Inspirasi Tanpa Batas

Memperebutkan kata NKRI

1 12

Konten Sponsor

Memperebutkan kata NKRI. Kata Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI], kini sedang diperebutkan. Banyak di antara bangsa Indonesia, yang seolah takut kalau tidak segera mengatakan NKRI harga mati. Padahal sesungguhnya, sulit meraba apakah ada orang Indonesia yang tidak suka terhadap NKRI. NKRI bukan tiang negara dan juga bukan dinding negara. NKRI adalah tujuan pembentukan negara. Jadi, jika ada yang anti NKRI maka ia pasti bukan warga Indonesia.

Kata NKRI, tertuang dalam Undang-undang Dasar [UUD] 1945. Di UUD dimaksud, jelas disebutkan bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan. Rumusan Negara Kesatuan ini, setidaknya terdapat dalam lima Pasal, yaitu: Pasal 1 ayat [1], Pasal 18 ayat [1], Pasal 18B ayat [2], Pasal 25 A dan pasal 37 ayat [5].  Semangat negara kesatuan ini, juga dapat dibaca dalam pembukaan UUD 1945 yang menyebut. “…. dalam upaya membentuk suatu Pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”.

Rumusan NKRI, lepas dalam konteks semangat UUD 1945 atau tidak, hari ini telah menjadi “rebutan” icon. Dalam kasus tertentu, kata dimaksud bahkan memiliki kesan telah menjadi semacam komoditi. Banyak pihak seperti ormas, LSM apalagi politikus, akhirnya tidak kuasa kecuali bagaimana mereka “memperebutkan” kata ini, meski terkesan antagonis.

Dulu, di masa Orde Baru, kata ini seolah hanya milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia [ABRI].  Mereka bukan saja gesit menghalau gerakan-gerakan yang dipandang separatis di belahan-belahan bumi pertiwi, tetapi digjaya ketika berhadapan dengan pihak asing yang patut diduga akan mengganggu stabilitas pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Indonesia.

Terorisme di era Orde Baru juga ada. Tetapi cara penangannya begitu singkat dan tidak melahirkan banyak polemik, sekalipun tetap kontroversial. Mereka bergerak dalam satu kata, yakni mempertahankan NKRI.

Arah Reformasi dan Goyahnya tatanan NKRI

Rumusan  yang dibangun para filosof dengan menyebut Negara yang kuat hanya akan terbentuk jika tentaranya kuat, menjadi “nada” penting kehadiran tentara dalam berbagai lini kenegaraan. Fakta bahwa, ketika Orde Baru berkuasa, lepas soal bagaimana demokrasi terberangus di Indonesia, negara ini tumbuh menjadi bangsa yang dihargai bangsa-bangsa lain di dunia. Inilah bagian lain dari “citra positif” Indonesia di masa lalu meski dalam soal lain seperti HAM dan Demokrasi dianggap banyak dilanggar

Setelah gerakan reformasi berhasil menurunkan pemerintahan Orde Baru yang dianggap “refresif”, ada tanda baca menarik tentang kemungkinan goyahnya NKRI. Goyah tentu bukan dalam pengertian UUD, tetapi, dalam perilaku masyarakat bangsa Indonesia.

Di sisi lain, meski sangat samar, TNI mengalami”penurunan mental” sehingga cenderung gamang dalam mengambil tindakan tegas. Selain tentu harus juga dicatatkan bahwa, beberapa hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab penuh TNI, hari ini “diambil” institusi lain.

Akibatnya, kata NKRI, kini menjadi rebutan peran untuk dipertahankan. Sampai beberapa Ormas-pun banyak yang terjun mengamankan atau melakukan gerakan, dengan semangat yang sama, bagaimana NKRI dipertahankan. Salahkah langkah itu? Tentu saja tidak …! Karena NKRI memang harus menjadi jiwa seluruh bangsa Indonesia.

Tetapi, dari bebasnya semua pihak menjaga NKRI, saya khawatir, malah konflik antar masyarakat akan semakin menguat, dalam judul yang sama, NKRI. Mereka satu sama lain, akan menjaga NKRI dalam persepsinya masing-masing, Jika hal ini terjadi, maka, konflik horizontal, justru akan semakin nyata. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. education berkata

    Aw, this was an incredibly good post. Finding the time and actual effort to create a very good article… but what can I say… I put things off a whole lot and don’t manage to get nearly anything done.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar