Inspirasi Tanpa Batas

Berislam Menurut Ahmad Wahib

0 20

“Yang kucari belum ketemu, dan belum terdapat yaitu Islam menurut Allah pembuatnya. Bagaimana? langsung studi dari qur’an dan sunnah? akan kucoba. Tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri”. [Ahmad Wahib 28 Maret 1969]

Ahmad Wahib. Apa yang diungkapannya merupakan jawaban suasana umat masa ini. Walaupun tidak semuanya, umat saat ini sudah tidak membedakan mana dirinya dan mana Tuhannya.

Karena dikatakan bahwa Tuhan sangat dekat dengan setiap diri manusia, umat saat ini sering mengambil peran Tuhan. Sering berposisi seolah dialah yang tahu segalanya. Padahal menurut Wahib, kedekatan Tuhan tanpa batas antara manusia dengan makhluknya, bukan berarti manusia mengetahui segala kehendak Tuhan.

Ada jarak yang membatasi antara manusia dengan Tuhan. Salah satunya, sebagai makhluk yang terbatas, manusia tidak mungkin mencapai atau mengetahui maksud Tuhan yang tak terbatas.

Hal itu sangat mungkin, karena islam yang Wahib ketahui hanyalah islam menurut, atau islam persektif. Baik itu dari ulama terdahulu seperti Hamka, Muhammad Natsir, Muhammad Abduh, dan sederet ulama-ulama lainnya. Posisi dia hanya menjadi pendengar tentang Islam yang kadang berbeda menurut kyai A dan ulama B.

Karena hal itu, Wahib tidak pernah puas dan cukup mendengar islam yang katanya-katanya. Dia terus mencari dan mencari, sampai ajal menjemput secara tiba-tiba.

Paradigma seperti itu sangat bertolak jika disejajarkan dengan pemikiran yang berkembang saat ini. Sekarang, yang nampak justru sebaliknya. Kalau dulu Wahib selalu tidak puas dengan Islam perspektif sederet para ulama, yang terjadi saat ini seolah cukup puas dengan Islam perspektif satu atau dua jajar ulama saja. Itupun hanya mengikuti saja, jarang di antara muslim yang memilih dan memilah secara tanggung jawab.

Saat ini, kebanyakan umat tidak mau dan tidak mau tahu bagaimana islam dalam persfektif yang lain. Padahal, kalau saja mencoba mengetahui alur pemikiran islam yang lain dipastikan bertemu dengan pemahaman dan ilmu baru. Dengan itu, setidaknya bisa menentukan suatu pemahaman yang juga baru.

Artinya, dengan pemahaman barunya itu, seseorang atau kelompok bisa bertindak dengan banyak pertimbangan. Sikap sewenang-wenang yang sering terjadi, dipastikan bisa diminimalisir.

Karena itu, khusus anak muda, sekiranya penting menengok kembali sang pencari yang tak pernah puas itu. Melihat kembali sang pemberontak dari Madura yang tak mengenal lelah itu. Mari kenali Ahmad Wahib.

Semasa hidupnya, dia terus mencari islam menurut pembuatnya, yaitu Allah. Menurut dia, kalau islam menurut Allah sudah ditemukan, tidak akan ada keraguan sedikitpun untuk bersikap dan bertindak.

Tetapi dia galau, karena kemampuan mencapai posisi itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia. Bagi Wahib, dimanapun belajar dan siapapun gurunya, manusia tidak akan bisa menemukan islam menurut sebenar-benarnya Allah.

Alasannya, selain karena manusia makhluk terbatas sementara Allah tidak terbatas, dengan kembali merujuk membaca qur’an dan sunnahpun, orang lain akan tetap menilai bahwa itu islam menurut si pemikir tersebut. Bukan islam menurut Allah.

Adapun dulu pernah ada nabi dan rosul sebagai pemegang otoritas dalam menyampaikan ajaran islam, saat ini mereka sudah tidak ada. Nabi Muhammad sebagai penafsir tunggal yang terpercaya, kini sudah meninggalkan umatnya. Belasan abad sampai saat ini, islam yang ada tidak lagi murni persfektif nabi, melainkan telah melewati puluhan bahkan ratusan kepala ulama penafsir dan pembaharu. Alih-alih bisa menemukan islam menurut Allah, menemukan islam menurut Nabi Muhammad pun sangat kecil kemungkinannya.

Ini bukan menghilangkan posisi ulama dan para penafsir dari kemuliaannya sebagai pewaris nabi, melainkan secara manusiawi saja, setiap informasi yang mengalir dari A ke B, ke C, ke D, dan seterusnya selama berabad-abad, dipastikan tidak selamanya utuh dan bulat. Pasti ada saja potongan informasi, baik yang disengaja atau tidak seuai kondisinya masing-masing.

Karena hal itu, ketika saat ini ada tindakan yang mengatasnamakan Tuhan atau kehendak Allah, hal itu sangat mustahil dan tindak mungkin. Bagi Wahib, sebagaimanapun dalamnya memaknai quran dan sunnah, islam yang dipahami tetap menurut dirinya sendiri. Dan inipun hanya bisa diyakini sebagai kebenaran bagi dirinya sendiri. Tidak bisa dipaksa untuk menghakimi orang lain.

Ahmad Wahib lahir di Sampang Madura pada tanggal 9 November 1942. Dia wafat di Jakarta pada tanggal 31 Maret 1973. Usianya tergolong pendek, ia hanya menikmati hidup sekitar kurang lebih 31 tahun. Wallahu a’lam***Pandi Sopandi


pandi-sopandiTentang Penulis

Pandi Sopandi Atau yang lebih di kenal dengan panggilan Ceng Pandi, Lahir di Kuningan, 20 Mei 1989. Sosok yang aktif berorganisasi selama menjadi mahasiswa ini, membawa penulis terlibat sebagai pemerhati sosial, cultur dan budaya. Kini penulis bekerja di sebuah media di Kota Cirebon dan Anggota aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DPD Kuningan.

Komentar
Memuat...