Inspirasi Tanpa Batas

Bermalam di Rumah Sakit | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 25

Bermalam di Rumah Sakit | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 25
1 97

Bermalam di Rumah Sakit. Setelah sampai di maktab, Shofi sakit keras. Nafasnya sangat berat dan hampir sulit bernafas. Tubuhnya banyak mengeluarkan bercak biru. Matanya sudah sangat sayu. Dokter yang disediakan pihak pemerintah Republik Indonesia yang disimpan di setiap kloter penerbangan, angkat tangan. Ia malah menyarankan agar Shofi dirawat saja di rumah sakit. Sabil berkelakar, dokter berkata: Haji Shofi hanya sembuh kalau paru-parunya diganti.

Tentu saja Crhonos kaget. Ia bingung terlebih memikirkan bagaimana perasaan ibunya. Sementara petugas haji, semua sedang berada dalam tingkat kelelahan yang luar biasa. Ia maklum akan situasi seperti itu. Karenanya, ia tidak lagi memperdulikan bantuan dari pihak manapun. Ia pasrah dan menyerah. Ia memutuskan untuk berjalan sendiri. Ia ngebel ke pelayanan haji. Akhirnya, ia diberi alamat yang jarak rumah sakit dengan maktab dimaksud, kurang lebih lima kilo meter.

Crhonos berencana mau naik taxi. Ia tentu hanya dengan Shofi berangkat ke rumah sakit dimaksud. Ia bilang sama ibunya, tolong tinggal saja di Maktab. Ibu ditemani sama Vetra. Jangan khawatir. Bapak insya Allah dalam keadaan baik-baik saja. Biarkan kami yang ke sana berdua. Do’an saja supaya kita selalu berada dalam segenap kebaikan. Insya Allah, Tuhan akan menjaga kita semua.

Crhonos-pun bilang sama Vetra agar berkenan menjaga ibunya dengan baik. Ada kewajiban yang jauh lebih penting dibandingkan dengan hanya wukuf, thawaf ifadhah atau sa’i. Kewajiban itu adalah menjaga rasa senang dan rasa bahagia yang dimiliki orang tua kita. Kita pasrah saja pada Tuhan. Apa kehendak-Nya kita syukuri. Tetapi, jika anda berhasil membuat ibu merasa dalam keadaan tenang dan senang, insya Allah, Tuhan akan selalu menjaga kita dalam segenap kesenangan juga.

Ia turun dari Maktab lantai IV. Ia yang memperoleh mandat untuk tidak menoleh ke belakang, berlalu dengan pelan. Sementara itu, Shofi tampak sangat menggigil kediningan. Ia dibalutkan berbagai pakaian yang cukup tebal. Tetapi, gigilan tubuh Shofi tetap nggak bisa ditahan. Dengan menuruni eskalator, sampailah keduanya di ruang resepsionis maktab. Taxi-pun datang. Akhirnya mereka berlalu meninggalkan hotel [maktab].

Selimut Tebal Rumah Sakit

Sampailah Shofi dan anaknya di Rumah Sakit Ajyad Emergency Hospital. Pelayanan di rumah sakit ini sangat bagus. Semula Crhonos menggunakan bahasa Arab saat sampai di bagian resepsionis rumah sakit. Kalau di Indonesia mungkin Unit Gawat Darurat [UGD]. Tetapi, ternyata banyak sekali di antara pelayan dan bahkan dokter yang tampaknya khusus disediakan untuk kepentingan haji. Karena itu, tidak heran jika dokter-pun banyak yang berasal dari Indonesia, atau petugas haji Indonesia. Akhirnya, iapun berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

Setelah diperiksa, Shofi didorong suster masuk ke ruang ICU. Ruangan itu sangat lebar dan besar. Pasien memiliki satu ruang. Pantulan AC di runagan itu sangat dingin. Berbagai kabel dibalutkan ke dalam tubuhnya. Terlebih tentu Tabung Oksigen yang berfungsi menambah oksigen karena Shofi dianggap kekurangan oksigen.

Setelah itu, mulutnya dibalut dengan Nebulizer. Alat ini berfungsi untuk terapi bagi penderita asma dan penyakit pernapasan lainnya yang cukup akut. Nebulizer dianggap mampu merubah obat cair menjadi kabut, sehingga mudah diserap dan hirup jauh ke dalam paru paru. Terapi untuk mereka yang menderita penyakit pernapasan berat, terapi dengan alat ini dianggap cukup efektif membantu.

Ketika alat ini dipandang tidak lagi cukup mempan, beberapa jam lamanya, dokter di rumah sakit itu kemudian membalutkan Trakeostomi. Ini adalah alat terakhir yakni tindakan pembuatan lubang pada dinding trakea. Fungsinya agar udara dapat masuk ke paru paru melalui lubang udara bagian atas. Pembuatan lubang untuk bantuan pernapasan ini biasanya dilakukan pada pasien dengan penderita dipteri akut yang telah menyebabkan tersumbatnya saluran pernapasan. Saat itu, Crhonos yang sedang menjadi salah satu pejabat di Pendidikan Tinggi bidang Farmakologi sadar, bahwa apa yang menimpa bapaknya,berada dalam pilihan yang cukup dilematik.

