Bergulat dengan Waktu

0 14

Bergulat dengan Waktu. Waktu adalah peluang [Time is Money]. Itulah pepatah bangsa Barat dan Eropa. Kalimat dimaksud, sering pula diterjemhkan dengan waktu adalah uang. Padahal, sebenarnya bukan itu maksud yang sesungguhnya.Yang dimaksud dari kalimat dimaksud adalah, setiap detik dalam putaran waktu, selalu mengandung makna peluang untuk mendapat keberkahan hidup.

Islam melalui al Qur’an, misalnya dalam surat al Asr [103]: 1-3 menyatakan: Demi waktu Ashr, sesungguhnya manusia akan rugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh. Karena itu tidak salah jika disebutkan bahwa detik-detik ini, kita sudah masuk waktu Ashar. Waktu yang dalam term kemanusiaan, menunjukkan tidak lama lagi kegelapan akan datang menyapa manusia.

Siapa yang memiliki waktu? Kita atau Tuhan kita. Yang memiliki waktu ternyata hanya Tuhan. Kita tidak memilikinya. Karena Tuhan yang memiliki waktu, maka, kita hanya diminta untuk memanfaatkannya.  sepanjang hal itu masih tersedia untuk kita nikmati. Memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang produktif, adalah bagian tertentu dalam mensyukuri nikmat Tuhan. Dan siapapun yang mensyukuri nikmat Tuhan, maka, ia akan dilipatgandakan segala nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Ibrahim [14]: 36

Waktu Memiliki Nilai Entrepreneur

Waktu mengandung makna entrepreneurial. Karena itu, dalam perspektif saya, entrepreneur selalu memiliki ruang dan waktu yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah ber-entrepreneur. Entrepreneur selalu menggunakan waktu mereka, membuat proposal- proposal kehidupan untuk dipresentasikan kepada Tuhannya dan kepada siapapun yang membutuhkan ide-ide kreatifnya.

Inilah pemaknaan lain, bagaimana seorang entrepreneur dituntut menggunakan waktu seefisien mungkin, bukan sebanyak mungkin. Entrepreneur dengan demikian, bukan berarti orang yang suka menghabiskan waktunya di tengah jalan untuk kongkow-kongkow, tetapi, mereka yang menyibukkan dirinya untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan dirinya dan masyarakatnya.

Entrepreneur adalah mereka yang memiliki sejumlah rencana untuk digulirkan dan dikerjakan. Mereka adalah kelompok anti kemapanan dari apa yang dia lakukan hari ini. Mereka adalah kelompok yang sadar bahwa Tuhan akan sangat bergantung dari cita-cita hamba-Nya. Para entrepreneur adalah mereka yang sadar, bahwa palu akhir ada pada Tuhannya. Namun palu akhir selalu berpihak pada cita-cita kemanusiaan.

Karena itu, jika ada seseorang yang mengaku beriman, lantas hidupnya gampang menyerah dan “pasrah” pada keadaan yang dia hadapi, sesungguhnya, ia sedang tidak beriman. Sebab, seharusnya ia tidak pernah letih mencari keunggulan yang dijanjikan Tuhan dan hasilnya pasti selalu menguntungkan.

Ia tidak akan menyerah untuk mencari peluang-peluang baru, agar setiap tantangan yang dia hadapi dapat dijamah dengan baik dan ramah. Jika pada saatnya, mereka yang beriman dengan langkah semacam tadi dapat menempati beberapa pos baru dalam perjalanan kehidupannya di muka bumi ini, itulah sebagian proposal yang mungkin Tuhan telah menyetujuinya. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.