat bodoh karena itu, kalau ada orang yang menganggap bahwa dirinya pintar, terdidik dan terpelajar, tetapi, tidak memiliki kemampuan entrepreneurship. Tidak mungkin seseorang disebut pintar tanpa sedikitpun tersedia monumen ilmiah atau produk tertentu yang dihasilkannya. Karena itu, sekecil apapun produk yang berhasil kita buat, itulah tanda bahwa kita telah berada dalam posisi sebagai entrepreneur. ***Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.