Berjuang Meskipun Kecil dalam Membela Kebenaran Part-2

0 27

Ada cerita menarik, di balik kisah dibakarnya Nabi Ibrahim alaihi sallam  oleh Raja Namrud. Kisah ini, menurut Atlas al Qur’an diperkirakan terjadi sekitar 8000 tahun yang lalu. Dalam peristiwa ini, terdapat hikayat burung pipit dan seekor cicak dalam melakukan pembelaan terhadap apa yang disebut dengan kebenaran. Beginilah ceritanya:

Ketika api mulai membesar saat proses pembakaran Ibrahim berlangsung, seekor burung pipit dikisahkan mondar mandir mengangkut air lewat paruhnya yang sangat kecil. Maklum burung pipit adalah termasuk di antara jenis burung yang kecil jika dibandingkan dengan burung yang lain.

Melalui paruh burung pipit itulah, air itu diteteska ke kobaran api yang terus menjalak. Ketika airnya sudah habis, burung itu balik lagi ketempatnya untuk kembali mengambil air. Terus bolak balik mengambil air dan menuangkannya ke dalam kobaran api. Harapan burung pipit itu tentu besar tak sekecil paruhnya. Ia ingin melalui tetesan air itu, dapat mengurangi kobaran api saat membakar Ibrahim.

Dikisahkan pula bahwa di bawah dekat kobaran api itu, seekor cicak terus memperhatikan apa yang dilakukan burung pipit itu. Sambil tetap meniupkan udara dangan menjulurkan lidahnya dengan maksud agar kobaran api semakin tambah besar. Para cicak berkata: wahai burung pipit, alangkah bodohnya apa yang kau lakukan. Mana mungkin air yang kau teteskan itu, dapat memadamkan kobaran api yang demikian menjalak.

Apa jawaban burung pipit atas ejekan cicak itu. Ia menjawab, sungguh cerdas,  wahai cicak. Betul apa yg kulakukan tidak bisa mengurangi kobaran api apalagi memadamkannya. Sama seperti yang kau kakukan tentu tidak dapat membuat api semakin membesar. Tapi Allah akan mencatat, dimanakah aku berpihak. Demikian juga engkau cicak, tiupan udara yang kau hembuskan meskipun tidak bisa menambah kobaran api, tapi, tindakanmu pasti juga akan dicatat kepada siapakah engkau berpihak.

Hikmah di Balik Kisah

Pelajaran terbaik dari kisah di atas, terlepas benar tidaknya ada hikayat demikian, karenanya tidak mungkin didekati dalam pendekatan ilmu, namun kisah ini syarat dengan pesan moral. Kisah ini menggambarkan bahwa bukan hasil akhir yang. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah proses dan ikhtiyar serta perjuangn dalam menegakkan kebenaran. Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd –Kandidat Doktor UPI Bandung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.