Inspirasi Tanpa Batas

Berdo’a di Jabal Qubais| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 27

Berdo'a di Jabal Qubais| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 27
0 119

Berdo’a di Jabal Qubais. Waktu berjalan terasa pelan. 10 hari lagi tinggal di Kota Mekkah. Kepulangan jama’ah ke tanah air, menjadi waktu menarik untuk diperhatikan. Setelah kurang lebih 15 hari pasca pelaksanaan ibadah haji, jama’ah masih bertumpuk di Maktab yang disediakan Kementerian Agama RI. Tampak di wajah jama’ah, muka-muka jenuh. Daging kurban baik sapi, kambing ataupun Unta, berjejer di setiap lorong yang biasanya dipakai untuk menjemur pakaian. Diganti dengan jemuran daging untuk “dikere”.

Kondisi Kota Mekkah sendiri, meski tak sepadat seperti akan pelaksanaan ibadah haji, tetapi, tidak dipungkiri kalau Mekkah masih demikian padat. Mobil-mobil bus mewah yang biasanya ditumpangi jama’ah asal negara Iran, Irak, Quwait dan beberapa negara tetangga Arab, mulai pada kosong. Suara klakson yang biasanya tidak pernah berhenti menyala, saat itu mulai reda.

Di Maktab jama’ah, berbagai tumpukan tas yang terdiri dari air zam-zam dan pakaian bekas pelaksanaan haji sudah diikatkan ke dalam tas-tas besar. Kebanyakaan jama’ah hanya menyisakan sedikit pakaian untuk keperluan sehari-hari sebelum mereka pada akhirnya pulang. Di wajah jama’ah sudah mulai tampak bukan hanya sekedar rasa lelah, tetapi, juga rasa jenuh yang membara.

Akhirnya, banyak di antara jama’ah yang menghabiskan waktu untuk melaksanakan umrah. Hal ini tentu berlaku bagi jama’ah yang masih memiliki tenaga. Tetapi, tidak sedikit di antara jema’ah justru yang kerjaannya hanya berbelanja.  Mereka menghabiskan uangnya atau meminta kiriman tambahan dari kampung halamannya untuk kepentingan belanja dimaksud.

Antrean di berbagai toko pakaian, sandal dan sepatu, karpet, permadani, sajadah, tasbih dan bahkan emas dipenuhi orang Indonesia. Dari mulai pagi sampai sore, banyak jama’ah Indonesia hanya menghabiskan waktunya di toko-toko dimaksud. Aku kata Crhonos …. tidak dapat membayangkan berapa milyar real uang yang dihabiskan bangsa Indonesia di tanah paling suci ini. Inilah yang menyebabkan Arab pasti selalu tumbuh menjadi negeri kaya di dunia.

Hal lain yang menarik perhatian adalah, sosok hujaj secara asli sudah mulai tampak. Mereka yang biasanya gampang marah, tampak juga gampang marah. Mereka yang terbiasa suka marah-marahan sama istri atau suaminya, tampak suasana kemarahan di antara mereka terjadi. Inilah pemandangan menarik, saat hari-hari menunggu kepulangan itu terjadi.

Datang ke Jabal Abi Qubais

Dalam suasana yang dipenuhi semangat spiritual, Crhonos justru mengajak Vetra, istrinya, mengunjungi bukit yang pernah digunakan Ibrahim memanggil manusia untuk melaksanakan haji. Panggilan ini berlaku ketika Ibrahim dan Ismail selesai membangun Ka’bah. Ia berdiri di sebuah bukit yang hari ini akan kita kunjungi. Meski banyak di antara ahli tafsir yang mengatakannya berada di bukit shafa dan maqam Ibrahim.

Namun dalam periwayatan yang masyhur, ajakan itu dilantunkan di jabal Qubais. Hal ini dapat dilihat dari salah satu periwayatan, di mana bukit Abi Qubais, Ibrahim pernah  memanggil manusia untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini sebagaimana terekam dalam al Qur’an surat al Hajj [22]: 27 yang artinya: Dan serulah manusia untuk berhaji, mereka datang dengan berjalan kaki, dan sebagian lagi menunggang unta, mereka datang dari tempat yang jauh”

Setelah sampai di gunung Abi Qubais itu, ia berkata kepada Vetra: “Hai … Vetra tahukah anda, bahwa bukit ini pernah menjadi saksi di mana Allah memerintahkan Ibrahim untuk memanggil manusia melaksanakan ibadah haji. Hanya ia bingung, bagaimana caranya. Ia mengatakan: ” Ya Allah ya Tuhanku, bagaimana aku dapat menyerukan sesuatu, sementara suara-ku tidak mungkin dapat didengar mereka yang sangat jauh?” Allah mengatakan: “Serukan saja, Kami yang akan menyampaikannya”.