Meski dengan tingkat kelelahan yang sangat tinggi, Crhonos tak kuasa untuk tidak menyaksikan deretan grafik yang dipantulkan komputer di pinggir Shofi. Meski Shopi-pun tampak tidur dengan pulas, Crhonos tetap tak mampu tidur. Ia kemudian menyelitmuti seluruh tubuh Shofi dengan apapun yang terdapat di ruangan itu. Waktu terus berjalan sampai kemudian, sudah melewati tengah malam.

Setelah dipastikan Shofi dalam tidur yang cukup baik, Crhonos akhirnya memilih tidur di lantai. Langkah ini dilakukan, kalau terjadi apa-apa, ia tidak kesulitan untuk memantau bapaknya.

Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah
Untuk membaca Part lainnya klik gambar ini

Mimpi yang Menakutkan

Saat Crhonos tidur dalam kelelahan yang cukup akut, ia bermimpi melihat burung raksasa mengambil tubuh Shofi. Shofi tak kuasa berontak. Ia tidak memiliki energi untuk melawan burung raksasa dimaksud. Shofi juga tidak meminta bantuan pada siapapun. Ia kelihatan sangat pasrah.Namun saat burung itu terbang, entah mengapa, Crhonos juga mampu terbang. Ia mengejar burung itu dan menangkapnya dengan kuat. Saat proses pengambil alihan itu, Shofi berkata dalam mimpi Crhonos:

“Anakku … biarlah aku terbang. Aku tak lagi kuasa menahan ajakan untuk terbang. Aku ingin pulang ke kampung halaman kita. Suatu saat, kamu juga akan pulang. Aku titip agar kamu tetap shalat lima waktu. Jangan lupa mengabdi kepada sesama manusia. Jujur selalu dalam setiap tindakan. Dan kejujuran yang paling sulit ditunaikan adalah jujur pada diri sendiri.

Crhonos menjawab. Jangan pulang dulu. Bapak belum melaksanakan thawaf wada. Nggak sempurna lho hajinya. Nanti ibu marah sama saya. Apa yang harus saya sampaikan kepada ibuku dan keluarga kita, kalau ternyata bapak diketahui belum haji wada. Shofi kemudian diam dan meneteskan air mata … lalu ia terjatuh dari sergapan burung. Crhonos menangkapnya dengan tangkas dan memeluknya dengan erat.

Lalu ia bangun … ia segera duduk dan beristighfar. Ia segera melihat Shofi dan ternyata Shofi sedang bangun. Ia meminta anaknya untuk membuka Nebulizer dari mulutnya. Kemudian dia berkata: Kamu sudah shalat isya belum? Crhonos menggelengkan kepala. Shalat dulu kamu ya …! Bapak tadi sudah shalat … kemudian dia meminta untuk kembali memasangkan Nebulizer ke mulutnya. Crhonospun akhirnya shalat isya dengan linangan air mata yang terus menetes dengan deras.

Akhirnya Pulang ke Maktab

Dua malam, Shofi dan anaknya tinggal di ICU rumah sakit. Ia akhirnya didizinkan pulang oleh dokter. Shofi sendiri sudah merasa sangat baikan, bahkan terasa lebih baik dibandingkan dengan ketika akan berangkat ke Mekkah.Sebelum beranjak turun dari kasur rumah sakit, Shofi berkata:

Bahagialah kita. Insyaallah kita berada dalam kemenangan. Terima kasih anakku. Kau telah menemaniku di sini. Sejujurnya aku sangat takut berada di sini. Sekedar mendengar suara srine ambulan saja, aku sudah sangat takut. Karena kamulah, aku merasa bahwa setitik ketakutan itu terurai. Crhonos hanya bilang ya sudahlah pak … yang penting, bapak memang benar-benar berada dalam segenap kebaikan.

Shofi dan anaknya akhirnya kembali ke Maktab. Keduanya menunggangi taxi. Sampailah akhirnya ke Maktab dan bertemu dengan segenap rombongan haji. Tentu yang tampak sangat bahagia adalah Siti dan Vetra. Keduanya kelihatan begitu bahagia menyaksikan dua lak-laki itu sudah pulang.

Setumpuk obat dibawa Crhonos untuk kesehatan Shofi. Ia memberikannya kepada Vetra untuk memperhatikan perintah dokter. Shofi dilarang untuk banyak beraktivitas. Ia dasarnakn agar tetap istirahat dan terus memakan obat. Jangan sampai ada jadwal waktu minum obat yang terlewat. Akhirnya, mereka kembali bahagia karena dapat menikmati indahnya hidup dalam suasana penuh kesehatan. By. Charly Siera –bersambung–

Komentar
Memuat...