Akhirnya Ibrahim menyeru seluruh umat manusia dalam kalimat: “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan baitullah, maka tunaikanlah ibadah haji”. Setelah itu, Bukit Qubais tunduk dan menyebarkan seruan Ibrahim hingga ke seluruh manusia yang mendengarnya. Mereka [manusia yang medengarnya] menjawab: “Labbaik allahumma labbaik” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah.. Aku penuhi panggilanMu)

Sesampainya ke bukit Abi Qubais, ternyata bukit itu sudah hampir rata. Ia digunakan untuk memperlebar Masjid al Haram.  Tetapi, setelah Crhonos bertanya ke sana kemari, tentang posisi bukit dimaksud, dan ia yakin bahwa yang dimaksud bukit tersebut berada di tempat tertentu, ia berkata: Hai Vetra, jika Ibrahim pernah memanggil seluruh umat manusia untuk melaksanakan ibadah haji, maka, mari kita menyeru di sini, untuk memanggil seluruh keturunan kita agar mereka berkenan tetap menjaga titah Tuhan.

Do’aku Akhirnya Terlantun

Di Jabal Abi Qubais dalam keyakinan Crhonos setelah berbagai pertanyaan kepada hujjaj lain, ternyata berada di Sebelah Timur Hajar Aswad. Jika kita berdiri di membelakangi hajar aswad, maka, pandangan kita akan tertuju kepada sebuah istana megah bernama Istana Shafa. Mengapa Crhonos begitu bersemangat ingin melantunkan do’a di bukit ini? Ternyata, ia membaca berbagai literatur yang menyebutkan bahwa salah satu mukjizat Rasulallah, yakni membelah bulan, terjadi di gunung ini.

Saat berdiri di bukit yang ketinggiaannya mencapai 450 meter itu, Kafir Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad untuk membuktikan kenabiannya  dengan cara membelah bulan. Maka, rasul-pun berdiri dan berdo’a. Dengan kekuasaan Allah, Rasul berhasil membelah bulan menjadi dua belahan dengan tunjukan jarinya. Inilah peristiwa besar sekaligus hebat yang telah disaksikan kaum musyrikin Makkah. Belahan bulan itu sendiri berada di atas Jabal Qubais, dan belahan lainnya bergerak menuju Jabal Qaiu’an atau Qu’aiqu’an yang terletak berhadapan dengan bukit Marwa.

Crhonos berkata kepada Vetra, Hai inilah gunung yang pernah menjadi saksi atas kejadian-kejadian misterius. Kejadian yang dapat merangsang manusia untuk selalu mencari manuskrip-manuskrip para leluhur manusia yang bukan hanya memuja Tuhan sebagai puncak segala kesemestaan, tetapi, juga memuja manusia sebagai wujud yang harus selalu dibela. Jika gunung ini pernah menjadi saksi akan ketulusan Ibrahim dan Muhammad, maka, setidaknya aku ingin disaksikan gunung ini akan ketulusan kemanusiaanku.

Akhirnya Crhonos mengangkat tangan dan meminta Vetra untuk mengatakan: Aamiiin …. saat dirinya membaca berbagai bacaan berikut ini:

“Ya Allah Dzat yang menjadi petunjuk segenap kebenaran. Saat ini aku berdiri di makam para leluhurku yang suci. Kesucian mereka diakui karena mereka selalu mensucikan-Mu dan mensucikan manusia. Gunung ini telah menjadi saksi kunci akan ketulusan mereka. Hari ini, aku berdiri di sini. Di tempat ini. Tempat yang selalu menunjukkan syi’ar-syi’ar kebesaran-Mu.

Ya Allah Yang Maha Pembuka atas segala hidayah dan kekayaan bathiniyah. Aku bermunajat kepada-Mu dengan seluruh nokhtah dan cita rasaku sebagai hamba-Mu yang lemah. Aku dan istriku serta ibu dan bapak-ku datang ke sini untuk memuja-Mu. Tuhanku satu, yakni diri-Mu yang tak pernah kutemui secara fisis, di manapun termasuk di sini.

Di tempat ini, aku persembahkan seluruh karya ketuhananku kepada-Mu. Jika Kau berkenan dan berhasyrat menjadikanku dan keturunanku sebagai manusia-manusia yang selalu mensucikan-Mu, perkenankanlah seluruh keturunanku dan seluruh saudaraku beserta keturunannya, kupanggil supaya mereka datang ke sini. Rabbana taqabbal minna innaka anta sami’ul alim [Ya Allah terimalah do’a kami, karena sesungguhnya aku sadar, Kaulah wujud yang Maha Mendengar].

Dengan linangan air mata, Crhonos mencucurkan air mata. Istrinya mengatakan Amiin … lalu ia menoleh dan mengajak istrinya, Vetra bergerak menuju altar Ka’bah. Tak ada keindahan, kecuali ia merasa benar-benar berada di sekitar kebesaran Tuhan. By. Charly Siera –bersambung—

Komentar
Memuat...